Posted by: yohanestantama | July 8, 2011

Jadikan Aku Pembawa Damai, doa St. Fransiskus dari Asisi

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian,
jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan,
jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan,
jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan,
jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan,
jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,
memahami dari pada dipahami,
mencintai dari pada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi,
untuk hidup selama-lamanya.

Posted by: yohanestantama | July 8, 2011

Thank You Jesus, I am Home

Kisah berikut dikutip dari www.katolisitas.org, semoga bisa menguatkan iman kita sebagai orang katolik tetapi tetap menghargai saudara kita digereja yang lain, karena kebesaran jiwa adalah bukti iman yang bertumbuh (Yohanes Tantama)

Berikut ini adalah kesaksian Maria Natalia Brownell (Lia), seorang Katolik yang pernah meninggalkan Gereja Katolik selama 6 tahun, sebelum akhirnya ‘kembali pulang’ ke pangkuan Gereja Katolik. Kesaksiannya sungguh sangat menggugah hati, sebab mungkin banyak dari kita yang mengalami pengalaman serupa. Perjalanan hidupnya membuktikan bahwa jika kita mencari Tuhan dengan segenap hati, maka Dia akan memberi DiriNya ditemukan (Yer 29:13-14). Dan dengan indahnya, Lia kembali menemukan kepenuhan kebenaran Tuhan di dalam Gereja Katolik.

Sekilas mengenai saya

Nama saya adalah Maria Natalia Brownell (nama saya sebelum menikah: Maria Natalia Budiman). Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik. Sedari kecil, saya sudah tertarik untuk aktif di gereja Katolik. Saya sering ikut koor gereja, menjadi pengantar, dan cukup aktif di kegiatan Mudika. Walaupun demikian, kegiatan yang saya ikuti jarang yang bersifat pendalaman iman. Di sekolah Katolik, memang saya mendapat pelajaran agama Katolik, tetapi sifatnya sangat mendasar. Misalnya, saya tidak pernah diajar untuk membaca dan mengerti alkitab, saya kurang mengerti akan pentingnya doa dan devosi terhadap bunda Maria dan santo/santa, banyak hal di perayaan Misa kudus yang bagi saya adalah ritualitas biasa (tanpa mengerti akan artinya). Kurangnya pengertian saya terhadap iman Katolik membuat saya pergi ke gereja Katolik hanya karena ‘memang begitulah seharusnya’, bukan karena didasarkan atas motivasi hati dan keinginan saya untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Waktu saya di SMA, saya bertanya-tanya terhadap diri saya sendiri. Sepertinya semua orang itu melalui pola hidup yang sama: sekolah, bekerja, menikah, berkeluarga, pensiun, lalu meninggal. Sepertinya sangat monoton dan membosankan. Saya lalu bertanya, apakah ada arti kehidupan yang lebih dalam daripada hanya mengikuti pola yang monoton begitu saja? Kenapa Tuhan menghendaki saya untuk hidup di dunia ini? Saya berharap suatu saat saya dapat menjawab pertanyaan ini…

Kegiatan saya sewaktu di SMA sangat banyak, terutama di kelas III karena persiapan untuk masuk Universitas. Waktu itu, saya ingin sekali bersekolah di luar negeri. Walaupun mulanya berat bagi orang tua saya mengijinkan anak perempuan satu-satunya untuk pergi ke luar negeri pada umur 17 tahun, mereka akhirnya mengijinkan saya pergi juga. Waktu itu $1 masih seharga Rp 2000, tidak semahal sekarang. Walaupun mereka hanya bisa menjanjikan untuk menyekolahkan saya selama 2 tahun pertama, saya tetap nekat untuk pergi. Saya memutuskan untuk mengambil bidang Tehnik Kimia di Oregon State University, Amerika. Satu tahun kemudian, saya pindah ke University of Wisconsin, Madison, Wisconsin.

Kehidupan saya di Amerika

Di Madison, Universitasnya besar sekali, dan jauh lebih sulit daripada di Oregon. Untungnya banyak anak Indonesia yang bersekolah di sana. Saya mencoba untuk lebih ikut aktif di kegiatan Mudika. Alasan utamanya adalah karena ingin mendalami iman saya lebih lanjut. Jauh dari keluarga membuat saya lebih terpanggil untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Di Mudika, saya mengusulkan untuk belajar Alkitab, tetapi anak-anak Mudika semuanya protes. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah capai belajar selama seminggu, dan mereka hanya mau berkumpul untuk bersosialisasi saja. Belajar Alkitab sifatnya terlalu serius. Walaupun tidak setuju, saya diam saja dan tidak memaksakan kehendak saya. Saya merasa seperti minoritas di kelompok Mudika itu, walaupun kita pergi ke gereja yang sama.

selengkapnya di :

http://katolisitas.org/2008/11/08/thank-you-jesus-i-am-home/

Posted by: yohanestantama | July 6, 2011

Mencicipi Keindahan Hati Kudus Yesus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENCICIPI  KEINDAHAN  HATI  KUDUS  YESUS

 

Kasih Tuhan yang terbuka bagi siapapun yang datang memberi kelegaan dan kedamaian hati itu ditangkap oleh Pater Jules Chevalier, pendiri Misionaris Hati Kudus Yesus. Pada waktu itu, di Prancis terjadi indifferentism (acuh tak acuh)  serta apatisme. Ini adalah penyakit zaman yang bisa menggerogoti umat manusia. Orang menjadi kehilangan harapan dan  ada rasa tidak percaya lagi kepada orang lain serta rasa cinta dan perhatian mulai pudar.  Menghadapi situasi yang begitu berat pada zamannya, pastor muda itu berusaha menemukan obat yang mujarab yang bisa menyembuhkan. Obat itu tidak lain dan tidak bukan adalah kasih Tuhan itu sendiri, yang nyata dalam Hati Kudus Yesus yang senantiasa terbuka terhadap manusia yang membutuhkan kelegaan.

Permenungan tentang  Hati Yesus yang tertikam dengan tombak dan lukanya yang memancarkan air dan darah menjadikan kita semakin sadar betapa besar cinta Tuhan kepada semua orang. Bahkan bila kita sering menyeleweng dan lari dari padanya, Dia tetap mencintai kita. Tuhan tetap dengan hati terbuka menantikan kita kembali. Dalam hati-Nya, kita temukan kesegaran, kehidupan dan kedamaian, terlebih bila kita sedang mengalami pergolakan  hidup yang berat.

Melalui penghayatan tentang cinta Hati Yesus itu, kita dimampukan untuk mencintai sesama seperti yang diajarkan Tuhan kepada kita.  Tetapi untuk bersikap seperti yang diajarkan oleh Yesus, sering mengalami kendala. Egosentrisme lebih kuat sehingga ada ketidakharmonisan di kedalaman diri. Di sinilah muncul penyakit zaman. Dalam kehidupan harian sering kita alami bagaimana penyakit zaman itu menggeroti umat manusia.

Kasih yang Memudar

Penyakit zaman ini dapat digambarkan dalam kisah sebagai berikut. Dikisahkan ada seorang suami yang memiliki keinginan luhur untuk memiliki rumah sendiri. Maka, diputuskannya untuk membeli rumah dengan cara mencicil selama lima belas  tahun. Jadi, setiap hari, yang menjadi fokus utama dari sang suami itu ialah bagaimana mendapatkan uang untuk menyetor setiap bulannya. Pada waktu itu, ibunya mempunyai keinginan untuk ziarah ke Poh Sarang – Kediri, tetapi anaknya berkata, “Sabar ya bu, saat ini belum bisa karena cicilan rumah lebih penting. Nanti kalau lunas, ibu akan saya hantar keliling dunia.” Tetapi sangat disayangkan  karena sang ibu meninggal dan tidak pernah menikmati peziarahannya.

Giliran sang istri untuk meminta suaminya supaya ada waktu untuk sejenak bersantai dengan keluarga makan di luar. Tetapi sang suami berkata, “Ma, marilah kita berhemat dulu. Kita kencangkan ikat pinggang kita demi lunasnya pembayaran rumah impian kita. Sang anak pun dalam tingkah lakunya merindukan seorang ayah yang ramah dan penuh perhatian, tetapi memang benar bahwa  sang ayah sibuk mencari uang.

Lima belas tahun telah berlalu dan sertifikat rumah sudah di tangan serta rumah sudah menjadi miliknya. Namun  sang suami kini telah menjadi orang yang paling kesepian di dunia. Ibunya yang ia cintai telah meninggal dunia dan istrinya menjadi orang yang murung-murung karena kurang mendapatkan perhatian dan cinta dari suaminya.

Begitulah kira-kira “penyakit zaman” saat ini. Kita berkelimpahan harta dan informasi datang tiada henti-hentinya serta kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia begitu beragam, tetapi  hati hampa dan hidup tidak bermakna. Apa yang kita alami ialah merasa tidak pernah puas dengan apa yang telah disediakan oleh dunia. Ini seperti orang yang minum air laut. Semakin meminum air itu, maka makin hauslah orang tersebut.   Obat dari kehampaan hidup dan  merasa tidak berharga serta merasa terasing dengan diri sendiri ada dalam bathin itu sendiri.

Tawaran-Tawaran Yang Menjauhkan Diri dari Hati Kudus

Tanpa kita sadari, kemajuan tehnologi begitu menguasai dunia. Terkadang, kemajuan tehnologi malahan menjerumuskan kehidupan manusia kepada lembah dosa. Hubungan yang harmonis dalam keluarga bisa runyam dan keakraban mulai luntur. Hidup relasi dalam rumah tangga menjadi hampa, sehingga muncul kejenuhan serta kesepian di tengah-tengah hingar-bingarnya keramaian kota. Sebagai contoh, pernah suatu kali saya makan bersama dengan sebuah  keluarga di salah satu restoran. Setelah pesan makanan, tidak lama kemudian, satu per satu orang-orang mengeluarkan Hand Phone dan mulailah “berkomunikasi” dengan orang di luar restoran. Suasana kekeluargaan yang seharusnya diisi dengan sharing, diganti dengan menyentuh tuts-tuts dan melihat monitor mini Hand Phone.  Di sana tidak ada komunikasi.

Pengorbanan yang seharusnya tercipta dalam keluarga menjadi mahal harganya. Suasana akrab, gembira, saling mendengarkan dalam perjamuan keluarga itu mencerminkan bahwa di sanalah ada pengorbanan dan saling mendahulukan satu dengan yang lainnya tidak  terjadi. Peristiwa yang penuh makna tersebut menjadi kering karena kurangnya komunikasi di antara mereka.

Praktek Memandang Hati Kudus sebagai Prioritas

Dalam hidup ini, kita setiap saat diperhadapkan dengan pelbagai pilihan. Pilihan-pilihan tersebut kadang terasa berat sehingga membuat hidup tak tertahankan. Bahkan kalau diperhadapkan kepada pilihan-pilihan, selalu ada saja “alasan” untuk  menghindar dari “kewajiban” tersebut. Hati Kudus Yesus akan semakin terluka, jika  kita menjatuhkan pilihan yang menguntungkan diri sendiri dan merugikan sesama.

Ada seorang pastor mempunyai pengalaman menarik berkenaan dengan penghayatan Hati Kudus. Sebagai pastor, ia sudah mengucapkan kaul ketaatan kepada atasannya. Maka, ketika harus pindah tugas, dirinya harus mengemban tugas yang baru, meskipun belum tahu apa yang akan terjadi di tempat tugas yang baru tersebut. Ketika hendak memulai tugas ada beberapa peristiwa  yang perlu direnungkan.

Bahasa Inggris untuk Hati adalah core. Maka Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus, diterjemahkan dari bahasa Latin, “Missionaris Sacratissimum Cor Iesu. Pastor itu dalam merenungkan yang dialami membandingkan dengan dua istilah Inggris, peripheral dan core. Kalau kita mengambil satu buah kelapa, dan kita  mulai kupas,  mula-mula di bagian paling luar kulit yang kuat dan tipis. Lapisan kulit yang kedua disebut serabut, dan lapisan kulit yang berikut adalah tempurung. Semua kulit itu sampai dengan tempurung disebut dalam bahasa Inggris, peripheral. Sedang dagingnya disebut “core”. Kata core itu berasal dari kata Latin, Cor yang berarti hati.  Dalam penugasan yang baru, pastor itu berusaha menemukan “core”. Pertama ia harus mengupas peripheral. Peripheral yang pertama ialah, lebih enak berkarya di paroki kota  daripada bekerja di paroki pedalaman. Kupasan peripheral yang kedua  adalah sulitnya mempelajari bahasa baru di paroki pedalaman. Kupasan yang terakhir adalah akan merasa kesepian berada di pastoral, lalu mulai berkunjung ke rumah tertentu di mana ada gadis yang menarik. Peripheral  ini yang berat dan tidak sanggup mengupas sendiri. Maka ia menulis surat kepada Pimpinan Tarekat secara terus-terang, sehingga memudahkan pengolahan batinnya. Setelah dengan penuh perjuangan, dibantu oleh banyak pihak, ditemukanlah core (Materi Retret bagi para MSC di Merauke tahun 2009 oleh P. J. Mengko MSC)

Keputusan itu menjadi murni setelah diperhadapkan dengan pelbagai kesulitan dan tantangan. Kesadaran penerimaan akan tugas dan tanggung jawab yang dikontemplasikan kepada Hati Kudus Yesus yang tertusuk dengan tombak membuat diri kita menjadi berani menderita seperti  Kristus. Seperti yang ditulis oleh Yohanes, “Tetapi seorang prajurit menusuk lambung Yesus dengan tombak dan keluarlah darah dan air” (Yoh. 19:31-37).  Dengan demikian, tugas pekerjaan yang dilakukan pastor tersebut tidak datang dari kekuatannya sendiri, melainkan kepasrahan total kepada Hati Kudus Yesus.

Kualitas-Kualitas Pelayanan yang Diresapi  Semangat  Hati Kudus Yesus

Menghayati Hati Kudus yang tertikam dan terluka di kayu salib akan berpengaruh bagi pelayanan. Pengorbanan menjadi dasar bagi sebuah pelayanan. Seluruh kehidupan Yesus adalah suatu pengorbanan yang total demi keselamatan umat manusia. Pelayanan menjadi berkualitas karena adanya  kesadaran bahwa segala yang dikerjakan itu sebagai penghayatan akan Hati Kudus yang rela mengorbankan diri.

Tugas pelayanan  seorang pastor dalam hidupnya berpaut  pada ketaatan, kemurnian dan kemiskinan mengacu kepada semangat Hati Kudus Yesus. Betapa pun berat tugas pelayanan di daerah pedalaman yang serba minim, akan dirasa sebagai pengalaman yang indah karena bisa seperasaan dan seperasaan dengan Hati Kudus sendiri.

“Selamat Merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus”

Kantor “Percikan Hati” 1 Juli 2011

Skolastikat MSC
Jln. Raya Manado – Tomohon  KM. 9
Pineleng – MANADO
Sulawesi Utara  95361
Markus Marlon msc

Posted by: yohanestantama | June 19, 2011

Dari Katekismus Gereja Katolik Mengenai Tritunggal Mahakudus

III. Tritunggal Mahakudus dalam Ajaran Iman

Pembentukan Dogma tentang Trinitas

249 Kebenaran wahyu mengenai Tritunggal Mahakudus, sejak awal adalah dasar pokok iman Gereja yang hidup, terutama karena Pembaptisan. Ia terungkap dalam syahadat Pembaptisan yang dirumuskan dalam khotbah, katekese, dan doa Gereja. Rumusan-rumusan yang demikian itu sudah ada dalam tulisan-tulisan para Rasul, seperti salam yang diambil alih ke dalam perayaan Ekaristi: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor 13:13)2.

250 Selama abad-abad pertama Gereja berusaha merumuskan iman Tritunggal dengan lebih rinci, untuk memperdalam pengertian iman dan untuk membelanya melawan ajaran yang menyesatkan. Itulah karya konsili-konsili pertama yang ditopang oleh karya teologis dari para bapa Gereja dan didukung oleh kesadaran iman umat Kristen.

251 Untuk merumuskan dogma Tritunggal, Gereja harus mengembangkan terminologi yang tepat dengan bantuan istilah-istilah filsafat – “substansi”, “pribadi” atau “hupostasis”, “hubungan”. Dengan demikian ia tidak menaklukkan iman kepada kebijaksanaan manusiawi, tetapi memberi kepada istilah-istilah itu satu arti baru yang belum diketahui sebelumnya, sehingga mereka mampu mengungkapkan misteri yang tak terucapkan itu, yang “jauh melampaui segala sesuatu yang kita mengerti dengan cara manusiawi” (SPF 2).

252 Gereja mempergunakan gagasan “substansi” (kadang-kadang diterjemahkan juga dengan “hakikat” atau “kodrat”) untuk menyatakan kodrat ilahi dalam kesatuannya; gagasan “pribadi” atau “hupostasis” untuk menyatakan Bapa, Putera, dan Roh Kudus dalam perbedaan-Nya yang real satu dari yang lain; gagasan “hubungan” untuk mengatakan bahwa perbedaannya terletak dalam hubungan timbal balik antara ketiganya

Dogma tentang Tritunggal Mahakudus

253 Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: “Tritunggal yang sehakikat” (Konsili Konstantinopel 1155: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat” (Sinode Toledo XI 675: DS 530). “Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi” (K. Lateran IV 1215: DS 804).

254 Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian” (Fides Damasi: DS 71). “Bapa”, “Putera”, “Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: “Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera” (Sin. Toledo XI 675: DS 530). Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan” (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.

255 Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: “Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita” (Sin.Toledo XI 675: DS 528). Dalam mereka “segala-galanya… satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan” (K. Firenze 1442: DS 1330). “Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera” (ibid., DS 1331

256 Santo Gregorius dari Nasiansa, yang dinamakan juga “sang teolog”, menyampaikan rumusan berikut tentang iman Tritunggal kepada para katekumen Konstantinopel:
“Peliharalah terutama warisan yang baik ini, untuknya aku hidup dan berjuang, dengannya Aku mau mati dan yang menyanggupkan aku memikul segala kemalangan dan menolak segala hiburan: ialah pengakuan iman akan Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Aku mempercayakannya hari ini kepada kalian. Di dalam pengakuan itu aku akan mencelupkan kamu pada saat ini ke dalam air dan mengangkat kembali dari dalamnya. Aku memberikan pengakuan itu kepada kalian sebagai pendamping dan pengawal seluruh kehidupan kalian. Aku memberikan kepada kalian ke-Allah-an dan kekuasaan yang satu, yang sebagai satu berada dalam tiga dan mencakup Ketiga itu atas cara yang berbeda-beda. Satu ke-Allahan tanpa ketidaksamaan menurut substansi atau hakikat, tanpa derajat lebih tinggi yang meninggikan atau derajat lebih rendah yang merendahkan … Itulah kesamaan hakikat yang tidak terbatas dari Ketiga yang tidak terbatas. Allah seluruhnya, tiap-tiapnya dilihat dalam diri sendiri … Allah sebagai yang tiga dilihat bersama-sama … Baru saja aku mulai memikirkan kesatuan, muncullah sudah Tritunggal dalam kemegahan-Nya. Baru saja aku mulai memikirkan Tritungggal, langsung saya disilaukan kesatuan” (or. 40, 41).

IV Karya-karya Allah dan Pengutusan-pengutusan Trinitaris

257 “O Cahaya yang membahagiakan, Tritunggal dan Kesatuan asli” (LH Madah “O lux beata, Trinitas”). Allah adalah kebahagiaan abadi, kehidupan yang tidak dapat mati, cahaya yang tidak …pernah pudar. Allah adalah cinta: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Karena kehendak bebas, Allah hendak menyampaikan kemuliaan kehidupan-Nya yang bahagia. Inilah “keputusan belas kasihan”, yang telah Ia ambil dalam Putera kekasih-Nya sebelum penciptaan dunia. “Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya” (Ef 1:5), artinya “menjadi serupa dengan gambaran anak-Nya” (Rm 8:29), berkat “Roh yang menjadikan kamu anak Allah” (Rm 8:15). Rencana ini adalah “kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita sebelum permulaan zaman” (2 Tim 1:9) dan yang langsung berasal dari cinta trinitaris. Rencana itu dilaksanakan dalam karya penciptaan, dalam seluruh sejarah keselamatan setelah manusia berdosa, dalam pengutusan-pengutusan Putera dan Roh Kudus yang dilanjutkan dalam pengutusan Gereja.

258 Seluruh karya ilahi adalah karya bersama ketiga Pribadi ilahi. Sebagaimana Tritunggal mempunyai kodrat yang satu dan sama, demikian juga Ia hanya memiliki kegiatan yang satu dan sama. “Bapa, Putera, dan Roh Kudus bukanlah tiga pangkal ciptaan, melainkan satu pangkal” (Konsili Firense 1442: DS 1331). Walaupun demikian, `tiap Pribadi ilahi melaksanakan karya bersama itu sesuai dengan kekhususan Pribadi. Seturut Perjanjian Baru Gereja mengakui: “Satu Allah dan Bapa, dari-Nya segala sesuatu, satu Tuhan Yesus Kristus, oleh-Nya segala sesuatu, dan satu Roh Kudus, di dalam-Nya segala sesuatu berada” (Konsili Konstantinopel 11553: DS 421). Terutama pengutusan-pengutusan ilahi, penjelmaan menjadi manusia dan pemberian Roh Kudus menyatakan kekhususan Pribadi-pribadi ilahi itu.

259 Sebagai karya yang serentak bersama dan pribadi, maka kegiatan ilahi menyatakan, baik kekhususan Pribadi-pribadi maupun kodrat-Nya yang satu. Karena itu, seluruh kehidupan Kristen berada dalam persekutuan dengan tiap Pribadi ilahi, tanpa memisah-misahkan mereka. Siapa yang memuja Bapa, melakukannya melalui Putera dalam Roh Kudus; siapa yang mengikuti Kristus, melakukannya karena Bapa menariknya dan Roh menggerakkannya.

260 Tujuan akhir seluruh kegiatan ilahi ialah penerimaan makhluk ciptaan ke dalam persatuan sempurna dengan Tritunggal yang bahagia. Tetapi sejak sekarang ini kita sudah dipanggil untuk menjadi tempat tinggal Tritunggal Mahakudus. Tuhan mengatakan: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

“O Allahku, Tritunggal, yang aku sembah, bantulah aku, melupakan diri sehabis-habisnya, supaya tertanam di dalam Engkau, tidak tergoyangkan dan tenteram, seakan-akan jiwaku sudah bermukim dalam keabadian. Semoga tak sesuatu pun dapat mengganggu kedamaianku, membujuk aku keluar dari Dikau, O Engkau yang tidak dapat berubah; semoga setiap saat Engkau membawa aku masuk lebih jauh ke dalam dasar rahasia-Mu. Puaskanlah jiwaku, bentuklah surga-Mu darinya, tempat tinggal-Mu yang terkasih dan tempat ketenangan-Mu. Aku tidak pernah akan membiarkan Engkau seorang diri di sana, tetapi aku akan hadir sepenuhnya, sepenuhnya sadar dalam iman, sepenuhnya penyembahan, sepenuhnya penyerahan kepada karya-Mu yang menciptakan … ” (Elisabeth dari Tritunggal, Doa).

TEKS-TEKS SINGKAT

261 Misteri Tritunggal Mahakudus adalah rahasia sentral iman dan kehidupan Kristen. Hanya Allah dapat memberitahukan misteri itu kepada kita, dengan mewahyukan Diri sebagai Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

262 Inkarnasi Putera Allah mewahyukan bahwa Allah adalah Bapa abadi dan bahwa Putera sehakikat dengan Bapa, artinya, bahwa Ia, di dalam Dia dan bersama Dia, adalah Allah yang Esa.

263 Pengutusan Roh Kudus, oleh Bapa atas nama Putera dan oleh Putera “dari Bapa ” (Yoh 15:26), mewahyukan bahwa Ia bersama mereka adalah Allah yang Esa dan sama. Ia “disembah dan dimuliakan bersama Bapa dan Putera “.

264 “Roh Kudus berasal dari Bapa sebagai asal pertama dan karena la tanpa jarak waktu memberikan [daya menjadi asal jugaJ kepada Putera, maka Roh berasal dari Bapa bersama Putera” (Agustinus, Trin. 15,26,47).

265 Oleh rahmat Pembaptisan “atas nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus” kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus, sekarang di dunia dalam kegelapan iman dan sesudah kematian dalam cahaya abadi.

266 “Iman Katolik berarti bahwa kita menghormati Allah yang Esa dan Tritunggal dalam keesaan, dengan tidak mencampuradukkan Pribadi-Pribadi dan juga tidak memisahkan substansi-Nya: Karena Pribadi Bapa itu khas, Pribadi Putera itu khas, Pribadi Roh Kudus itu khas; tetapi Bapa, Putera, dan Roh Kudus memiliki ke-Allah-an yang Esa, ke muliaan yang sama, keagungan abadi yang sama ” (Simbolum “Quicumque “: DS 75).

267 Tidak terpisahkan dalam keberadaan mereka, Pribadi-pribadi ilahi itu juga tidak terpisahkan dalam apa yang mereka lakukan. Namun di dalam karya ilahi bersama itu, tiap Pribadi Tritunggal menampilkan kekhususan-Nya, terutama dalam pengutusan Ilahi, inkarnasi Putera dan pemberian Roh Kudus.

 

Diposkan oleh Indonesian-Papist di 07:53
Posted by: yohanestantama | June 18, 2011

Doa Syukur Agung tertua

Tahukah kita bahwa Doa Syukur Agung tertua adalah Doa Syukur Agung yang ke II. Doa ini diciptakan oleh Hypolitus, salah satu Bapa Gereja kita

Bukan Anggurnya yang buruk tetapi kemabukan. Orang yang serakah tidak sama dengan orang yang kaya. Orang serakah tidak kaya. Ia menginginkan begitu banyak dan karena ia tidak memilikinya, ia tidak pernah akan kaya. Orang serakah adalah penjaga kekayaan, bukan pemilik kekayaan. Dialah seorang budak, bukan tuan dari harta itu. Sebab ia merasa lebih baik memberikan sebagian dagingnya sendiri dari pada harta yang dipendamnya. Ia tidak sanggup memberi kepada orang lain atau membagi bagikan kekayaannya kepada yang berkekurangan. Jadi bagaimana mungkin ia menyebut dirinya sebagai pemilik? Bagaimana ia memilikinya jika ia tidak bebas menggunakannya ataupun menikmatinya?

Kaya itu tidak berarti memiliki banyak, akan tetapi memberi banyak… Marilah kita hiasi jiwa kita lebih daripada rumah kita. Bukankah itu suatu kekejian, bahwa kita menutupi dinding dinding kita dengan marmer, kesiasiaan dan untuk hal hal yang tidak berguna, sedangkan Kristus – dalam diri orang miskin-kita biarkan telanjang? Keuntungan apa yang engkau dapat dari rumahmu? Apakah engkau akan membawanya kalau engkau pergi (eninggalkan dunia ini?) Tak mungkin engkau bawa rumah itu. Tetapi yang pasti jiwamu harus engkau bawa. Kita bangun rumah untuk didiami, bukan untuk dijadikan pajangan yang ambisius. Barang yang engkau butuhkan adalah berlebih lebihan dan tak berguna. Cobalah pakai sepatu yang besar! Engkau tak tahan memakainya karena hanya akan mengganggu jalanmu. Begitu juga rumah yang lebih besar daripada yang diperlukan hanya merupakan hambatan bagimu untuk melangkah maju ke surga.. Engkau seorang pendatang, seorang musafir bagi hal hal duniawi. Negerimu di surga. Pindahkanlah kekayaanmu kesana…

Maukah engkau menjadi kaya? Jadikan Allah sebagai sahabatmu dan engkau akanlebih kaya daripada siapapun!! Jelaslah bahwa orang kaya adalah justru mereka yang tidak memandang penggunaannya dan mencemoohkan kenikmatannya. Sebab orang yang telah menyisihkan kekayaannya dan memberinya kepada yang miskin telah menggunakannya dengan tepat. Ia tetap pemiliknya kalau ia pergi. Miliknya tidak dilucuti pada saat kematiannya, bahkan ia menerimanya kembali saat itu.

 

Homiliae 21 de Statuis, 2 : 14-18

Yohanes Chrisostomus – Salah satu Bapa Gereja.

Bagi teman teman yang berlibur ke Bali dan akan mengikuti misa disana, ini jadwal untuk gereja St. Franxiscus Xaverius di Kartika Plaza (dekat Ramada)

Kamis Putih : 5 sore bahasa Inggris, 9 malam bahasa Indonesia

Jumat Agung : 8 pagi jalan salib

jam 3 sore bahasa Indonesia, jam 5 sore bahasa Inggris

Sabtu Paskah : 6 sore Bahasa Inggris, 10 malam bahasa Indonesia

Minggu Paskah : jam 9 bhs Indonesia,  6 sore bahasa Inggris.

Ada baiknya menelphone ke sekretariat : 0361-751144, karena saya juga mendapatnya perphone.

GBU dan selamat Paskah

Posted by: yohanestantama | February 15, 2011

Sudahkah Anda Mengenal Katolik Dengan Benar?

Telah dibuka ” Extension course of Theology” Tahun ajaran 2010 – 2011

Perkuliahan setiap hari Sabtu jam 09.00 – 12.00 dan dimulai April 2011.
Tempat : Universitas Darma Cendika

Tujuan perkuliahan adalah untuk belajar bersama, menemukan makna dari pertanyaan pertanyaan yang
membutuhkan pencerahan yang benar dalam mengimanani iman Katolik.
Perkuliahan akan diberikan oleh pakar yang berkompeten dibidangnya yaitu Romo romo dari
Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana Malang
Materi diberikan sesuai dengan kemampuan kita sebagai awam dan dengan metode yang ringan dan menyenangkan
Saya mengundang sebanyak mungkin anda semua yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Iman Katolik
yang benar.
Materi materinya antara lain :

Teologi Dasar Katolik
Pengetahuan dasar Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Dogma
Sakramen sakramen
Liturgi
Mariologi
Hukum Gereja Katolik
Sejarah Gereja
Injil Injil Sinoptik
Tritunggal dan Eskatologi dll

Untuk pendaftaran bisa menghubungi Bp. Yanuar 087851577828 atau saya di 081553124115

Posted by: yohanestantama | January 28, 2011

Jadwal retret Lembah karmel Cipanas Th 2011

Saya mohon maaf dari janji saya molornya cukup lama, baru bisa mengupdate jadwal retret di Cipanas ini.

Februari
11-13 : Retret meditasi katolik
24-27 : Retret Penyembuhan Batin

Maret
5 Adorasi
10-13 : Retret mengatasi kelemahan
24-27 : Retret Awal

April :
7-10 : Retret Penyembuhan Batih
21-24 : Trihari Suci + Paskah

Mei :
6-8 : Retret Intergenerasi
14-15 : Rekoleksi & Prosesi Maria
26-29 : Retret Pembedaan Roh

Juni :
2 : Kenaikan Isa Almasih
9-12 : R Karunia Roh Kudus
21-26 : Camping Muda mudi (SLTA)
30/6 sd 3/7 : Retret Buah buah Roh

Juli :
14-17 : Retret Awal

Agustus :
4-7 : Retret KTM (khusus)
22/8-4/9 : Idul Fitri (tidak menerima tamu menginap)

September :
15-18 : Workshop Penyembuhan dan Pembebasan
29/9 -2/10 : Retret awal

Oktober
14-16 : Tetret Penyelenggaraan Ilahi
22-23 : Retret Rekoleksi dan Prosesi Maria
27-30 : Retret Penyembuhan Batin

Nopember
4-6 : R. Mencari Tulang Rusuk (yg belum menikah)
17-20 : Retret Awal

Desember
2-4 : Retret meditasi lanjutan
15-18 : Retret penyembuhan batin
23-25 : Natal
31/12 -1 jan 2012 : Tahun Baru

 

Untuk menginap Sbtu/Mg bisa di sana dengan berbagai pilihan kamar. Silahkan menghubungi sekretariat

untuk pendaftaran :

 

Lembah Karmel : 0263 582062, fax 0263b582063

Jakarta : Ibu Purnamawati : Jl Pinang Perak X/12 Pondok Indah (0217501602)

Bandung : Ibu Olly : Jl Babakan Jeruk IIIB/6, Bandung (022 2011096)

Ivan Merz adalah seorang Awam Kroasia yang hidup pada masa perubahan politik besar-besaran yang melanda Eropa. Ivan Merz adalah seorang katolik yang meninggalkan jejak iman begitu dalam pada masa hidupnya. Lahir pada 16 Desember 1896 di Banja Luka dalam keluarga liberal ketika Bosnia dikuasai oleh Autria-Hongaria, Ivan Merz mengenyam pendidikan keduanya dalam lingkungan yg multietnik dan multi religi di kota asalnya. Beato Ivan Merz menyelesaikan studinya tepan ketika putra mahkota Francesco Ferdinando (Franz Ferdinand) terbunuh pada 28 Juni 1914 (peristiwa ini menjadi pemicu Perang Dunia I) Beato Ivan Merz menaati keinginan orangtuanya yang menghendakinya masuk akademi militer. Namun karena merasa jijik dengan korupsi yang terjadi di lembaga itu, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti setelah tiga bulan. Pada 1915, Beato Ivan Merz masuk universitas di Wina, namun pada 1916 terpaksa ikut wajib militer dan ia pun menghabiskan sekitar setahun (1917-1918) di posisi garis depan militer. Pada akhir PD I, dia berada di Banja Luka, dimana ia mengalami perubahan politik yang radikal dan menjadi saksi lahirnya negara Yugoslavia. Pada 1919 dan 1920, ia kembali ke Wina dan melanjutkan studi di Fakultas Filsafat. Pada Oktober 1920, ia hijrah ke Paris dimana ia mengikuti kuliah di Universitas Sorbonne dan di “Institute Catholique” sambil menyiapkan disertasi doktoral. Beato Ivan Merz memperoleh gelar doktoral di Universitas Zagreb pada 1923 dengan tesisnya yang berjudul “Pengaruh Liturgi pada Penulis Prancis”. Setelah lulus ujian negara maka ia dapat secara resmi mengajar bahasa dan sastra Prancis dan Jerman. Ia kemudian menjadi profesor di sebuah sekolah keuskupan di Zagreb hingga wafat (10 Mei 1928) Jika dilihat sekilas, kecuali dalam hal menjadi pasukan di garis depan, Ivan Merz adalah seorang yang biasa, tidak ubahnya seperti anak muda pada umumnya, begitu pulalah yang tercatat dalam sejarah Katolisisme Kroasia. Namun demikian, walaupun kurang dikenal di luar negara asalnya, karakter Ivan Merz sangat memesona bagi siapa saja yang mendekatinya. Seorang mahasiswa dan tentara Katolik, selain itu juga seorang awam dengan pandangan yang luas yang mencurahkan seluruh energinya demi mendidik kaum muda Kroasia. Apa yang paling mencolok dari perjalanan iman Beato Ivan Merz adalah periode yang dalam perjalanan rohani disebut formasi. Beato Ivan Merz menemukan jalan kekudusan tanpa melalui keluarga, novisiat, seminari, dan tanpa pembimbing rohani yang tetap. Dengan demikian ia dikatakan sebagai seorang yang “secara alami menghasilkan buah-buah rohani”, dimana peran rahmat sangat terlihat jelas. Sedikit sekali para kudus, apalagi dari kalangan awam, yang perjalanan rohaninya bisa diikuti secara dekat melalui buku harian pribadinya. (beato Ivan Merz menulis buku harian sejak dia mengambil ujian kelulusan, saat menjadi tentara di garis depan, dan ketika ia duduk di bangku kuliah). Karakter yang terlihat di buku hariannya bukanlah karakter seseorang yang “berbakat alami menjadi seorang santo” namun lebih kepada seorang muda yang berjuang dan memenangkan pertandingan, sehingga dengan demikian dapat menjadi contoh bagi mereka semua yang berjuang demi cita-cita luhur Kristiani.Beato Ivan Merz terusik oleh pertanyaan akan cinta dan juga derita dan kematian yang ia atasi dalam terang iman. Dalam buku hariannya yang ditulis pada masa perang, kita dapat merasakan kedalaman jiwanya dimana kemiskinan jasmani dan rohani menjadi satu dalam terang rahmat. Pada 19 September 1917, ia menulis, “Tidak ada Ekaristi Kudus. Sepertinya aku hidup bagai orang kafir (…) rasanya Dia seperti tidak ada.” “Allah sang Penghibur, datang dan sokonglah diriku dan kodratku dengan atom-atom keabadian, agar diriku semakin menyerupaiMu dan dapat mengerti dinamika keberadaan (jiwa). Aku menyibukkan diri dengan anggur ketika Ekaristi Kudus tidak lagi menjadi prioritasku. Dimanakah para imam yg diperuntukkan bagi para prajurit? Apakah mereka mengabaikan kawanan domba pada saat dimana justru ketika mereka sangat membutuhkan Allah?” “Allahku, sungguh alangkah baiknya jika aku sudah bersamaMu…maka sekarang bakarlah segala parasit dosa yang menggerogoti jiwaku dengan api belas kasihMu, agar aku dapat tampil dihadapanMu dalam keadaan layak dan kudus, atau setidaknya agar aku dapat menghembuskan napas terakhirku dengan sukacita yang kudus dan kehendak yang luar biasa!” (13 Juli 1918) Beato Ivan Merz berpuasa bahkan ketika ia berada di garis depan medan pertempuran. “Ingatlah, Iblis menungguku untuk memasang jerat! Mereka yang berpikir bahwa puasa itu kecil manfaatnya berarti mereka tidak tahu apa yang mereka katakan. Tidak ada kehidupan rohani tanpa puasa…Allahku, tunjanglah diriku dengan kehendak yang kuat, bahkan ketika aku harus bertelanjang kaki dan tidak berpakaian! (23 Agustus 1918). “Jangan pernah melupakan Allah!Selalulah berharap untuk bersatu denganNya. Abdikanlah setiap harimu, pada pagi-pagi buta untuk melakukan meditasi dan doa di dekat Sakramen Mahakudus atau selama Misa. Pada saat itulah hendaknya (kita) merencanakan niat , memeriksa batin, dan memohon rahmat untuk mengatasi kelemahan. Alangkah malangnya aku jika perang tidak membawa keuntungan bagiku! Aku harus memulai kehidupan yang baru, memperbarui semangat pengetahuan tentang katolisitas. Semoga Tuhan menolongku, karena tidak ada seorangpun yang dapat melakukan apapun seorang diri (5 Februari 1918). Ketika kembali ke Zagreb, Beato Ivan Merz memberikan bimbingan pada gerakan kaum muda “Eagles” berdasarkan prinsip ajaran Katolik. Sebagai pria yang dewasa, ia menjadi teladan kerasulan bagi imam ataupun religius. Akhirnya, ia menjadi seorang katolik sejati, yang hatinya berdetak seirama dengan detak jantung Gereja, yang tidak mempunyai musuh dari bangsa maupun politisi manapun juga. Gereja yang adalah Tubuh Mistik Kristus, berkumpul di sekitar Kristus yang hadir sepenuhnya dalam Ekaristi, Kristus ini diwakilkan oleh wakilNya, yaitu Paus. Gereja, Ekaristi dan Paus adalah “tiga kecintaan” Beato Ivan Merz, yang menurutnya telah menjadi satu-satunya kecintaannya. Beato Ivan Merz berusaha dengan segala upaya untuk mentransfer iman ini pada generasi muda Katolik. Beato Ivan Merz adalah seorang awam yang menjadi promotor gerakan liturgis di Kroasia dan juga merupakan perintis Aksi Katolik seturut instruksi Paus Pius XI dalam rangka untuk menjalin persatuan antar kaum cendikiawan agama untuk berkarya demi “pembaruan segala sesuatu dalam Kristus”. Dalam hal hubungan rohaninya dengan Ibu Maria, pada umur 19 tahun, Beato Ivan Merz mengikatkan dirinya secara pribadi pada kaul kemurnian pada Hari Raya St.Maria Dikandung Tanpa Dosa. Ia mohon pada Santa Perawan agar sudi untuk menjaga kemurnian hatinya. Hal ini tercatat pada buku hariannya tertanggal 12 Desember 1915. Delapan tahun kemudian, Beato Ivan memutuskan untuk membuat kaul pribadinya ini menjadi kaul pribadi kekal. Menjelang wafat Beato Ivan Merz memiliki penglihatan yang kurang baik sejak kecil. Kemudian ia mempunyai masalah dengan giginya. Penyakit demi penyakit membuatnya sulit belajar dan bekerja. Pada akhir hidupnya ia menderita sakit yang serius, yaitu radang akut rongga mandibula (rahang bawah) sehingga harus menjalani operasi. Penderitaannya ini ia persembahkan bagi para pemuda Kroasia. Dalam beberapa bulan menjelang wafatmya, Beato Ivan mulai kembali secara rutin mengisi buku hariannya. Suatu kebiasaan yang tidak lagi ia lakukan sejak studi di Paris. Catatan dalam buku hariannya ini menunjukkan kondisi jiwa Beato Ivan sebelum wafat. Baris terakhir tulisan di buku hariannya :”Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Aku mengharapkan belaskasihan Tuhan dan menjadi milik Hati Kudus Yesus secara utuh sampai selama-lamanya”. Ivan Merz wafat pada 10 Mei 1928 dan dibeatifikasi pada 22 Juni 2003 oleh Paus Yohanes Paulus II. Beato Ivan Merz doakanlah kami!

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.