Posted by: yohanestantama | April 16, 2014

Puasa dan Pantang selama masa Pra Paskah

Pantang dan Puasa

Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus. Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.(KHK 1251-1252)

Jadi sebagai orang Katolik wajib berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Jadi, selama masa Prapaskah, kewajiban puasa hanya dua hari saja. Yang wajib berpuasa adalah semua orang beriman yang berumur antara delapan belas (18) tahun sampai awal enam puluh (60) tahun.

PUASA berarti:
makan kenyang hanya satu kali dalam sehari.
Untuk yang biasa makan tiga kali sehari, dapat memilih
• Kenyang, tak kenyang, tak kenyang, atau
• Tak kenyang, kenyang, tak kenyang, atau
• Tak kenyang, tak kenyang, kenyang

Orang Katolik wajib berpantang pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat sampai Jumat Suci. Jadi hanya 7 hari selama masa PraPaskah.
Yang wajib berpantang adalah semua orang katolik yang berusia empat belas (14) tahun ke atas.

PANTANG berarti
• Pantang daging, dan atau
• Pantang rokok, dan atau
• Pantang garam, dan atau
• Pantang gula dan semua manisan seperti permen, dan atau
• Pantang hiburan seperti radio, televisi, bioskop, film.

Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang,
sesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun,
umat beriman,
baik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok,
dianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. Penetapan yang dilakukan diluar kewajiban dari Gereja, tidak mengikat dengan sangsi dosa.

Dalam rangka masa tobat, maka pelaksanaan perkawinan juga disesuaikan. Perkawinan tidak boleh dirayakan secara meriah.
ARTI PUASA dan PANTANG

PUASA adalah tindakan sukarela Tidak makan atau tidak minum Seluruhnya, yang berarti sama sekali tidak makan atau minum apapun Atau sebagian, yang berarti mengurangi makan atau minum.

Secara kejiwaan, Berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa.
Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan.
Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya.
Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau.
Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi. Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan.

Itulah sebabnya, puasa Katolik selalu terlaksana bersamaan dengan doa dan derma, yang terwujud dalam Aksi Puasa Pembangunan.
Semangat yang sama berlaku pula untuk laku PANTANG.
Yang bukan semangat puasa dan pantang Katolik adalah:

Berpuasa dan berpantang sekedar untuk kesehatan: diet, mengurangi makan dan minum atau makanan dan minuman tertentu untuk mencegah atau mengatasi penyakit tertentu.
Berpuasa dan berpantang untuk memperoleh kesaktian baik itu tubuh maupun rohani.

SABDA TUHAN SEHUBUNGAN DENGAN PUASA

“Melalui nabi Yesaya, Tuhan bersabda:
Berpuasa yang Kukehendaki ialah,
Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman
Dan mematahkan setiap kuk
Supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya
Dan mematahkan setiap kuk,
Supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar
Dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak mempunyai rumah
Dan apabila kamu melihat orang telanjang
Supaya engkau memberi dia pakaian
Dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
Pada waktu itulah
Engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab
Engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku
Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu
Dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah
Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri
Dan memuaskan hati orang tertindas
Maka terangmu akan terbit dalam gelap
Dan kegelapanmu akan seperti bintang rembang tengah hari”
Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda tentang puasa:

“Apabila kamu berpuasa,
Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi apabila engkau berpuasa,
minyakilah kepalamu
Dan cucilah mukamu
Supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa

Melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/

Posted by: yohanestantama | February 12, 2014

Memberi sebagai ucapan syukur

Daud mempersembahkan kurban kepada Allah dengan menari karena sukacita (2Sam 6:12b-15, 17-19)

Mempersembahkan atau memberi sebagian milik kita adalah bukan karena kita memiliki banyak tetapi karena mengakui milik kita sebagai karunia Allah yang telah dan selalu memelihara kita dan melimpahkan rejekiNya.

Maka kita memberi dengan sukacita . Yg kikir atau memberi dengan bersungut sungut adalah orang yg “kurang beriman” karena memberi adalah sikap Iman untuk bersyukur

Romo Petrus Maria Handoko CM, renungan 29 Jan 2014

MARILAH KITA BELAJAR BERSYUKUR DENGAN MEMBERI (Yohanes)

Posted by: yohanestantama | February 12, 2014

Jadwal Retret Tumpang 2014

Buat temen teman yg membutuhkan jadwal Retret di Tumpang , saya lampirkan disini. Untuk detailnya bisa menghubungi sekretariat di Tumpang.

Terimakasih. GBU

Jadwal Tumpang 2014 A Jadwal Tumpang 2014 B

Posted by: yohanestantama | February 12, 2014

Suami Istri Ini Rela Hidup Rp 10.000/Hari Demi Beli Rumah

Mengharukan, itu satu kata yang pas menggambarkan pasangan suami istri di China ini. Dalam empat tahun terakhir mereka menjalani hidup dengan biaya kurang dari 5 yuan (sekitar Rp 10.000) demi membeli rumah.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi CCTV seperti dikutip AsiaOne, Rabu (11/2/2014), kedua pasangan ini bercerita tentang bagaimana mereka bisa bertemu. Keduanya merupakan buruh pabrik di daerah Baoding. Si wanita Hao Ranran, berasal dari Hebei, sedangkan si pria Qiu Guoying, berasal dari Mongolia.

Keduanya jatuh hati setelah Hao terkesan akan sifat Qiu yang jujur dan pekerja keras. Sayangnya, keluarga Hao tidak merestui hubungan keduanya karena Qui dianggap terlalu miskin.

Sampai suatu hari Qui mencurahkan semua perasaannya terhadap Hao dan berniat bekerja sekeras mungkin demi membahagiakan calon istrinya itu.

“Sejak saat itu, saya tahu saya tidak akan meninggalkan dia,” kata Hao dalam wawancara tersebut.

Keduanya pun sepakat untuk menikah. Karena tidak punya uang untuk menikah, mereka pun terpaksa meminjam gaun pengantin yang dipakai untuk pernikahan.

Meski tak punya banyak uang, Qui tetap bertekad menafkahi dan memberinya istrinya rumah yang layak. Ia bersumpah akan membelikan rumah tak peduli ia harus bekerja banting tulang.
Sang istri pun menyambut niat baik Qui dan ikut berjanji tidak akan jajan, makan di luar maupun pergi berlibur. Setelah menyisihkan uang untuk bayar sewa, tabungan, dan lain-lain, dua sejoli ini hanya punya sisa uang sekitar 5 yuan saja untuk bertahan hidup.

Qiu pun bekerja keras tanpa henti, sementara Hao berhemat habis-habisan mengatur uang rumah tangga. Tak jarang Hao harus meminta sayuran bekas yang tidak laku dari supermarket setempat supaya menghemat uang.

Dana yang dibutuhkan untuk uang muka rumah mereka itu sekitar 100.000 yuan (Rp 200 juta), dan mereka bisa menabung sekitar 3.500 yuan (Rp 7 juta) tiap bulan. Setelah empat tahun lebih akhirnya dana untuk uang muka rumah terkumpul juga.

Tapi ceritanya tak berhenti sampai di situ, rumah baru tidak bisa langsung ditempati dan harus ada sedikit perombakan. Qui memutuskan untuk melakukan renovasi sendiri demi menghemat uang.

Bahkan saat pindahan pun pasangan ini meminta bantuan dari teman-temannya untuk mengangkut perabotan ke dalam rumah. Hati Qui tersentuh atas ketabahan sang istri yang mau melalui suka duka bersama.

Qui pun berniat memberikannya hadiah, yaitu foto-foto mereka berdua sejak pertama kali bertemu yang disusun dalam beberapa bingkai kecil. Setiap fotonya ia sertakan kata-kata yang menyentuh hati istrinya.

Qui juga meminta maaf kepada istrinya karena harus menunggu lama sebelum ia bisa membelikan rumah. Kunci rumah tersebut Qui serahkan kepada istrinya dalam amplop merah berbentuk hati.

Sampai saat ini Qui dan Hao sudah bisa menjalani hidup bahagia bersama di dalam rumah hasil perjuangan keras mereka berdua.chinacouple

Posted by: yohanestantama | May 21, 2013

Paus Fransiskus : Bangun “jembatan”, bukan “tembok”

dikutip dari : http://katolisitas.org/11208/paus-fransiskus-bangun-jembatan-bukan-tembok

Berikut ini adalah saduran pesan Paus Fransiskus dalam Misa harian pada hari Rabu, 8 Mei 2013:

Penginjilan tidak memaksakan orang untuk pindah agama. Hal ini menjadi fokus Paus Fransiskus dalam pesannya kepada umat yang berkumpul pada Misa Rabu pagi ini di Kapel Domus Sancta Marthae kediaman Paus di Vatikan. Paus mengulangi lagi bahwa orang Kristen yang ingin mewartakan Injil harus berdialog dengan semua orang, karena kebenaran bukan milik siapa – siapa, karena kebenaran diterima melalui pertemuan dengan Yesus.

Paus Fransiskus menekankan sikap pemberani Santo Paulus di Areopagus, saat berbicara di hadapan khalayak ramai di Athena, ia berusaha untuk membangun jembatan untuk mewartakan Injil. Paus menyebut sikap Paulus sebagai seseorang yang “mencoba berdialog” dan “mendekati hati” para pendengar. Paus mengatakan bahwa inilah alasan yang menjadikan Rasul Paulus sebagai seorang imam sejati: “pembangun jembatan” dan bukan pembangun tembok. Paus melanjutkan dengan mengatakan bahwa sikap Paulus inilah yang membuat kita berpikir mengenai sikap yang harus selalu dimiliki oleh seorang Kristen.

“Seorang Kristen,” kata Paus Fransiskus, “harus mewartakan Yesus Kristus dengan cara yang sedemikian rupa yang membuatNya dapat diterima, tidak ditolak – dan Paulus tahu bahwa dia harus menaburkan pesan Injil. Dia tahu bahwa mewartakan Yesus Kristus tidak mudah, tetapi hal ini tidak bergantung kepadanya. Dia harus melakukan segala sesuatu yang mungkin, tapi pewartaaan Yesus Kristus, pewartaan kebenaran, bergantung kepada Roh Kudus. Yesus mengajarkan kita dalam Injil hari ini:’Saat Dia datang, Roh Kebenaran, akan membimbing kalian semua ke dalam kebenaran.’ Paulus tidak mengatakan kepada rakyat Athena: ‘Inilah ensiklopedia kebenaran. Pelajarilah dan kamu akan memiliki kebenaran, kebenaran sejati.’ Tidak! Sang Kebenaran tidak masuk ke dalam sebuah ensiklopedia. Sang Kebenaran adalah suatu perjumpaan – sebuah pertemuan dengan Kebenaran Utama: Yesus, kebenaran yang luar biasa. Tidak seorang pun yang memiliki kebenaran. Kita menerima kebenaran saat kita bertemu denganNya.

Tetapi mengapa Paulus berbuat demikian? Pertama, Paus berujar, karena “inilah cara” Yesus yang “berbicara dengan semua orang” dengan pendosa, pemungut cukai, kaum Farisi. Paulus, dengan demikian, “mengikuti sikap Yesus.”

“Seorang Kristen yang ingin menyebarkan Injil harus melalui jalan ini: harus mendengarkan semua orang! Tetapi sekarang merupakan saat yang baik dalam kehidupan Gereja: 50 – 60 tahun terakhir merupakan saat yang baik karena saya ingat sewaktu saya kecil sering terdengar di dalam keluarga Katolik, di keluarga saya, ‘Jangan, kita tidak boleh pergi ke rumah mereka, karena mereka tidak menikah di dalam Gereja, heh!’ Itu merupakan bentuk pemisahan. Tidak, kamu tidak boleh pergi! Kami juga tidak boleh pergi ke rumah orang sosialis atau ateis. Sekarang, syukur kepada Allah, orang tidak berbicara seperti itu lagi, bukan? [Sikap seperti itu] merupakan pembelaan terhadap iman, tetapi hal tersebut merupakan salah satu bentuk tembok: Tuhan membangun jembatan. Pertama: Paulus memiliki sikap ini, karena ini adalah sikap Yesus sendiri. Kedua, Paulus sadar bahwa dia harus menginjili, bukan memaksakan agama.

Mengutip pendahulunya, Paus Benediktus, Fransiskus lanjut berkata bahwa Gereja “tidak tumbuh dengan cara – cara pemaksaan,” tetapi “dengan ketertarikan, kesaksian, dan khotbah,” dan Paulus memiliki sikap ini: pewartaan tidak menjadikan pemaksaan – dan dia berhasil, karena, “ dia tidak meragukan Tuhannya.” Paus memperingatkan bahwa, “Umat Kristen yang takut untuk membangun jembatan dan lebih suka untuk membangun tembok adalah orang orang Kristen yang tidak yakin akan imannya, tidak yakin akan Yesus Kristus.” Paus menyerukan agar umat Kristen berlaku seperti Paulus dan mulai “membangun jembatan dan terus melangkah maju”:

“Paulus mengajarkan kita sebuah jalan untuk penginjilan, karena Yesus pun demikian, karena dia sadar betul bahwa penginjilan bukanlah pemaksaan agama: Paulus juga yakin akan Yesus Kristus dan dia tidak perlu membenarkan ajarannya atau mencari – cari alasan untuk membenarkan ajarannya. Saat Gereja kehilangan keberanian apostoliknya, ia menjadi Gereja yang tidak berkembang, sebuah Gereja yang rapi, yang menyenangkan, menyenangkan untuk dilihat, tetapi tidak memiliki kesuburan, karena dia telah kehilangan keberanian untuk pergi ke pinggiran, di mana banyak orang menjadi korban penyembahan berhala, pikiran – pikiran sempit dunaiwi, dan dari banyak hal lain. Marilah kita minta dari Rasul Paulus keberanian apostolik ini, semangat membara spiritual, agar kita menjadi percaya diri. ‘Tapi Bapa,’ [kamu mungkin berkata], ‘kita mungkin saja melakukan kesalahan…’…’[hmm, kesalahan apa?’ respons saya], ‘Majulah terus kalian: jika kalian melakukan kesalahan, kalian bangun dan terus melangkah maju: cuma inilah caranya. Mereka yang tidak berjalan maju untuk terhindar dari membuat kesalahan, malah melakukan kesalahan yang lebih serius.

Misa Rabu pagi ini dikonselebrasikan bersama Presiden Dewan Kepausan untuk Naskah Legislatif, Kardinal Francesco Coccopalmerio.

Paus Fransiskus,

Vatikan, 8 Mei 2013

Diterjemahkan dari : http://www.news.va

Posted by: yohanestantama | May 11, 2013

Kasih yang memberi

SISIR DAN JAM TANGAN

Seorang pria miskin tinggal bersama dengan istrinya di perkampungan yang sangat sederhana. Suatu hari, istrinya yang mempunyai rambut panjang memintanya untuk membelikan sisir sehingga ia bisa merawat rambutnya dan menjaganya supaya tidak kusut.

Suaminya sangat sedih mendengarnya dan ia berkata bahwa ia tidak mempunyai uang untuk membelikan istrinya sisir saat ini, bahkan untuk menggantikan tali jam tangan kesayangannya pun, sang suami tidak tega untuk menghabiskan uang yang sudah sangat menipis ….

Hari berlalu … sang istri tidak pernah mengungkit2 lagi masalah tersebut, begitu juga dengan sang suami …

Keesokan harinya, sang suami pamit bekerja dan seperti biasa ia berjalan kaki menuju tempat kerjanya yang lumayan jauh jaraknya. Dalam perjalanan nya ia melihat toko jam, ia tertegun cukup lama disana dan akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam toko … tapi bukan untuk memperbaiki tali jam tangannya, melainkan ia menjual jam tangan kesayangan nya dengan harga murah untuk dapat ia belikan sisir untuk istrinya.

Sore harinya, dengan bergegas sambil membawa sisir untuk istrinya, dengan riang gembira ia memanggil istrinya … Namun apa yang terjadi ………

Ia disambut dengan riang gembira pula oleh istrinya yang berambut pendek … tidak ada lagi rambut panjang yang dibanggakan oleh istrinya ….

Ternyataa … sang istri memotong rambutnya dan menjualnya ke salon di kota untuk membelikan tali jam tangan untuk suami nya …

Air mata berlinang dari keduanya … bukan karena penyesalan, namun karena mereka saling berbahagia karena mengetahui betapa besar cinta pasangannya …

Good Pagi sahabat!!!

Ilustrasi diatas boleh jadi perenungan kita untuk hari ini … #tapi jangan kebanyakan bengong yaaa hehehe

Apa sih arti mencintai bagi Anda?

Tingkatan paling tinggi mencintai adalah pada saat kita tidak mementingkan kepentingan kita melulu melainkan mendahulukan kepentingan orang yang kita cintai dan mau berkompromi dengan pasangan kita untuk sesuatu yang terbaik … Pesannya bukan lagi “AKU” …

Fri(end) … Boyfri(end) … Girlfri(end) … semua ada akhiran END yang berarti selesai … tapi FAMILY tidak ada kata selesai nya … #kalo ke saya jangan loe gue END ya :p …

Apakah anda benar2 mencintai pasangan anda? apakah anda benar2 mencintai anak2 anda?

Action speak louder than words … #terjemahan bebasnya … jangan omong ajah, lakukan dong …

Salam hebat bagi semua sahabat2 saya dimanapun Anda berada, by Ariesandi Setiono

Posted by: yohanestantama | March 27, 2013

Jadwal Retret Tumpang 2013

jadwal tumpang 2013 A

jadwal Tumpang 2013 B

Posted by: yohanestantama | September 15, 2012

Apa Itu Lectio Divina

Memasuki Bulan Kitab Suci Nasional ini, kita diharapkan semakin mengerti dan mencintai isi Kitab Suci. Salah satu metode yang kita pakai sebagai orang Katolik adalah Lectio Divina. Memahami dengan benar isi kitab suci adalah penting agar kita tidak salah dalam mengintepretasikan, apalagi menjalankannya.

Berikut kutipan dari website Katolisitas, yang selengkapnya bisa dibaca di http://katolisitas.org/2376/lectio-divina

Lectio Divina, apakah itu?

Tradisi Gereja Katolik mengenal apa yang disebut sebagai “lectio divina” untuk membantu kita umat beriman untuk sampai kepada persahabatan yang mendalam dengan Tuhan. Caranya ialah dengan mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. “Lectio” sendiri adalah kata Latin yang artinya “bacaan”.[1] Maka “lectio divina” berarti bacaan ilahi atau bacaan rohani. Bacaan ilahi/ rohani ini terutama diperoleh dari Kitab Suci. Maka memang, lectio divina adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci untuk mencapai persatuan dengan Tuhan Allah Tritunggal. Di samping itu, dengan berdoa sambil merenungkan Sabda-Nya, kita dapat semakin memahami dan meresapkan Sabda Tuhan dan misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui Kristus Putera-Nya. MelaluiLectio divina, kita diajak untuk membaca, merenungkan, mendengarkan, dan akhirnya berdoa ataupun menyanyikan pujian yang berdasarkan sabda Tuhan, di dalam hati kita. Penghayatan sabda Tuhan ini akan membawa kita kepada kesadaran akan kehadiran Allah yang membimbing kita dalam segala kegiatan kita sepanjang hari. Jika kita rajin dan tekun melaksanakannya, kita akan mengalami eratnya persahabatan kita dengan Allah. Suatu pengalaman yang begitu indah tak terlukiskan!

Empat hal dalam proses Lectio Divina

Meskipun terjemahan bebas dari kata lectio adalah bacaan, proses yang terjadi dalamLectio divina bukan hanya sekedar membaca. Proses lectio divina ini menyangkut empat hal, yaitu: lectio, meditatio, oratio dan contemplatio.[2].

1. Lectio
Membaca di sini bukan sekedar membaca tulisan, melainkan juga membuka keseluruhan diri kita terhadap Sabda yang menyelamatkan. Kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, untuk berbicara kepada kita, dan menguatkan kita, sebab maksud kita membaca bukan sekedar untuk pengetahuan tetapi untuk perubahan dan perbaikan diri kita. Maka saat kita sudah menentukan bacaan yang akan kita renungkan (misalnya bacaan Injil hari itu, atau bacaan dari Ibadat Harian), kita dapat membacanya dengan kesadaran bahwa ayat-ayat tersebut sungguh ditujukan oleh Tuhan kepada kita.

2. Meditatio
Meditatio adalah pengulangan dari kata-kata ataupun frasa dari perikop yang kita baca, yang menarik perhatian kita. Ini bukan pelatihan pemikiran intelektual di mana kita menelaah teksnya, tetapi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Allah, pada saat kita mengulangi dan merenungkan kata-kata atau frasa tersebut di dalam hati. Dengan pengulangan tersebut, Sabda itu akan menembus batin kita sampai kita dapat menjadi satu dengan teks itu. Kita mengingatnya sebagai sapaan Allah kepada kita.

3. Oratio
Doa adalah tanggapan hati kita terhadap sapaan Tuhan. Setelah dipenuhi oleh Sabda yang menyelamatkan, maka kita memberi tanggapan. Maka seperti kata St. Cyprian, “Melalui Kitab Suci, Tuhan berbicara kepada kita, dan melalui doa kita berbicara kepada Tuhan.” Maka dalam lectio divina ini, kita mengalami komunikasi dua arah, sebab kita berdoa dengan merenungkan Sabda-Nya, dan kemudian kita menanggapinya, baik dengan ungkapan syukur, jika kita menemukan pertolongan dan peneguhan; pertobatan, jika kita menemukan teguran; ataupun pujian kepada Tuhan, jika kita menemukan pernyataan kebaikan dan kebesaran-Nya.

4. Contemplatio
Saat kita dengan setia melakukan tahapan-tahapan ini, akan ada saatnya kita mengalami kedekatan dengan Allah, di mana kita berada dalam hadirat Allah yang memang selalu hadir dalam hidup kita. Kesadaran kontemplatif akan kehadiran Allah yang tak terputus ini adalah sebuah karunia dari Tuhan. Ini bukan hasil dari usaha kita ataupun penghargaan atas usaha kita. St. Teresa menggambarkan keadaan ini sebagai  doa persatuan dengan Allah/prayer of union di mana kita “memberikan diri kita secara total kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya kehendak kita kepada kehendak-Nya.”[3]

Ke-empat fase ini membuat kelengkapan lectio divina. Jika lectio diumpamakan sebagai fase perkenalan, maka meditatio adalah pertemanan, oratio persahabatan dancontemplatio sebagai persatuan.

 

Posted by: yohanestantama | August 19, 2012

Bulan Kitab Suci Nasional 2012

Bulan September ini merupakan Bulan Kitab Suci Nasional buat umat Katolik. Untuk tahun 2012, Keuskupan Surabay mengambil tema : Persekutuan Murid Kristus Menyaksikan Mukjizat Tuhan. Mari kita mengenal Kristus melalui Kitab Suci dan membuat kita semakin mencintainya dengan ikut pertemuan di Lingkungan masing masing. GBU

Posted by: yohanestantama | August 19, 2012

Apa Itu Kitab Suci/Alkitab

Apa itu Kitab Suci?
Kitab Suci disebut juga Alkitab. Istilah “Kitab Suci” lebih akrab di hati umat Katolik. Karena Allah dan Sabda-Nya adalah suci, maka kitab yang memuat sabda-Nya disebut Kitab Suci. Sedangkan “Alkitab”, berasal dari bahasa Arab yang artinya sang kitab, lebih akrab di hati umat Protestan. Kitab Suci merupakan kumpulan buku yang ditulis oleh penulis manusia dengan ilham dari Allah. Buku-buku tersebut berisi tulisan tentang wahyu Tuhan dan rencana keselamatan umat manusia.
Berapa jumlah kitab dalam Kitab Suci?
Menurut Gereja Katolik, Kitab Suci terdiri dari 72 atau 73 kitab, tergantung dari cara kita menghitungnya. Perinciannya adalah 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru; jumlah seluruhnya 73 kitab. Namun, karena Konsili Trente (tahun 1545-1563) menghitung Kitab Ratapan sebagai bagian dari Kitab nabi Yeremia, maka jumlah kitab menjadi 72 saja.
Kitab-kitab dalam Kitab Suci ditulis dalam beberapa bentuk literatur yang berbeda. Penting bagi kita mengenali bentuk-bentuk literatur yang berbeda tersebut ketika membaca Kitab Suci, sama halnya penting bagi kita mengenali bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam suatu surat kabar. Misalnya, ketika membaca surat kabar kita harus tahu apakah kita sedang membaca bagian editorial, atau berita, atau iklan.
Apa itu Perjanjian Lama?
Perjanjian Lama, atau Kitab-kitab Yahudi, merupakan tulisan tentang hubungan Tuhan dengan Israel, “bangsa pilihan”. Ditulis antara tahun 900 SM hingga 160 SM. Ke-46 kitab dalam Perjanjian Lama dapat dibagi dalam empat bagian: 5 Kitab Pentateukh, 16 Kitab Sejarah, 7 Kitab Puitis dan Hikmat, serta 18 Kitab Para Nabi.
Sebagian besar Perjanjian Lama dipengaruhi oleh literatur negara-negara tetangga Israel di Timur Tengah. Untuk menceritakan kisah-kisah mereka sendiri, bangsa Israel meminjam kebudayaan bangsa-bangsa sekitarnya serta meniru bentuk-bentuk literatur mereka.
selengkapnya bisa lihat dilink ini http://yesaya.indocell.net/id436.htm

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers