Posted by: yohanes tantama | March 5, 2016

Apa Itu Indulgensi (II)

sumber : :”Indulgences: the treasures of the Catholic Church”; Catholic Youth Networking; http://www.catholicyouth.freeservers.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”

MACAM-MACAM INDULGENSI

Ada dua macam indulgensi: indulgensi sebagian dan indulgensi seluruhnya.

INDULGENSI SELURUHNYA:indulgensi seluruhnya menghapuskan seluruh hukuman (siksa dosa sementara) yang timbul karena dosa-dosa kita. Jika seseorang menerima indulgensi seluruhnya dan tiba-tiba meninggal segera sesudahnya, maka orang itu tidak akan perlu pergi ke api penyucian! Wow! Jadi, bagaimana hal itu mungkin terjadi? Jawabannya amat sederhana: rahmat yang terkandung dalam indulgensi adalah tak terbatas (tentu saja, karena berasal dari jasa-jasa Kristus ya’kan?). Tetapi penyesalanmu sendiri atas dosa-dosamu adalah faktor yang menentukan dalam menerima rahmat ini. Salah satu syarat agar dapat menerima indulgensi seluruhnya ialah bahwa kamu tidak lagi mempunyai kelekatan terhadap dosa. Artinya kamu harus menyesali dosa-dosamu secara sempurna dan tidak ingin melakukannya lagi. Penyesalan sempurna ini membuka jiwamu lebar-lebar terhadap rahmat Tuhan, sehingga kamu dapat menerima rahmat indulgensi sepenuhnya. Tetapi, jika kamu melakukan perbuatan atau doa yang dapat mendatangkan indulgensi sepenuhnya, tetapi kamu masih memiliki kelekatan terhadap dosamu, kamu hanya menerima indulgensi sebagian.

INDULGENSI SEBAGIAN:indulgensi sebagian menghapuskan sebagian hukuman (siksa dosa sementara) yang timbul karena dosa-dosa kita. Gereja memberikan indulgensi sebagian atas perbuatan-perbuatan dan doa-doa yang tingkat kepentingannya kurang dibandingkan dengan yang memperoleh indulgensi seluruhnya. Pada masa yang silam, indulgensi biasa diukur dengan “hari” atau “tahun” yang sama dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan silih berat (misalnya kamu mendaraskan suatu doa tertentu, kamu dapat memperoleh indulgensi “empat puluh tahun”). Tetapi, hal ini menyebabkan umat beriman hanya sekedar menambahkan jumlah hari-hari dan tahun-tahun indulgensi yang mereka peroleh dan bukannya memusatkan diri pada penyesalan sungguh-sungguh atas dosa. Jadi pada tahun 1969 Gereja menghapuskannya dari perkataan “indulgensi sebagian”. Indulgensi sebagian tidak diukur dengan jangka waktu yang pasti, karena manfaatnya bergantung pada keterbukaan kita sendiri terhadap Tuhan serta penolakan kita terhadap dosa. Bahkan indulgensi sebagian amatlah berharga bagi kita – apakah kamu akan mengeluh jika kamu berhutang Rp 20.000 dan seseorang membayarkan Rp 6.000 untukmu?!

Catatan: Indulgensi sebagian dapat diperoleh beberapa kali dalam sehari. Indulgensi seluruhnya hanya dapat diperoleh satu kali dalam satu hari.

PERSYARATAN MENDAPATKAN INDULGENSI SELURUHNYA

Melakukan perbuatan atau mendaraskan doa yang dapat mendatangkan indulgensi.
Mengakukan dosa-dosamu kepada imam dengan penyesalan sempurna karena telah menghina Tuhan.
Menerima Komuni Kudus.
Berdoa bagi intensi Bapa Suci (doa-doa yang lazim ialah Bapa Kami, Salam Maria dan Sahadat Para Rasul).
Perlu diketahui bahwa kita perlu menerima Komuni Kudus untuk setiap indulgensi seluruhnya, tetapi satu Sakramen Tobat dapat dipergunakan untuk beberapa indulgensi.

DOA & PERBUATAN YANG DAPAT MENDATANGKAN INDULGENSI

SECARA UMUM:

Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang, dalam melaksanakan kewajibannya dan dalam menanggung pencobaan-pencobaan hidupnya, mengangkat akal budi mereka dengan penuh percaya dan rendah hati kepada Tuhan, dan menyerukan – bahkan jika hanya secara batin – seruan-seruan saleh (misalnya “Bunda Maria, doakanlah kami”, dsbnya).
Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan semangat iman dan belas kasihan memberikan dirinya atau harta miliknya untuk melayani sesamanya yang membutuhkan.
Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan semangat silih secara sukarela menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mereka senangi.
Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang menjadi saksi iman di lingkungan bukan Katolik (hal ini bahkan dapat sangat sederhana seperti berdoa di sebuah restaurant!).
BERBAGAI MACAM DOA YANG MENDATANGKAN INDULGENSI:

Rosario (indulgensi seluruhnya apabila didaraskan di gereja, atau dalam kelompok atau dalam keluarga, indulgensi sebagian di luar kondisi tersebut).
Jalan Salib, Syahadat Nicea (indulgensi seluruhnya).
Litani Hati Yesus yang Mahakudus, Litani Santa Perawan Maria atau Litani Orang Kudus (indulgensi sebagian).
Ratu Surga, Syahadat Para Rasul, Tanda Salib, doa untuk panggilan hidup religius dan imamat (indulgensi sebagian).
BERBAGAI MACAM PERBUATAN YANG MENDATANGKAN INDULGENSI:

Mengunjungi makam dan berdoa bagi mereka yang sudah meninggal (indulgensi penuh dari tanggal 1 hingga 8 November, dan indulgensi sebagian untuk hari-hari lainnya. Indulgensi ini diperuntukkan bagi jiwa-jiwa di api penyucian).
Sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus (indulgensi sebagian, indulgensi seluruhnya jika sembah sujud lebih dari setengah jam).
Membaca Kitab Suci (indulgensi sebagian, indulgensi seluruhnya apabila lebih dari setengah jam).
Mengajar atau belajar ajaran Gereja (indulgensi sebagian).
Meluangkan waktu sedikitnya tiga hari dalam suatu retret (indulgensi seluruhnya).
Ambil bagian dalam Penghormatan Salib dalam Ibadat Jumat Agung dan mencium salib dengan khidmat (indulgensi seluruhnya).
Pembaharuan Janji Baptis (indulgensi sebagian, indulgensi seluruhnya jika pembaharuan Janji Baptis dilakukan pada Malam Paskah atau pada peringatan pembaptisan seseorang).
Catatan: masih ada banyak macam dan ragam indulgensi lainnya.

TAHUKAH KAMU?

Meskipun kamu tidak dapat mempergunakan indulgensi yang kamu peroleh bagi orang lain yang masih hidup (mereka harus mendapatkan indulgensi mereka sendiri!) kamu dapat memohon kepada Tuhan untuk mempergunakan indulgensi yang kamu peroleh untuk membebaskan jiwa-jiwa di api penyucian. Juga jangan lupa memohon bantuan doa dari jiwa-jiwa menderita itu agar mendoakanmu jika kelak mereka telah tiba di surga; tanpa kamu sadari kamu telah menjalin persaudaraan dengan para kudus di surga!

Posted by: yohanes tantama | March 5, 2016

Apa Itu Indulgensi ( I )

sumber : :”Indulgences: the treasures of the Catholic Church”; Catholic Youth Networking; http://www.catholicyouth.freeservers.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”
APA ITU INDULGENSI?

Indulgensi adalah harta pusaka surgawi yang istimewa yang dianugerahkan Gereja kepada kita untuk melunasi hutang dosa kita kepada Tuhan serta untuk memulihkan luka-luka jiwa kita yang diakibatkan oleh dosa.

Tuhan memberikan wewenang kepada Gereja untuk memberikan indulgensi atas perbuatan-perbuatan atau doa-doa tertentu, sehingga ketika kita melakukan perbuatan atau doa tersebut, kita boleh memperoleh indulgensi.

Meskipun indulgensi tidak dapat dipergunakan untuk orang lain yang masih hidup (mereka harus memperoleh indulgensinya sendiri!), kita dapat membantu jiwa-jiwa di api penyucian agar lebih cepat tiba di surga dengan mempergunakan indulgensi yang kita terima untuk membantu mereka melunasi hutang dosa mereka kepada Tuhan.

MENGAPA KITA MEMERLUKAN INDULGENSI?

Kamu mungkin berpikir, “Tetapi, bukankah saya sudah menerima Sakramen Tobat dan Tuhan sudah mengampuni dosa-dosa saya! Mengapa saya masih memiliki “hutang” kepada Tuhan?”

Frank Sheed, seorang pengkhotbah Katolik dari Inggris yang terkenal, menjawabnya demikian: Dosa adalah seperti menancapkan sebuah paku pada sepotong kayu. Ketika kamu mengakukan dosa-dosamu pada imam, dan Tuhan mengampunimu, sama halnya seperti mencabut paku dari kayu tersebut. Paku sudah tidak ada lagi, tetapi lubang yang ditimbulkannya tetap ada dan harus diperbaiki. Dengan berdosa kita telah melukai jiwa kita dan sekarang kita harus memulihkan kembali luka-luka itu.

Karena Dosa Asal (dosa ketidaktaatan Adam dan Hawa di taman Eden), manusia cenderung berbuat dosa daripada melakukan yang baik. Setiap dosa melukai jiwa kita dengan membuatnya lebih sulit untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa yang sama di waktu mendatang. Bahkan setelah kita bertobat, kita masih harus mengatasi kecenderungan ini dengan penitensi. Para kudus memahami hal ini dengan baik sekali; mereka seringkali melakukan matiraga atau silih agar dapat lebih menguasai keinginan-keinginan mereka.

Namun demikian, karena kita tidak dapat melihat luka yang diakibatkan oleh dosa pada jiwa kita, kita seringkali tidak cukup menyesali dosa-dosa kita itu; kita lupa untuk berdoa serta lupa melakukan silih. Karenanya, jiwa kita harus dibersihkan, baik dalam masa kita hidup di dunia melalui berbagai pencobaan, atau kelak – sesudah kita meninggal – di api penyucian. Tuhan, melalui gereja-Nya, menyediakan bagi kita suatu “bonus” bagi doa dan silih yang kita lakukan, yaitu indulgensi. Jika kita melakukan suatu perbuatan atau mendaraskan suatu doa yang dinyatakan oleh Gereja dapat mendatangkan indulgensi (misalnya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, mendaraskan doa Rosario dll), Gereja mempergunakan harta pusaka-Nya berupa jasa-jasa Kristus untuk “menebus” sebagian atau seluruh hutang dosa kita kepada Tuhan serta menyucikan jiwa kita bagi kita, selama kita mempunyai niat untuk memperoleh indulgensi.

Seorang biarawati dalam biaraSt. Theresia dari Avila, menyadari pentingnya indulgensi dan tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk memperolehnya. Ketika biarawati itu meninggal, St. Theresia sangat terkejut melihat jiwa biarawati tersebut langsung naik menuju surga tanpa melalui api penyucian! Karena biarawati tersebut tampaknya biasa-biasa saja, St. Theresia bertanya kepada Yesus apa sebabnya jiwa biarawati tersebut dapat langsung menuju surga. Yesus menjawab bahwa itu semua karena semua indulgensi yang dengan setia diperolehnya, sang biarawati telah membayar lunas semua hutang dosanya kepada Tuhan, sehingga jiwanya bersih dan tak bernoda pada saat kematiannya!

HARTA PUSAKA GEREJA

Gereja Katolik mempunyai wewenang untuk memberikan indulgensi karena gereja memperolehnya dari kekayaan tak terhingga jasa-jasa Kristus, Bunda Maria dan semua orang kudus. Beata Maria dari Quito, seorang biarawati Spanyol, melihat dalam suatu penglihatan suatu harta pusaka yang berlimpah, yang – diterangkan kepadanya oleh Tuhan – melambangkan segala rahmat dan jasa-jasa Yesus (harta pusaka Gereja!) dari mana indulgensi diperoleh. Segala rahmat dan jasa-jasa ini dapat diperoleh siapa saja yang memenuhi persyaratan, yang biasanya amat mudah, untuk memperoleh indulgensi. Umat beriman yang tidak peduli untuk mendapatkan keuntungan dari indulgensi ini dapat diumpamakan seperti seorang pengembara yang melewati suatu padang penuh dengan perhiasan berharga, yang tidak mau merepotkan diri untuk memungut dan mengisi kantungnya dengan harta pusaka itu, meskipun ia tahu bahwa ia akan memerlukan harta tersebut setibanya di tempat tujuan.

Gereja menerima wewenang untuk memberikan indulgensi dari Yesus, yaitu ketika Ia memberikan kunci kerajaan Surga kepada Petrus,“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19) Dalam bahasa modern, mungkin Yesus akan mengatakan, “Aku memberimu PIN untuk rekening bank surgawi-Ku.”

Pada abad kelimabelas dan keenambelas, Gereja memberikan indulgensi kepada mereka yang memberikan sumbangan untuk pembangunan katedral-katedral indah yang sedang dibangun pada saat itu. Sayang sekali, hal tersebut menimbulkan salah tafsir bahwa Gereja menjual indulgensi untuk mendapatkan uang. Sebagai akibatnya, kaum reformasi Protestan masa itu menolak mentah-mentah ajaran tentang indulgensi karena menganggapnya sebagai penyalahgunaan kuasa Gereja. Tentu saja mereka salah; meski pun mungkin ada beberapa penyalahgunaan, tetapi kuasa Gereja untuk memberikan indulgensi diberikan oleh Tuhan sendiri. Kaum Protestan itu ada benarnya juga ketika mengatakan bahwa kita tidak dapat sekedar membeli indulgensi seperti obat “mujarab” bagi jiwa kita! Kita harus mempunyai semangat penyesalan atas dosa-dosa kita agar dapat memperoleh manfaat indulgensi.

Posted by: yohanes tantama | February 27, 2016

Belajar membaca dan memaknai Kitab Suci dari Scott Hahn

Belajar dari Scott Hahn (penulis Rome Sweet Home) bagaimana membaca dan memaknai kitab suci (diambil dr bacaan harian 28 Pebruari)

Keluaran 3 : 1-8 , 13-15. Mazmur 103 : 1-11. Korintus 10:1-12 Lukas 13: 1-9

Mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham (lihat Keluaran 02:24), Allah turun untuk menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan Mesir. Setia bahwa perjanjian yang sama (lihat Lukas 1: 54-55, 72-73), Dia mengutus Yesus untuk menebus semua kehidupan dari kehancuran, seperti yang mazmur katakan kepada kita hari ini (Mazmur 103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia)

Dalam suratnya hari ini Paulus berkata bahwa peristiwa penyelamatan Allah dalam Keluaran tersebut dituliskan kembali didalam Gereja, Yang dimaksud adalah simbol simbol yang di jalankan didalam gereja yaitu Pembaptisan kita sendiri dengan air, pembebasan kita dari dosa, makanan dan minuman rohani yang kita terima.

Peristiwa pembebasan bangsa Israel ini diberikan sebagai sebuah peringatan bahwa dengan menjadi “anak Abraham” , tidak ada jaminan bahwa kita akan mencapai tanah terjanji dari keselamatan kita

Setiap saat, Yesus memperingatkan kita dalam Injil hari ini, bahwa kita bisa binasa ( bukan sebagai hukuman Allah karena kita adalah “orang-orang berdosa besar” -) tetapi karena, seperti orang Israel di padang gurun, kita sendirilah yang tersandung ke dalam keinginan jahat, menggerutu, serta melupakan segala kebaikan-Nya.

Yesus memanggil kita hari ini untuk “bertobat” – bukan hanya satu kali saja merubah hati kita, tapi terus menerus, setiap hari kita harus merubah kehidupan kita. Kita dipanggil untuk setiap hari menjalani hidup kita dengan memuji Allah sesuai Mazmur hari ini – berkat nama-Nya yang kudus, Bersyukur atas kebaikan dan rahmatNya.
Pohon ara dalam perumpamaan-Nya dalam perjanjian lama adalah simbol untuk bangsa Israel yang cukup familiar (lihat Yeremia 8: 3; 24: 1-10). Seperti pohon ara diberikan satu musim yang terakhir untuk menghasilkan buah sebelum ditebang, demikian juga Yesus memberi Israel satu kesempatan terakhir untuk menghasilkan buah yang baik sebagai bukti pertobatan (lihat Lukas 3: 8).

Masa Pra Paskah, bagi kita adalah seperti pohon ara yang diberikan kesempatan atau penanguhan hukuman , suatu masa dimana kita membiarkan Kristus sebagai “tukang kebun” untuk mengolah hati kita. Membuang penghalang bagi kehidupan Ilahi dalam diri kita dan menguatkan kita agar bisa menghasilkan buah yang akan bertahan dalam kehidupan kekal.

Posted by: yohanes tantama | February 3, 2016

Jadwal Retret Pertapaan Karmel, Tumpang Malang untuk tahun 2016

Jadwal Retret Pertapaan Karmel, Tumpang Malang untuk tahun 2016

JANUARI 2016
1          Tahun Baru
8-10   R. Kerahiman Allah (Umum)
11-13  Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)

FEBRUARI 2016
11-14  R. Awal (Umum)

MARET 2016
3-6      R.Penyembuhan Luka Batin (Umum)
15-17   Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)
24-27  Paket Paskah

APRIL 2016
7-10     R. Pohon Keluarga (Umum)
21-24   R. Pelayanan dalam Kuasa Roh Kudus (Umum)

MEI 2016
10-12   Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)
13-15    R. Roh Kudus Datanglah (Umum)
15         Pentakosta
26-29  R. Awal (Umum)

JUNI 2016
2-5       R. Penyembuhan Luka Batin (Umum)
13-19   Camping Siswa (utk kelas 8 s/d 12)
23-26  Camping SD (utk kelas 4s/d 7)

JULI 2016
4-14     Libur Idul Fitri (tidak terima tamu)
25-31   Camping Mahasiswa dan Pekerja Muda

(catatan : acara bulan juni-juli dapat berubah sewaktu-waktu)

AGUSTUS 2016
9-11      Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)
12-14    R. Doa Bapa Kami (umum)
25-28   R. Awal (umum)

SEPTEMBER 2016
12-18    R. Mengatasi Kelemahan (umum)

OKTOBER 2016
6-9       R. Penyembuhan Luka Batin (umum)
11-13    Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)

NOVEMBER 2016
3-6       R. Bertumbuh dalam Iman (umum)
19         Adorasi sepanjang hari (umum) – 09.00-17.00 WIB
21-30  R. Komunitas (tidak terima tamu)

DESEMBER 2016
8-11      R. Awal (umum)
23-25   Paket Natal
31/12-1/1 Malam Tahun Baru

Tks …

Tuhan memberkati …

Posted by: yohanes tantama | February 2, 2016

10 point penting dalam membaca Kitab Suci

10 point penting dalam membaca Kitab Suci
1. Bacalah Kitab Suci pada saat anda berdoa setiap hari. Membaca kitab suci akan memberi inspirasi dan relasi kita dengan Tuhan akan bertumbuh. Kita akan semakin mengerti apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita

2. Mulai dan akhirilah dengan doa agar roh Kudus membimbing hati dan pikiran dalam memahami sabda Tuhan. Mengakhiri dengan doa agar sabda tersebut memenuhi hati kita, menyucikan kita dan membuat kita menjadi manusia yg penuh harapan

3.Pilihlah Kitab Suci katholik, karena didalamnya ada “imprimatur” untuk menandakan bahwa isinya sesuai dengan ajaran Katholik

4. Kitab Suci bukanlah satu buku tapi kumpulan bermacam tulisan (73 buah yang dibuat dalam beberapa abad. Ada cerita cerita kerajaan, sejarah, puisi, surat surat untuk menumbuhkan harapan, doa doa dan ajaran mengenai jesus. Kita harus tahu buku yg kita baca itu masuk jenis yang mana agar bisa memahami pengertian yang akan disampaikan penulis

5.Kitab Suci adalah kisah relasi Allah dengan manusia yang Dia panggil. Tidak bisa dibaca seperti membaca buku sejarah, pengetahuan ataupun politik. Dalam kitab suci Allah mengajari kita bagaimana kita percaya akan karya penyelamatan yang Dia lakukan

6.Bacalah Kita Suci sesuai konteksnya. Apa yang terjadi sebelum dan yang akan terjadi, mungkin juga dilihat dari buku yang lain supaya kita mengerti maksud teks kita yang kita baca (kita harus mengerti apa maksud / isi keseluruhan kitab suci tersebut)

7.Apabila membaca perjanjian lama harus dalam terang perjanjian baru (kematian dan kebangkitan Jesus) supaya kita bisa menangkap nilai yang ada didalamnya dengan baik. Kedua perjanjian tersebut akan membantu kita mengerti rencana Allah untuk manusia

8.Kita bisa membaca bersama sama dengan teman lain untuk saling menguatkan pengertian yang akan kita dapat dan bagaimana mengaplikannya dalam kehidupan sehari hari. Bacalah sesuai dengan tradisi gereja kita supaya kita disucikan dan menjadi lebih bijaksana
9.Tanyakanlah apa yang Tuhan katakan kepada saya? Kitab suci diperuntukkan buat kita semua dengan situasi kita yang berbeda beda.Saat kita membaca, kita harus mengerti apa yang dikatakan Tuhan buat kita dan membuat kita mengerti apa yang telah kita lalui dalam hidup

10.Membaca saja tidak cukup, kita harus lakukan dalam kehidupan kita
Sumber : United States conference of Catholics ‘s website

Posted by: yohanes tantama | June 18, 2015

Jadwal Retret di Tumpang , bulan Juni – Desember 2015

Juni

4-7 Juni Retret Penyembuhan Batin

18-21 Camping SD

22 – 28 Camping Siswa

Juli

6-12 Camping Mahasiswa dan Pekerja Muda

16-23 Libur Idul Fitri (tdk menerima tamu)

Agustus

11-13 Hari Doa Komunitas (tdk menerima tamu)

20-23 Retret penyelenggaraan Ilahi

27-30 Retret Awal

September

17-20 Retret Penyembuhan Batin

Oktober

2-4 Retret Maria

6-8 Hari Doa Komunitas (tdk menerima tamu)

17 Adorasi (jam 9.00 sd 17.00)

22-25 Retret Pohon Keluarga

Nopember

5-8 : Retret Awal

17-26 Retret Komunitas (tdk menerima tamu)

Desember

10-13 Retret Penyembuhan batin

24-26 Paket Natal

31 des – 1 jan 2016 : malam Tahun Baru

Posted by: yohanes tantama | May 25, 2015

TANGGUNG JAWAB MELAYANI

Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus. Barangsiapa menyatakan diri murid Kristus, “ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Kristus yang “mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:7), tidak ada artinya, kalau para murid-Nya mengambil rupa penguasa. Pelayanan berarti mengikuti jejak Kristus. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya” (Mat 10:24). Perwujudan iman Kristiani adalah pelayanan, maka iman Kristiani tidak pernah menjadi alasan untuk merasa diri lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, “barangsiapa meninggikan dirinya, akan direndahkan” (Mat 23:12 dsj.).

Iman Kristen adalah rahmat Tuhan, dan oleh karena itu bukanlah barang yang harus dibanggakan. Paulus berkata, “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1Kor 4:7). Dan Yesus berkata: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Pelayanan Kristiani yang termasuk sikap pokok para pengikut Kristus bukan sesuatu yang sangat istimewa.

Namun itu tidak berarti bahwa orang Kristen adalah orang bodoh saja, yang hanya menjalankan tugas yang kebetulan jatuh pada mereka. Konsili Vatikan II menyatakan “Menyimpanglah dari kebenaran, mereka yang mengira bahwa boleh melalaikan tugas kewajiban di dunia (karena kita mencari dunia yang akan datang), dan tidak mengindahkan, bahwa justru karena iman sendiri kita lebih terikat untuk menjalankan tugas-tugas itu, menurut panggilan masing-masing” (GS 43). Sebab, “manusia, yang diciptakan menurut citra Allah, diberi titah supaya menaklukkan bumi dalam keadilan dan kesucian” (GS 34).

Dalam usaha pembangunan itu perlu diperhatikan, bahwa “keadilan yang lebih sempurna, persaudaraan yang lebih luas, cara hidup sosial yang lebih manusiawi, semua itu lebih berharga daripada kemajuan di bidang teknologi” (GS 35). Maka justru dalam bidang pembangunan tampillah kebutuhan akan pelayanan, sebab “hubungan persaudaraan antara manusia hanya akan tercapai dalam kebersamaan pribadi dengan sikap saling menghormati” (GS 23). Oleh karena itu Gereja menegaskan supaya “setiap orang memandang sesamanya, tanpa kecuali, sebagai ‘dirinya yang lain’ dan mementingkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan supaya hidup secara layak” (GS 27).

Konsili memakai kata “mementingkan”, mengindahkan, dan bukan mengurusi. Maksudnya, orang yang satu harus memberi kesempatan hidup kepada orang lain, mengakui haknya, baik pribadi maupun sosial, membiarkan orang lain hidup dengan caranya sendiri, mengakui kebebasan dan kemerdekaannya. Tetapi itu tidak sama dengan sikap acuh tak-acuh. Orang Kristen tidak hanya bertanggung jawab terhadap Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus, tetapi juga terhadap orang lain itu, dengan menjadi sesamanya (bdk. Luk 10:25-37).

Tanggung jawab selalu bersifat pribadi, dan itu kewajiban orang perorangan. Yang mempunyai tanggung jawab bukan lembaga, juga bukan masyarakat dan negara, melainkan orang-orang yang mengarahkannya. Bahkan setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk masyarakat sebagai anggotanya. Tentu saja, masing-masing menurut kedudukan dan kemampuannya: ”Yang kepadanya diberi banyak, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa banyak dipercayakan, dari padanya akan dituntut lebih banyak lagi” (Luk 12:48). Tetapi semua ikut bertanggung jawab bersama. Maka tanggung jawab itu tidak pertama-tama bersifat materiil, sebab tidak semua orang mampu mengusahakan dan menjamin kesejahteraan materi. Tetapi setiap orang bertanggung jawab atas kehormatan bagi pribadi manusia.

Dalam usaha pelayanan janganlah yang lain menjadi objek belas kasihan. Pelayanan berarti kerjasama, di dalamnya semua orang merupakan subjek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harkat, martabat, harga diri, bukan kemajuan dan bantuan sosial-ekonomis, yang hanyalah sarana. Tentu sarana-sarana juga penting, dan tidak bisa dilewatkan begitu saja, namun yang pokok ialah sikap pelayanan itu sendiri. Orang Kristen dituntut supaya mengembangkan sikap pelayanan, sebagai intisari sikap Kristus, bukan hanya dalam orang yang melayani, melainkan juga dalam dia yang dilayani, membantu orang supaya menyadari dan menghayati, bahwa kemerdekaan itu kesempatan melayani seorang akan yang lain (lih. Gal 5: 13). Saling melayani, sebagai prinsip dasar kehidupan bersama dalam masyarakat itu tidak gampang. Gereja dipanggil menjadi pelopor pelayanan, hadir pada orang lain sebagai sesamanya. Itulah hidup Kristus, itulah panggilan Gereja.

 

dikutip dari http://www.pendalamanimankatolik.com

Posted by: yohanes tantama | May 25, 2015

TUGAS MELAYANI

Gereja adalah persekutuan orang beriman, komunikasi iman. Dalam proses komunikasi iman itu dibedakan dua macam: pengajaran dan perayaan. Yang satu komunikasi dengan kata-kata, baik dalam katekese yang biasa maupun dalam pengajaran pimpinan Gereja yang resmi; yang lain komunikasi iman dalam ibadat bersama. Yang pokok bukanlah rumusan iman atau kebaktian, melainkan penghayatan dan pengamalan iman. Bahkan Gereja “wajib mengakui iman di muka orang-orang” (LG 11), sebab “berkat iman kita menerima pengertian tentang makna hidup kita yang fana” (LG 48). “Iman menyinari segala sesuatu dengan cahaya yang baru, dan memaparkan rencana ilahi tentang seluruh panggilan manusia” (GS 11).

Oleh karena itu, pengungkapan iman saja tidak cukup. Gereja sendiri bukan tujuan; “tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia” (LG 9). “Oleh karena itu, berdasarkan Injil yang dipercayakan kepadanya, Gereja mewartakan hak-hak manusia dan mengakui serta menjunjung tinggi dinamisme zaman sekarang” (GS 41). “Manusialah, dalam kesatuan dan keutuhannya, beserta jiwa maupun raganya, dengan hati serta nuraninya, dengan budi dan kehendaknya” adalah paras segala kegiatan Gereja (GS 3).

Yesus pernah bersabda: “Sabat untuk manusia, dan bukan manusia untuk Sabat” (Mrk 2:27). Berpedoman pada sabda Yesus itu kiranya dapat dikatakan bukan manusia untuk Gereja, dengan segala ajaran dan ibadatnya, melainkan Gereja untuk manusia. “Sementara Gereja membantu dunia dan menerima banyak dari dunia, yang dimaksudkannya hanyalah ini: supaya datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa manusia” (GS 45). Gereja dipanggil supaya melayani manusia, seluruh umat manusia.

 

Dikutip dari http://www.pendalamanimankatolik.com

Posted by: yohanes tantama | May 5, 2015

St Joseph Church – Singapore

20150429_063419 20150429_063555

20150429_061739

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam.

Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa.

Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya,

“Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

Sebagian besar murid-murid itu menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu tau aku buta!!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!”

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab. Kata si murid,

“Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya.

Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal.

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.

Dia menulis di buku harian itu,

“Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan.

Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.
…………………11052518_10202958809725134_4189427577995856227_n

 

Share dari facebook teman saya. Terimakasih buat yang sudah mengisahkan

Yohanes

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers