Posted by: yohanes tantama | February 3, 2016

Jadwal Retret Pertapaan Karmel, Tumpang Malang untuk tahun 2016

Jadwal Retret Pertapaan Karmel, Tumpang Malang untuk tahun 2016

JANUARI 2016
1          Tahun Baru
8-10   R. Kerahiman Allah (Umum)
11-13  Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)

FEBRUARI 2016
11-14  R. Awal (Umum)

MARET 2016
3-6      R.Penyembuhan Luka Batin (Umum)
15-17   Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)
24-27  Paket Paskah

APRIL 2016
7-10     R. Pohon Keluarga (Umum)
21-24   R. Pelayanan dalam Kuasa Roh Kudus (Umum)

MEI 2016
10-12   Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)
13-15    R. Roh Kudus Datanglah (Umum)
15         Pentakosta
26-29  R. Awal (Umum)

JUNI 2016
2-5       R. Penyembuhan Luka Batin (Umum)
13-19   Camping Siswa (utk kelas 8 s/d 12)
23-26  Camping SD (utk kelas 4s/d 7)

JULI 2016
4-14     Libur Idul Fitri (tidak terima tamu)
25-31   Camping Mahasiswa dan Pekerja Muda

(catatan : acara bulan juni-juli dapat berubah sewaktu-waktu)

AGUSTUS 2016
9-11      Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)
12-14    R. Doa Bapa Kami (umum)
25-28   R. Awal (umum)

SEPTEMBER 2016
12-18    R. Mengatasi Kelemahan (umum)

OKTOBER 2016
6-9       R. Penyembuhan Luka Batin (umum)
11-13    Hari Doa Komunitas (tidak terima tamu)

NOVEMBER 2016
3-6       R. Bertumbuh dalam Iman (umum)
19         Adorasi sepanjang hari (umum) – 09.00-17.00 WIB
21-30  R. Komunitas (tidak terima tamu)

DESEMBER 2016
8-11      R. Awal (umum)
23-25   Paket Natal
31/12-1/1 Malam Tahun Baru

Tks …

Tuhan memberkati …

Posted by: yohanes tantama | February 2, 2016

10 point penting dalam membaca Kitab Suci

10 point penting dalam membaca Kitab Suci
1. Bacalah Kitab Suci pada saat anda berdoa setiap hari. Membaca kitab suci akan memberi inspirasi dan relasi kita dengan Tuhan akan bertumbuh. Kita akan semakin mengerti apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita

2. Mulai dan akhirilah dengan doa agar roh Kudus membimbing hati dan pikiran dalam memahami sabda Tuhan. Mengakhiri dengan doa agar sabda tersebut memenuhi hati kita, menyucikan kita dan membuat kita menjadi manusia yg penuh harapan

3.Pilihlah Kitab Suci katholik, karena didalamnya ada “imprimatur” untuk menandakan bahwa isinya sesuai dengan ajaran Katholik

4. Kitab Suci bukanlah satu buku tapi kumpulan bermacam tulisan (73 buah yang dibuat dalam beberapa abad. Ada cerita cerita kerajaan, sejarah, puisi, surat surat untuk menumbuhkan harapan, doa doa dan ajaran mengenai jesus. Kita harus tahu buku yg kita baca itu masuk jenis yang mana agar bisa memahami pengertian yang akan disampaikan penulis

5.Kitab Suci adalah kisah relasi Allah dengan manusia yang Dia panggil. Tidak bisa dibaca seperti membaca buku sejarah, pengetahuan ataupun politik. Dalam kitab suci Allah mengajari kita bagaimana kita percaya akan karya penyelamatan yang Dia lakukan

6.Bacalah Kita Suci sesuai konteksnya. Apa yang terjadi sebelum dan yang akan terjadi, mungkin juga dilihat dari buku yang lain supaya kita mengerti maksud teks kita yang kita baca (kita harus mengerti apa maksud / isi keseluruhan kitab suci tersebut)

7.Apabila membaca perjanjian lama harus dalam terang perjanjian baru (kematian dan kebangkitan Jesus) supaya kita bisa menangkap nilai yang ada didalamnya dengan baik. Kedua perjanjian tersebut akan membantu kita mengerti rencana Allah untuk manusia

8.Kita bisa membaca bersama sama dengan teman lain untuk saling menguatkan pengertian yang akan kita dapat dan bagaimana mengaplikannya dalam kehidupan sehari hari. Bacalah sesuai dengan tradisi gereja kita supaya kita disucikan dan menjadi lebih bijaksana
9.Tanyakanlah apa yang Tuhan katakan kepada saya? Kitab suci diperuntukkan buat kita semua dengan situasi kita yang berbeda beda.Saat kita membaca, kita harus mengerti apa yang dikatakan Tuhan buat kita dan membuat kita mengerti apa yang telah kita lalui dalam hidup

10.Membaca saja tidak cukup, kita harus lakukan dalam kehidupan kita
Sumber : United States conference of Catholics ‘s website

Posted by: yohanes tantama | June 18, 2015

Jadwal Retret di Tumpang , bulan Juni – Desember 2015

Juni

4-7 Juni Retret Penyembuhan Batin

18-21 Camping SD

22 – 28 Camping Siswa

Juli

6-12 Camping Mahasiswa dan Pekerja Muda

16-23 Libur Idul Fitri (tdk menerima tamu)

Agustus

11-13 Hari Doa Komunitas (tdk menerima tamu)

20-23 Retret penyelenggaraan Ilahi

27-30 Retret Awal

September

17-20 Retret Penyembuhan Batin

Oktober

2-4 Retret Maria

6-8 Hari Doa Komunitas (tdk menerima tamu)

17 Adorasi (jam 9.00 sd 17.00)

22-25 Retret Pohon Keluarga

Nopember

5-8 : Retret Awal

17-26 Retret Komunitas (tdk menerima tamu)

Desember

10-13 Retret Penyembuhan batin

24-26 Paket Natal

31 des – 1 jan 2016 : malam Tahun Baru

Posted by: yohanes tantama | May 25, 2015

TANGGUNG JAWAB MELAYANI

Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus. Barangsiapa menyatakan diri murid Kristus, “ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Kristus yang “mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:7), tidak ada artinya, kalau para murid-Nya mengambil rupa penguasa. Pelayanan berarti mengikuti jejak Kristus. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya” (Mat 10:24). Perwujudan iman Kristiani adalah pelayanan, maka iman Kristiani tidak pernah menjadi alasan untuk merasa diri lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, “barangsiapa meninggikan dirinya, akan direndahkan” (Mat 23:12 dsj.).

Iman Kristen adalah rahmat Tuhan, dan oleh karena itu bukanlah barang yang harus dibanggakan. Paulus berkata, “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1Kor 4:7). Dan Yesus berkata: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Pelayanan Kristiani yang termasuk sikap pokok para pengikut Kristus bukan sesuatu yang sangat istimewa.

Namun itu tidak berarti bahwa orang Kristen adalah orang bodoh saja, yang hanya menjalankan tugas yang kebetulan jatuh pada mereka. Konsili Vatikan II menyatakan “Menyimpanglah dari kebenaran, mereka yang mengira bahwa boleh melalaikan tugas kewajiban di dunia (karena kita mencari dunia yang akan datang), dan tidak mengindahkan, bahwa justru karena iman sendiri kita lebih terikat untuk menjalankan tugas-tugas itu, menurut panggilan masing-masing” (GS 43). Sebab, “manusia, yang diciptakan menurut citra Allah, diberi titah supaya menaklukkan bumi dalam keadilan dan kesucian” (GS 34).

Dalam usaha pembangunan itu perlu diperhatikan, bahwa “keadilan yang lebih sempurna, persaudaraan yang lebih luas, cara hidup sosial yang lebih manusiawi, semua itu lebih berharga daripada kemajuan di bidang teknologi” (GS 35). Maka justru dalam bidang pembangunan tampillah kebutuhan akan pelayanan, sebab “hubungan persaudaraan antara manusia hanya akan tercapai dalam kebersamaan pribadi dengan sikap saling menghormati” (GS 23). Oleh karena itu Gereja menegaskan supaya “setiap orang memandang sesamanya, tanpa kecuali, sebagai ‘dirinya yang lain’ dan mementingkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan supaya hidup secara layak” (GS 27).

Konsili memakai kata “mementingkan”, mengindahkan, dan bukan mengurusi. Maksudnya, orang yang satu harus memberi kesempatan hidup kepada orang lain, mengakui haknya, baik pribadi maupun sosial, membiarkan orang lain hidup dengan caranya sendiri, mengakui kebebasan dan kemerdekaannya. Tetapi itu tidak sama dengan sikap acuh tak-acuh. Orang Kristen tidak hanya bertanggung jawab terhadap Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus, tetapi juga terhadap orang lain itu, dengan menjadi sesamanya (bdk. Luk 10:25-37).

Tanggung jawab selalu bersifat pribadi, dan itu kewajiban orang perorangan. Yang mempunyai tanggung jawab bukan lembaga, juga bukan masyarakat dan negara, melainkan orang-orang yang mengarahkannya. Bahkan setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk masyarakat sebagai anggotanya. Tentu saja, masing-masing menurut kedudukan dan kemampuannya: ”Yang kepadanya diberi banyak, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa banyak dipercayakan, dari padanya akan dituntut lebih banyak lagi” (Luk 12:48). Tetapi semua ikut bertanggung jawab bersama. Maka tanggung jawab itu tidak pertama-tama bersifat materiil, sebab tidak semua orang mampu mengusahakan dan menjamin kesejahteraan materi. Tetapi setiap orang bertanggung jawab atas kehormatan bagi pribadi manusia.

Dalam usaha pelayanan janganlah yang lain menjadi objek belas kasihan. Pelayanan berarti kerjasama, di dalamnya semua orang merupakan subjek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harkat, martabat, harga diri, bukan kemajuan dan bantuan sosial-ekonomis, yang hanyalah sarana. Tentu sarana-sarana juga penting, dan tidak bisa dilewatkan begitu saja, namun yang pokok ialah sikap pelayanan itu sendiri. Orang Kristen dituntut supaya mengembangkan sikap pelayanan, sebagai intisari sikap Kristus, bukan hanya dalam orang yang melayani, melainkan juga dalam dia yang dilayani, membantu orang supaya menyadari dan menghayati, bahwa kemerdekaan itu kesempatan melayani seorang akan yang lain (lih. Gal 5: 13). Saling melayani, sebagai prinsip dasar kehidupan bersama dalam masyarakat itu tidak gampang. Gereja dipanggil menjadi pelopor pelayanan, hadir pada orang lain sebagai sesamanya. Itulah hidup Kristus, itulah panggilan Gereja.

 

dikutip dari http://www.pendalamanimankatolik.com

Posted by: yohanes tantama | May 25, 2015

TUGAS MELAYANI

Gereja adalah persekutuan orang beriman, komunikasi iman. Dalam proses komunikasi iman itu dibedakan dua macam: pengajaran dan perayaan. Yang satu komunikasi dengan kata-kata, baik dalam katekese yang biasa maupun dalam pengajaran pimpinan Gereja yang resmi; yang lain komunikasi iman dalam ibadat bersama. Yang pokok bukanlah rumusan iman atau kebaktian, melainkan penghayatan dan pengamalan iman. Bahkan Gereja “wajib mengakui iman di muka orang-orang” (LG 11), sebab “berkat iman kita menerima pengertian tentang makna hidup kita yang fana” (LG 48). “Iman menyinari segala sesuatu dengan cahaya yang baru, dan memaparkan rencana ilahi tentang seluruh panggilan manusia” (GS 11).

Oleh karena itu, pengungkapan iman saja tidak cukup. Gereja sendiri bukan tujuan; “tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia” (LG 9). “Oleh karena itu, berdasarkan Injil yang dipercayakan kepadanya, Gereja mewartakan hak-hak manusia dan mengakui serta menjunjung tinggi dinamisme zaman sekarang” (GS 41). “Manusialah, dalam kesatuan dan keutuhannya, beserta jiwa maupun raganya, dengan hati serta nuraninya, dengan budi dan kehendaknya” adalah paras segala kegiatan Gereja (GS 3).

Yesus pernah bersabda: “Sabat untuk manusia, dan bukan manusia untuk Sabat” (Mrk 2:27). Berpedoman pada sabda Yesus itu kiranya dapat dikatakan bukan manusia untuk Gereja, dengan segala ajaran dan ibadatnya, melainkan Gereja untuk manusia. “Sementara Gereja membantu dunia dan menerima banyak dari dunia, yang dimaksudkannya hanyalah ini: supaya datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa manusia” (GS 45). Gereja dipanggil supaya melayani manusia, seluruh umat manusia.

 

Dikutip dari http://www.pendalamanimankatolik.com

Posted by: yohanes tantama | May 5, 2015

St Joseph Church – Singapore

20150429_063419 20150429_063555

20150429_061739

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam.

Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa.

Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya,

“Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

Sebagian besar murid-murid itu menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu tau aku buta!!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!”

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab. Kata si murid,

“Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya.

Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal.

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.

Dia menulis di buku harian itu,

“Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan.

Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.
…………………11052518_10202958809725134_4189427577995856227_n

 

Share dari facebook teman saya. Terimakasih buat yang sudah mengisahkan

Yohanes

Posted by: yohanes tantama | February 18, 2015

Pertemuan V APP 2015 – Keluarga mewujudkan iman dengan sukacita

KELUARGA MEWUJUDKAN IMAN DENGAN SUKA CITA

Roma 12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Fil 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah

Lukas : 1:46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.

Apabila kita memperhatikan pada 2 ayat dan 1 perikop diatas maka kita akan menemukan persamaan yaitu : Maria dan Paulus mendorong dan mengajak kita semua untuk mengambil sikap bersukacita dalam segala kondisi (yang dimulai dari mereka sebagai contoh sikap) dan dimulai dari dalam diri. Mengapa saya katakan dalam segala hal, karena kondisi Paulus dan Maria pada saat itu sama sama menghadapi tantangan yang tidak kecil. Maria dengan segala kegundahan dan keterbatasannya sebagai manusia dan kemudian hamil karena Roh Kudus untuk menjadi jalan bagi keselamatan yang akan datang melalui Yesus, sedangkan Paulus juga tidakmenghadapi tantangan yang lebih kecil, yaitu dia harus menghadapi kejaran dan ancaman penganiayaan disamping itu masih harus memberi semangat kepada seluruh pengikutnya dan mencegah mereka bertengkar sendiri maupun menjauh dari imannya. Ternyata segala tantangan dari luar itu tidak menggoyahkan mereka untuk selalu bersuka cita dan memuji Tuhan. Bagaimana itu bisa terjadi? Read More…

Posted by: yohanes tantama | February 17, 2015

Tahun 2015 – Tahun Hidup Bakti ( year of consecrated life)

Dalam pertemuan dengan para Pemimpin Umum Tarekat  Religius di Roma pada tanggal 27-29 November 2013, Paus Fransiskus mencanangkan tahun 2015 sebagai Tahun Hidup Bakti. Pada tahun yang sama Gereja memperingati 50 tahun dua dokumen penting Konsili Vatikan II, yaitu Perfectae Caritatis (Dekret Tentang Hidup Bakti) dan Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis Tentang Umat Allah). Kedua Dokumen ini secara khusus berbicara tentang hidup bakti.  Kita juga mengenang dengan rasa syukur Dokumen Konsili Ad Gentes yang berbicara tentang peran khusus komunitas hidup bakti dalam perutusan Gereja.  Tahun Hidup Bakti akan dibuka secara resmi pada tanggal 21 November 2014 dan akan ditutup pada tanggal 21 November 2015. Pada tanggal 21 November itu diperingati Santa Perawan Maria Dipersembahkan Kepada Allah. Sepanjang tahun itu seluruh umat diajak untuk berdoa dan merenungkan makna hidup bakti bagi hidup dan tugas perutusan Gereja. Hidup Bakti dipahami sebagai hidup yang dipersembahkan kepada Allah dengan kesetiaan mengikuti dan melaksanakan nasihat-nasihat Injil dalam ketaatan, kemurnian dan kemiskinan. Hidup Bakti merupakan tanda nyata dari cita-cita kesempurnaan hidup kristiani yang ditawarkan Allah kepada seluruh umat beriman.

Makna dan Tujuan Tahun Hidup Bakti
Pencanangan Tahun Hidup Bakti patutlah disyukuri sebagai ajakan kepada seluruh Gereja untuk semakin menyelami makna dan pentingnya pilihan hidup bakti sebagai salah satu bentuk panggilan khusus untuk hidup dan karya pelayanan Gereja. Lebih jauh pencanangan itu dimaksudkan untuk mengobarkan semangat dan cinta putra-putri Gereja agar semakin terbuka, lapang hati dan dengan keberanian iman menjawab panggilan Allah. Tahun Hidup Bakti patutlah dijadikan kesempatan untuk merenung dan membaharui komitmen kesetiaan kepada Tuhan, kepada pelayanan Gereja, kepada pemikiran dan cita-cita dasar pendiri tarekat masing-masing, dan kepada masyarakat pada zaman ini, meskipun ditemui banyak kesulitan dan tantangan. Kesempatan ini sungguh tepat untuk merenungkan kembali bagaimana seluruh umat beriman, khususnya kaum muda, dipanggil Allah untuk mempersembahkan seluruh hidup melalui penghayatan akan nasihat-nasihat Injil demi kemuliaan Allah dan keselamatan sesama serta keutuhan alam ciptaan. Tokoh iman yang patut dijadikan suri-teladan dalam kehidupan demikian adalah Bunda Maria, yang sungguh berserah-diri secara total kepada Allah dengan menyimpan segala perkara iman dalam hatinya dan merenungkannya.

Read More…

Posted by: yohanes tantama | August 16, 2014

Alkitab elektronik app dengan deutrokanonika

https://play.google.com/store/apps/details?id=dominicus.bernardus.ekatolik

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers