Posted by: yohanes tantama | October 25, 2007

Tawa Ibu Yang Terakhir

*_TAWA IBU YANG TERAKHIR_*
oleh Robin Lee Shope

Hanyut dalam rasa kehilangan yang mendalam, aku tidak memperhatikan kerasnya bangku yang ku duduki. Saat itu aku berada di pemakaman temanku yang sangat kukasihi – Ibuku.

Akhirnya beliau dikalahkan dalam pertempuran panjang melawan kanker.
Perasaan itu demikian menyakitkan; sehingga kadang kala sangat menyesakkan.

Selalu dengan penuh dukungan, Ibu bertepuk tangan yang paling keras ketika menonton drama disekolahku, menghabiskan sekotak tisu ketika mendengarkan kisah putus cintaku yang pertama, menghiburku ketika ayah meninggal, memberikan dorongan pada masa kuliahku, dan selalu mendoakan sepanjang hidupku.

Ketika penyakit Ibu diketahui, saudara perempuanku baru melahirkan dan saudara laki-lakiku baru menikah dengan kekasih yang dikenalnya sejak kecil, sehingga jadilah saya, anak remaja berusia dua puluh tujuh tahun tanpa beban, untuk merawatnya. Aku merasakannya sebagai suatu kehormatan.

“Sekarang apalagi, Tuhan?” tanyaku, sambil duduk di Gereja. Jalan kehidupan terbentang didepanku sebagai suatu hamparan jurang yang tak berdasar.
Saudara laki-lakiku duduk tertegun dengan wajahnya memandang salib sambil menggengam tangan isterinya. Saudara perempuanku duduk bersandar pada pundak suaminya, lengan suaminya memeluk dirinya yang sedang memangku anak mereka.
Semuanya begitu merasa berduka, sehingga tidak memperhatikan bahwa aku duduk sendirian.

Tempatku selalu bersama Ibu kami, menyiapkan makanannya, membantunya berjalan, membawanya ke dokter, memberinya obat-obatan, membaca Injil bersama-sama. Sekarang beliau sudah bersama Tuhan. Tugasku sudah selesai, dan aku merasa begitu kesepian.

Aku mendengar pintu dibuka dan ditutup dibelakang gereja. Langkah tergesa-gesa terdengar dari lantai yang berkarpet. Seorang laki-laki muda yang terlihat jengkel melihat sekeliling ruangan dengan cepat dan segera duduk di sebelahku. Dia melipat tangannya dan meletakkannya pada pangkuannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian dia mulai terisak-isak.
“Maaf saya terlambat” paparnya, walaupun sebenarnya tidak perlu penjelasan.

Setelah beberapa pidato selesai, dia memiringkan tubuhnya dan berkata, “Mengapa mereka selalu memanggil Mary dengan nama ‘Margaret’?”
“Karena namanya adalah Margaret. Bukan Mary. Tidak ada yang memanggilnya ‘Mary’,” bisikku.
Aku heran kenapa orang ini tidak duduk dibagian gereja yang lain saja.
Dia
selalu mengganggu rasa berkabungku dengan airmatanya dan kegelisahannya.
Siapa sih orang asing ini?
“Tidak, itu tidak benar” dia bersikeras, ketika beberapa orang melirik kepada kami yang berbisik-bisik.
“Namanya adalah Mary, Mary Peters.”
“Ini bukanlah upacara pemakamannya.”
“Apakah ini Gereja Luther?”
“Bukan, Gereja Luther ada diseberang jalan”
“Oh.”
“Aku rasa anda berada pada upacara pemakaman yang salah, pak”
Suasana khidmad yang bercampur dengan kenyataan akan kesalahan dari orang ini berkembang dalam diriku meledak menjadi tertawa. Aku tutup mukaku dengan kedua tanganku dan berharap agar suara tawaku terdengar sebagai isak sedih.
Suara derit bangku membantuku. Pandangan tajam dari orang yang berduka lainnya malah membuat suasana menjadi semakin menggelikan. Aku mengintip pada orang tersesat yang kebingungungan yang duduk di sebelahku. Dia juga tertawa, dan ketika melihat sekelilingnya, dia memutuskan sudah terlambat untuk meloloskan diri dari suasana yang tak terduga itu. Aku membayangkan Ibuku juga tertawa.

Pada kalimat “Amin” yang terakhir, kami bergegas keluar dan menuju tempat parkir.
“Rasanya kita akan menjadi bahan pembicaraan seluruh kota,” ujarnya sambil tersenyum.
Dia menyebutkan namanya adalah Rick dan karena dia tidak ikut pada upacara pemakaman bibinya, dia mengajak aku untuk menemaninya minum kopi.

Sore itu merupakan awal dari perjalanan panjang hidup aku bersama orang ini, yang hadir pada upacara pemakaman yang salah, tapi pada tempat yang benar.

Setahun setelah pertemuan itu, kami menikah di gereja tempat dia menjadi asisten pastor. Kali ini kami berdua tiba pada gereja yang sama, pada waktu yang tepat.

Dalam masa dukaku, Tuhan memberiku tawa.
Dalam rasa kesepianku, Tuhan memberiku cinta.
Bulan Juni yang lalu kami merayakan pesta ulang tahun perkawinan kami yang ke duapuluh-dua.

Setiap ada yang menanyakan bagaimana kami bertemu, Rick selalu mengatakan, “Ibu dia dan bibi Mary saya mempertemukan kami, dan itu sungguh merupakan perjodohan yang diatur dari surga.”

Di terjemahkan oleh: Nand


Responses

  1. Trimakasih Yesus karena Yesus rela mati demi kami umatmu {domba-MU} yg byk dosa ini. Tuhan saya Mohon kepada-MU apa apun nanti yg akan terjadi aku serahkan jiwa dan ragaku kepadamu karena kami hanya milik-MU. Walaupun kami hidup itu karena berkat-MU Bapa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: