Posted by: yohanes tantama | October 26, 2007

Lewat Sebait Doa

Peristiwa ini terjadi pada November 1999 silam, namun peristiwa inilah
> yang mengubah hidupku hingga sekarang. Saat itu masih kelas 3 SMU,
> jarak sekolah dengan rumah cukup dekat, namun sudah menjadi kebiasaan
> Papa selalu mengantar dan menjemputku. Sama seperti Jumat siang itu,
> aku menunggu Papa di depan gerbang sekolah bersama Riyan sahabatku.
>
> Saat itu hujan gerimis dan entah dorongan dari mana, aku tidak mau
> menunggu Riyan yang saat itu sedang menelepon di telepon umum koin
> samping gerbang sekolah. Padahal Riyan sudah memanggilku agar aku
> menunggunya. Maksudku hanya sederhana, supaya Papa tidak perlu
> menyeberang untuk menghampiriku karena aku sudah menunggunya di
> seberang jalan. Tapi rupanya aku kurang hati-hati, tanpa kuduga ada
> sepeda motor yang melaju cukup kencang dan aku tidak menyadari
> kendaraan itu lewat.
>
> Tiba-tiba aku merasakan gelap dan ketika aku membuka mata Riyan tengah
> menepuk-nepuk pipiku untuk menyadarkanku. Tidak ada luka sedikitpun di
> badanku. Papa datang dan menemukanku setengah sadar.
> Dengan segera Papa
> membawaku ke rumah sakit untuk mengecek keadaanku.
> sampai di rumah sakit,
> dokter menyatakan aku harus di operasi karena terjadi pembekuan
> pembuluh darah otak dari serempetan yang seberapa itu. Papa pun
> mengiyakan. Usai rambutku dibotaki operasi segera dilaksanakan. Namun
> usai operasi aku sadar sebentar dan mendapati Papa, Mama, Mas Victor
> dan De Lita menangis melihat keadaanku dengan kepala yang terbalut
> perban yang penuh dengan darah.
> Ternyata aku hanya tersadar selama 15 menit, karena menit berikutnya
> aku merasakan ketenangan yang teramat sangat. Aku berada dalam situasi
> koma.
> Seluruh keluarga besarku menangis selama berhari-hari. Semua saudara,
> teman dan semua dokter hanya berdoa untukku. Ya hanya doa…Doa yang
> meraihku kembali..
>
> Lima hari lamanya aku koma. Ketika tersadar keluarga yang menungguku
> di ruang ICU belum selesai berdoa… Aku menatap mereka… orang-orang
> terkasih yang meminta kehidupanku lagi lewat sebait doa. Usai
> kesadaranku, Mama bercerita kalau seluruh teman, sahabat, Romo, Suster
> dan semua orang yang menjengukku berdoa bersama…Dan hal itu
> dilakukan setiap hari, setiap saat.
> Tidak ada yang mereka lakukan selain berdoa untukku.
> Dan ternyata Tuhan
> benar… Dia hanya sejauh seuntai doa… Terima kasih Tuhan!
>
> Puspita
> pitapriska@yahoo.com


Responses

  1. TUHAN ku memang dahsyatttt


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: