Posted by: yohanes tantama | October 4, 2008

Yerusalem oh Yerusalem

Yerusalem Oh…Yerusalem…

Dua ribu tahun silam Yesus menangisi kota ini. Dan bila dewasa ini Yesus juga hadir dan sekali lagi menapaki lorong-lorong Yerusalem, mungkin Ia akan sekali lagi meneteskan air matanya. Kali ini mungkin bukan kedegilan warga Yerusalem yang membuatnya menangis, tetapi karena di tanah yang disebut suci ini sulit kita temukan apa artinya damai. Yerusalem secara etimologis berasal dari dua kata Ibrani yang berarti The City of Peace, kota damai. Namun bila anda pernah meninggalkan jejak kaki anda di kota suci ini maka aku yakin anda akan setuju bersama saya untuk mengatakan bahwa kedamaian tak memiliki tempatnya di Yerusalem dewasa ini.

Kota tua Yerusalem The Old City of Jerusalem (kota yang berada di balik dinding Yerusalem) kini terbagi atas 4 bagian, di samping the Dom of the Rock atau Temple Mount, mesjid yang dibangun di atas reruntuhan Kenisah Yerusalem di masa silam. Keempat bagian kota Yerusalem ini dibagi-bagi menurut agama: Wilayah Islam menempati wilayah bagian timur Temple Mount, sedangkan wilayah Kristen menempati bagian kota di mana the Church of Holy Sepulchre (gerja makam kudus di mana Yesus disalibkan dan dimakamkan) berada. Wilayah Yahudi adalah bagian kota di sekitar the Wailing Wall, atau dinding ratapan. Dinding di bagian barat Temple Mount ini disebut dinding ratapan karena dinding ini merupakan satu-satunya bagian dinding kenisah Yerusalem yang tidak diruntuhkan oleh serbuan Roma di bawah pimpinan Titus saat Roma menghancurkan dan membakar kota ini di tahun 70 AD. Kekuasaan Persia lalu membangun kembali Kenisah ini dan menjadikannya sebagai Mesjid. Orang Islam percaya bahwa Nabi Muhammad diangkat ke Surga dari Kenisah Yerusalem. Saat terjadinya gerakan zionisme, banyak orang Yahudi yang kembali dari pembuangan, namun tak bisa memuja Yahwe di Kenisah, karena itu mereka menjadikan dinding bagian barat ini sebagai tempat suci di mana mereka boleh memuji Allah mereka. Bagian yang ke empat adalah wilayah antara daerah Kristen dan wilayah Yahudi, dan daerah ini dihuni oleh kelompok Armenian. Hal menarik dari pembagian wilayah ini adalah bahwa bis-bis yang beroperasi di wilayah masing-masing tak boleh menerobos masuk ke wilayah lain.

Kenyataan lain dari keterpecahan kota Yerusalem ini bisa dilihat di dalam the Church of Holy Sepulchre. Gereja ini merupakan gereja yang paling suci bagi penganut agama Kristen dari denominasi manapun. Di tempat ini diyakini Yesus disalibkan dan dikuburkan. Di tempat ini pula diyakini bahwa Yesus bangkit dari alam maut. Penemuan arkeologi membuktikan bahwa tempat ini adalah tempat yang paling akurat sebagai kubur Yesus, walau sejumlah aliran Kristen menyatakan bahwa Yesus mungkin dikuburkan di Tomb Garden, sebuah bukit batu yang nampak seperti tengkorak di luar dinding Yerusalem dekat stasiun bus dewasa ini. Scholars atau para ahli Kitab Suci menerima the Church of Holy Sepulchre sebagai tempat di mana Yesus disalibkan.

Ketika anda memasuki gereja kudus ini, anda mungkin berharap untuk menemukan sebuah gedung gereja yang megah dan dihiasi secara indah. Benar bahwa gereja ini Nampak megah dari luarnya, namun ketika anda memasuki gereja ini anda akan berhadapan dengan kegelapan dan warna yang kelabu di dalam gereja ini. Dinding gereja yang gelap dan kotor, tanpa sorotan lampu listrik yang indah. Lampu minyak bergelantungan di mana-mana yang mengakibatkan dinding gereja menjadi hitam.

Mungkin anda akan bertanya mengapa gereja ini tidak dicat indah? Bukankah setiap tahun umat Katolik di seluruh dunia meberikan sumbangan khusus bagi tanah suci? Di manakah semua sumbangan itu? Alasannya terlalu kompleks. Gereja tempat Yesus disalibkan, dikuburkan dan bangkit ini kini menjadi milik bersama dari enam kelompok Kristen yang berbeda antara lain, Katolik, Ortodox Yunani, gereja Syria, Gereja Armenia, Coptic dan gereja Ethiopia. Setiap kelompok ini menempati berbagai sudut di dalam gereja ini sambil mencurigai kehadiran kelompok yang lain. Beberapa tahun yang lalu pernah terjadi sebuah incident di mana kelompok-kelompok yang menempati gereja kudus ini terlibat dalam pertengkaran dan hampir saja berubah menjadi sebuah perkelahian. Syukur bahwa akhirnya dilerai oleh pihak keamanan Israel. Tidak heran bila saat ini kalau anda mengunjungi gereja ini akan anda temukan sejumlah tentara Israel, baik di luar gedung maupun di dalam gereja ini. Karena itu tak satupun kelompok yang menempati gedung gereja ini berinisiatip untuk memulai sesuatu yang baru. Bahkan dalam gereja di mana terdapat kubur Yesus tak ada lampu listrik. Syukur bahwa atap gereja bersifat transparan sehingga cahaya bisa memasuki gereja ini.

Semua kenyataan ini mungkin akan membuat anda bertanya, di manakah kedamaian? Sungguh suatu ironi yang amat mendalam bahwa Yerusalem yang berarti \”the city of peace\” ini tidak memberikan rasa damai kepada penghuninya. Hiruk-pikuk merupakan ungkapan yang cocok untuk melukiskan kota ini. Kemarin saat mengunjungi gereja \”Makam Kudus\”, gereja makam Yesus, sebuah traktor menderu gegap-gempita di dalam gereja ini persis di depan kubur Yesus. Ada sejumlah peziarah yang sedang berlinang air mata mengenang peristiwa kematian Yesus, namun dia diteriaki oleh pengendara traktor ini, \”Kenapa menangis di siang hari bolong? Ayoh nyingkir… jangan menghalangi kegiatan kami di sini.\”

Itulah kota Yerusalem, The City of Peace. Welcome to Jerusalem!!

Yerusalem, 18 September 2008
http://ziarah.multiply.com/

Tarsis Sigho – Yerusalem
sighotarsi@yahoo.com

Pondok Renungan – http://www.pondokrenungan.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: