Posted by: yohanes tantama | February 13, 2009

St. Paulus Miki dan Para Martir Nagasaki

Nagasaki, Jepang
5 Februari 1597

Mari kita berkenalan dengan tokoh-tokoh utama dalam drama penyaliban ini.
Tokoh yang menjatuhkan hukuman mati kepada ke-26 martir tersebut ialah
Toyotomi
Hideyoshi, yang lebih dikenal dengan nama Taikosama, seorang penguasa Jepang
yang tinggal di Benteng Osaka. Pelaksana hukuman mati ialah Terazawa
Hazaburo,
saudara Gubernur Nagasaki. Sebagai tokoh utama adalah ke-26 martir yang
dijatuhi hukuman mati. Ikut serta mengiringi mereka ialah para misionaris
Yesuit
dari Nagasaki, para pelaut Spanyol, para pedagang dari Macao, para prajurit
serta para algojo.

Terazawa dan kerumunan orang banyak sudah menunggu ke-26 orang yang dijatuhi
hukuman mati tersebut di Bukit Nishizaka -sekarang lebih dikenal dengan
sebutan
Bukit Kudus atau Bukit Para Martir. Suatu tugas yang amat berat bagi
Terazawa. Seorang dari para tawanan, Paulus Miki, adalah sahabat karibnya;
ia sering
mendengarkan khotbahnya. Para tawanan itu tidak melakukan kejahatan apapun
dan Terazawa tahu itu. Oleh karenanya, Terazawa memperkenankan sedikit
kelonggaran,
misalnya mengijinkan dua orang imam Yesuit – Rm. Pasio dan Rm. Rodriguez –
untuk mendampingi para martir menjelang ajal mereka.

Jam setengah sebelas rombongan para martir tiba. Di barisan depan tampak
para pengawal membuka jalan melalui khalayak ramai yang telah menunggu.
Dibelakang
mereka, berjalan para martir. Mereka tampak amat letih. Tenaga mereka telah
terkuras habis oleh tiga puluh hari perjalanan yang meletihkan dari Urakami
ke Nagasaki 600 mil (±966 km). Tangan mereka terikat erat, kaki mereka, yang
bersusah-payah berjalan di atas timbunan salju, meninggalkan tetesan-tetesan
darah di sepanjang jalan. Daun telinga kiri mereka telah dipotong sebulan
yang lalu sebelum mereka meninggalkan Kyoto. Badan mereka memar dan penuh
luka
karena sepanjang perjalanan mereka disiksa dan dengan demikian dijadikan
contoh pelajaran bagi warga lainnya. Sungguh suatu Jalan Salib yang amat
berat
dan panjang.

Ketika rombongan martir tiba di atas bukit, 26 kayu salib sudah siap
tergeletak di tanah menanti mereka. Panjangnya rata-rata lebih dari dua
meter, dua
balok yang saling menyilang dengan sebuah pasak dimana para korban dapat
duduk mengangkang. (lihat Apakah Hukuman Mati di Hadapan Umum Dapat
Dibenarkan?)

Rm. Ganzalo, yang pertama tiba, langsung menghampiri salah satu salib
tersebut: “Inikah untukku?” tanyanya. Ia berlutut dan memeluk salibnya. Para
martir
yang lain ikut melakukan hal yang sama. Kemudian, satu per satu, para martir
diikatkan pada kayu salib. Tidak ada paku. Kaki dan tangan serta leher
mereka
dibelenggu pada tiang salib dengan gelang besi. Sebuah tali diikatkan
melingkar pada pinggang mereka agar mereka terikat erat pada salib. Bagi Rm
Petrus
Bautista, gelang besi tidak cukup kuat. “Paku saja, saudaraku,” pintanya
kepada seorang algojo sembari merentangkan tangannya.

Ternyata cukup sulit mengikatkan Paulus Miki pada kayu salib. Calon imam
Jepang itu terlalu pendek dan kakinya tidak mencapai gelang besi. Seorang
algojo
mengikatkan tubuh Paulus Miki pada salib dengan lilitan kain linen. Ketika
algojo menginjak-injak tubuhnya untuk mempererat lilitan kain, seorang
misionaris
tidak dapat menahan diri. “Biarkan ia melakukan tugasnya, Romo,” kata Paulus
Miki, “percayalah, tidak terlalu sakit.”

Ketika semua martir telah terikat pada kayu salib, keduapuluh enam salib
tersebut secara serempak diberdirikan dan dengan sebuah hentakan keras
salib-salib
tersebut ditancapkan ke tanah. Para martir merasakan sakit yang amat hebat
di sekujur tubuh mereka akibat hentakan tersebut. Kemudian para martir
bersatu
dalam suatu paduan suara puji-pujian dimana doa, harapan, iman dan
kemenangan yang telah menanti bercampur menjadi satu.

Yohanes dari Goto pagi itu baru saja mengucapkan sumpah pertamanya sebagai
seorang Yesuit. Remaja berumur 19 tahun itu telah siap untuk mempersembahkan
kepada Tuhan hidup yang tanpa cela, hati yang belia, yang penuh harapan dan
semangat sukacita. Ketika Yohanes mendekati salibnya, seorang misionaris
berusaha
menguatkan hatinya. Surga sudah hampir berada di tangan. “Jangan khawatir,
Romo,” jawab Yohanes dengan tersenyum, “saya sadar akan hal itu.”

Di sebelahnya, disalibkan Louis Ibaraki, berumur 12 tahun. Ketika seseorang
menyebutkan kata ‘surga’ kepadanya, remaja itu meronta-ronta berusaha
melepaskan
diri dari belenggunya, seolah-olah hendak terbang ke angkasa. Suara
soprannya terdengar sayup-sayup ditelan keributan massa: “Surga,
surga.Yesus, Maria!”

Alasan hukuman mati bagi para martir ditancapkan pada ujung sebuah tombak.
Paulus Miki dapat membacanya dari salibnya:

“Karena orang-orang ini berasal dari Filipina dengan menyamar sebagai duta
besar dan tinggal di Miyako, menyebarkan agama Kristen, yang selama
bertahun-tahun
ini saya larang dengan keras, saya sampai pada keputusan untuk menghukum
mati mereka, bersama dengan orang-orang Jepang yang telah menerima agama
tersebut.”

Paulus meluruskan tubuhnya yang tergantung di kayu salib, memandang ke arah
orang banyak dan berseru dengan suara nyaring:

“Kalian semua yang berada di sini, dengarkanlah saya.”

Keheningan segera meliputi seluruh bukit:

“Saya tidak datang dari Filipina, saya ini seorang Jepang asli, seorang
saudara dari Serikat Yesus. Saya tidak melakukan kejahatan apapun, dan
satu-satunya
alasan mengapa saya dijatuhi hukuman mati ialah bahwa saya telah mewartakan
ajaran Tuhan kita Yesus Kristus. Saya sungguh merasa bahagia diperkenankan
meninggal oleh karena alasan tersebut, kematian saya merupakan suatu
anugerah besar dari Tuhan. Pada saat yang genting ini, saat dimana kalian
bisa percaya
bahwa saya tidak akan menipu kalian, saya ingin menekankan dan menyatakan
dengan gamblang bahwa tidak ada seorang pun beroleh keselamatan jika tidak
melalui
ajaran Kristen.”

Paulus juga melihat Terazawa dan para algojo. Bagi mereka, ia juga
menyampaikan pesannya yang terakhir:

“Agama Kristen mengajarkan agar kita mengampuni musuh-musuh kita dan semua
orang yang bersalah kepada kita. Oleh karena itu saya hendak mengatakan
bahwa
saya mengampuni Taikosama. Saya mendambakan semua orang Jepang menjadi
Kristen.”

Kemudian Paulus Miki mengarahkan jiwanya ke surga:

“Tuhan ke dalam tangan-Mu aku menyerahkan jiwaku. Datanglah menyambutku, ya
Para Kudus Allah.”

St. Martin menyanyikan madah “Kemuliaan” dan “O, pujilah Tuhan, ya segala
bangsa.”. Fr. Gonzalo mendaraskan Bapa Kami. Para martir yang lain
memadahkan
nyanyian serta puji-pujian. Kemudian di seluruh bukit, termasuk orang banyak
yang menonton, dengan penuh semangat menggemakan: Yesus, Maria..Yesus,
Maria.”

Tetapi tidak semua. Seorang martir, Fr Filipus dari Yesus, tidak bisa ikut
menyanyi. Pasaknya di kayu salib terlalu rendah; dan seluruh tubuhnya
bergantung
pada gelang besi di lehernya, mencekiknya hingga sulit bernapas. Dengan
sisa-sisa kekuatannya, Fr Filipus menyerukan nama Yesus tiga kali. Terazawa
melihatnya
sekarat dan tidak ingin melihatnya menderita lebih lama lagi. Ia memberi
perintah dan dua algojo mengakhiri penderitaan martir Meksiko tersebut
dengan
sebilah tombak. Pada saat yang sama ibunya di Meksiko sedang mempersiapkan
perlengkapan jubahnya untuk Misanya yang pertama. Pohon ara di rumah
orangtuanya
tiba-tiba bersemi dengan daun-daun baru.

Kematian Fr Filipus menjadi tanda dimulainya pelaksanaan hukuman mati. Empat
orang algojo segera bersiap-siap. Tombak mereka panjang dengan pisau yang
menyerupai pedang, tersembunyi di balik sarung pedang mereka. Setelah
mengambil posisi, para algojo membuka sarung pedangnya. Dengan tikaman di
dada, jiwa-jiwa
para martir dihantar ke surga.

Ketika tiba giliran Rm Blanco, sambaran tombak menyebabkan tangannya lolos
dari belenggu gelang besi. Rm Blanco berusaha keras kembali ke posisi semula
agar ia pun dapat mati disalib seperti Yesus Kristus. Ketika Rm Martin
ditikam dengan tombak, mata tombaknya terlepas dan tertancap di dadanya.
Algojo
naik ke atas salib, merogoh lukanya dan mencabut mata tombak dari dadanya.
Rm Martin tetap tenang dan tak bergeming, tabah menunggu tikaman berikutnya.

Martir yang paling akhir wafat ialah Rm Bautista. Sepanjang pelaksanaan
hukuman salib, ia nyaris tak bergerak, tenggelam dalam doa dan ekstasi.
Sekarang,
ketika para algojo dan tombak yang berlumuran darah itu berada di
hadapannya, ia menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan doanya yang terakhir:
“Tuhan,
ke dalam tangan-Mu kuserahkan jiwaku.” Kemudian ia tidak bergerak lagi,
bahkan ketika tombak menghujam di dadanya. Darah mengalir dengan deras
tetapi ia
tampak seperti masih hidup. Sempat tersiar kabar bahwa ia tidak wafat
disalib. Beberapa hari sesudah hukuman mati itu, beberapa orang melihat
tubuhnya
bergerak-gerak, sebagian lagi bahkan melihatnya mempersembahkan Misa di RS
St. Lazarus! (Jenasah para martir dibiarkan tergantung pada kayu salib
hingga
beberapa minggu kemudian).

Orang-orang Kristen Portugis dan Jepang yang hadir dalam pelaksanaan hukuman
mati tersebut tidak dapat menahan diri lagi. Mereka menerobos para pengawal,
maju mendekati salib dan membasahi sobekan-sobekan kain dengan darah para
martir serta mengumpulkan bongkahan-bongkahan tanah yang telah disucikan
oleh
darah mereka. Mereka bahkan menyobek jubah dan kimono para martir untuk
dijadikan reliqui. Para pengawal memukuli mereka dan mengusir mereka pergi.
Darah
orang banyak yang mengalir kemudian bercampur dengan darah para martir.
Terazawa menempatkan para pengawal di seluruh bukit dan mengeluarkan
larangan keras
bagi siapa saja untuk tidak mendekati salib. Setelah menyelesaikan tugasnya,
Terazawa meninggalkan bukit. Orang banyak yang hadir melihat bahwa seorang
prajurit yang tegar seperti Terazawa itu menangis.

Sinar matahari sore menyinari bukit di mana ke-26 martir masih tergantung di
kayu salibnya masing-masing. Mereka seperti sedang tertidur, beristirahat
setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Ke-26 martir itu sesuai
dengan urutan salibnya ialah:

1. ST. FRANSISKUS, seorang tukang kayu dari Kyoto, seorang yang teguh dan
setia. Ia memaksa mengikuti para martir hingga ia sendiri akhirnya ditangkap
dan boleh bergabung dengan rombongan para martir.

2. ST. COSMAS TAKEYA, seorang pembuat pedang dari Owari. Ia dibaptis oleh
Serikat Yesus dan bekerja sebagai seorang katekis bersama Ordo Fransiskan
(OFM)
di Osaka.

3. ST. PETRUS SUKEJIRO, seorang pemuda dari Kyoto yang dikirim oleh Rm
Organtino untuk mendampingi para martir dalam perjalanan mereka ke Nagasaki.
Pengabdiannya
yang besar pada tugasnya menghasilkan rahmat baginya untuk bergabung dalam
bilangan para martir.

4. ST. MIKAEL KOZAKI, berusia 46 thun, berasal dari Ise, seorang pembuat
busur. Dengan keahliannya sebagai tukang kayu, ia ikut serta membangun
biara-biara
serta gereja-gereja OFM di Kyoto dan Osaka. Ia mempercayakan miliknya yang
paling berharga kepada para biarawan OFM, yaitu anaknya, Thomas.

5. ST. YAKOBUS KISAI, berusia 64 tahun, seorang Serikat Yesus awam.
Devosinya kepada Sengsara Kristus amat mendalam. Dikenal sebagai seorang
yang lemah
lembut dan hatinya penuh kedamaian. Ia berasal dari Okayama dan bertugas
mengurus para tamu yang berkunjung ke kediaman Serikat Yesus.

6. ST. PAULUS MIKI, berusia 30 tahun, berasal dari Tsunokuni, putera seorang
perwira yang gagah berani bernama Miki Handayu. Rasa syukurnya atas
panggilannya
untuk mewartakan Injil melebihi apapun juga. Sebentar lagi tiba saatnya bagi
Paulus Miki untuk ditahbiskan sebagai seorang imam. Seorang pengkhotbah
terbaik
di daerahnya. Ia baru diam ketika algojo menghujamkan tombak ke dadanya.

7. ST. PAULUS IBARAKI, berasal dari Owari dari sebuah keluarga samurai. Ia
bersama keluarganya tinggal dekat biara OFM. Hidup miskin tetapi banyak
membantu
orang-orang lain yang lebih miskin darinya. Ia juga seorang pengkhotbah.

8. ST. YOHANES DARI GOTO, pemuda berusia 19 tahun dari pulau Goto ini penuh
dengan sukacita. Ia melayani Tuhan sepanjang hidupnya. Ia bersekolah di
sekolah
Serikat Yesus untuk menjadi seorang Katekis dan membantu para misionaris
dengan keahliannya melukis dan bermain musik. Ia ditempatkan di Osaka di
bawah
bimbingan Rm Morejon sampai Tuhan menawarkan mahkota kemartiran kepadanya.

9. ST. LOUIS IBARAKI, berusia 12 tahun, yang termuda dari rombongan para
martir. Ia dilahirkan di Owari, keponakan St. Paulus Ibaraki dan St. Leo
Karasumaru.
Anak yang menyenangkan dan disayangi semua orang. Ia tetap menyanyi dan
tertawa ketika serdadu memotong telinga kirinya. Sepanjang perjalanan yang
jauh
ke Nagasaki dan selama tergantung di atas kayu salib, ia membuktikan
ketabahan dan kebesaran hatinya. Ia menolak mentah-mentah ketika dibujuk
untuk mengingkari
imannya. “Ada Louis kecil bersama kita,” tulis Rm Fransiskus Blanco di malam
menjelang hukuman mati, “dan ia begitu penuh keberaninan dan semangat yang
mengharukan semua orang.”

10.ST. ANTONIUS, berusia 13 tahun, dilahirkan di Nagasaki. Ayahnya seorang
Cina dan ibunya seorang Jepang. Remaja yang polos ini belajar di biara OFM
di
Osaka. Hal yang amat memilukan hatinya ialah ketika melihat ibunya menangis
tidak jauh dari salibnya. Ajal menjemput ketika ia memadahkan lagu-lagu
pujian.

11.ST. PETRUS BAPTISTA, berusia 50 tahun, berasal dari San Esteblan del
Valle (Avila, Spanyol). Pemimpin Misi OFM (Saudara-saudara Dina) di Jepang,
dulunya
seorang duta besar dari Spanyol. Ia merupakan ayah bagi kaum lepra dan
pemimpin rombongan martir. Hidupnya penuh dengan kebajikan dan kekudusan.

12.ST. MARTIN DARI KENAIKAN (Yesus ke surga), berusia 30 tahun, berasal dari
Guipuzcoa, Spanyol. Kesucian hatinya sungguh mengagumkan. Biasa menghabiskan
waktu malamnya dengan doa.

13.ST. FILIPUS DARI YESUS, seorang Meksiko berusia 24 tahun. Hidupnya penuh
dengan tantangan yang membingungkan, adu kekuatan antara Kristus dan
Filipus,
tidak satupun dari mereka yang mau kalah. Pada akhirnya Kristus menjadi
pemenang dan sekarang Filipus penuh dengan semangat untuk menebus masa-masa
dimana
ia menjadi anak yang hilang: ia yang wafat pertama sebagai martir.

14.ST. GONZALO GARCIA, berusia 40 tahun, berasal dari Bazain, India. Ayahnya
seorang Portugis dan ibunya seorang India. Seorang katekis bersama Serikat
Yesus. Ia masuk OFM awam, dan menjadi tangan kanan St. Petrus Baptist.
Masyarakat India mengangkatnya menjadi santo pelindung Bombay.

15.ST. FRANSISKUS BLANCO, berasal dari Monterrey (Galacia, Spanyol). Datang
ke Jepang bersama dengan St. Martin dari Kenaikan. Seorang yang pendiam,
lembut
dan genius.

16.ST. FRANSISKUS DARI ST MIKAEL, berusia 53 tahun, berasal dari La Parrilla
(Valladolid, Spanyol). Seorang awam ordo OFM.

17.ST. MATIAS, kita tidak mengetahui latar belakangnya. Para prajurit
mencari Matias lain yang tidak dapat diketemukan, atau ia menawarkan diri
untuk menggantikan
Matias yang dicari. Para prajurit dengan senang hati menerima dia. Tuhan
juga menerimanya juga.

18.ST. LEO KARASUMARU, berasal dari Owari, adik dari St. Paulus Ibaraki.
Hidupnya merupakan teladan. Memberikan sumbangan besar kepada OFM dalam
membangun
gereja dan mengelola rumah sakit. Seorang katekis yang penuh semangat dan
doa.

19.ST. BONAVENTURA, dibaptis ketika masih bayi, tak lama kemudian ibunya
meninggal. Ibu tirinya mengirim Bonaventura ke biara Budha. Suatu hari ia
mengetahui
perihal pembaptisannya dan mengunjungi Biara OFM di Kyoto untuk mendapatkan
lebih banyak keterangan. Di biara, ia mendapatkan kedamaian hati. Sepanjang
perjalanannya menuju hukuman mati, ia berdoa bagi iman ayahnya dan
pertobatan ibu tirinya.

20.ST. TOMAS KOZAKI, berusia 14 tahun, berasal dari Ise. Seorang anak desa
yang tingkah lakunya kasar, tetapi hatinya mulia. Ia membantu ayahnya yang
bekerja
sebagai tukang kayu. Ia tinggal di biara OFM. Seorang yang jujur, tegas, dan
memiliki semangat pengabdian yang tinggi dalam melayani Tuhan. Surat
perpisahannya
kepada ibunya menjadi reliqui yang amat berharga.

21.ST. YOAKIM SAKAKIBARA, berusia 40 tahun, berasal dari Osaka. Ketika
sedang sakit keras, seorang katekis membaptisnya. Sebagai rasa terima kasih,
St.
Yoakim membantu pendirian biara OFM di Osaka dan kemudian tinggal di sana
sebagai juru masak. Ia unggul dalam kebaikan hati dan kesediaannya untuk
melayani.

22.ST. FRANSISKUS, berusia 48 tahun, berasal dari Kyoto. Seorang dokter dan
pengkhotbah yang penuh semangat. Setelah ia dan isterinya dibaptis, mereka
tinggal di dekat biara OFM. Mereka merawat orang-orang sakit tanpa memungut
bayaran dan membawa mereka kepada Kristus.

23.ST. TOMAS DANGI, seorang penjual obat, wataknya keras. Dengan rahmat
Tuhan ia berkembang menjadi seorang katekis yang lembut hati. Ia mendirikan
tokonya
di sebelah biara OFM, dan sementara ia menjual obat, ia juga menunjukkan
kepada para pelanggannya jalan menuju surga.

24.ST. YOHANES KINUYA, berusia 28 tahun, berasal dari Kyoto. Seorang penenun
dan pedagang kain sutera. Ia memindahkan tokonya dekat biara OFM.

25.ST. GABRIEL, berusia 19 tahun, berasal dari Ise. Dibaptis dan dibimbing
oleh Fr. Gonzalo. Ia maju pesat dalam iman. Gabriel bekerja sebagai seorang
katekis.

26.ST. PAULUS SUZUKI, berusia 49 tahun, berasal dari Owari. Ia unggul dalam
semagat pewartaan, salah seorang katekis terbaik yang membantu OFM. Ia
diserahi
tugas mengelola Rumah Sakit St Yusuf di Kyoto.

Banyak yang percaya bahwa itulah saat akhir kehidupan Kristiani di Jepang.
Bagaimana pun juga, semua orang melihat apa yang telah terjadi. Ketika para
misionaris kembali ke Jepang sekitar tahun 1860-an, pada awalnya mereka
tidak menemukan tanda-tanda kehidupan Kristiani di sana. Baru setelah mereka
menetap
di sana, mereka menemukan beberapa orang Kristen. Kemudian, mereka menemukan
ribuan orang Kristen di daerah sekitar Nagasaki. Mereka ini memelihara
imannya
secara sembunyi-sembunyi.

Kedua puluh enam martir Jepang ini dibeatifikasi pada tahun 1627, dan
diangkat sebagai santo oleh Paus Pius IX pada tahun 1862. Pestanya dirayakan
setiap
tanggal 6 Pebruari.

“Kami mohon padamu para martir Jepang, sudilah menolong kami agar memiliki
keberanian seperti yang engkau miliki. Engkau berdiri tegak mempertahankan
iman.
Engkau tidak menyerah. Engkau menyerahkan hidupmu bagi Kristus. Bantulah
kami untuk memiliki keberanian yang sama dalam segala sesuatu yang kami
kerjakan.
Juga, bantulah kami untuk membuat keputusan yang tepat seperti yang engkau
lakukan. Terima kasih karena engkau sudi mendoakan kami. Amin.”

Sumber: 1. “On Martyrs Hill” by Diego R. Yuki S.J.; 2. “The Cross Becomes A
Pulpit” by Diego R. Yuki S.J.; 3. “Conquerors of Death” by Diego R. Yuki
S.J.;
4. berbagai sumber

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan
mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA:
www.indocell.net/yesaya

Peace & Love


Responses

  1. Hebat Pak… saya cari-cari tentang ceritaan ini baru nemu di tempat bapak Yohanes
    Barusan nemu potonya di :
    http://www.26martyrs.com/

    http://www.flickr.com/groups/nagasakimartyrs/

    harapan saya thn ini bisa kesana *AMIN*

    • Great information bu Imelda, saya doakan bisa kesana, dan beri info lebih banyak. GBU


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: