Posted by: yohanes tantama | March 9, 2009

Komunitas Dialogis Umat Beriman Demi Kesejahteraan Umum

Tema diatas adalah tema APP 2009 di Keuskupan Surabaya. Berikut cuplikan pengantar dari Rm. A. Luluk Widyawan (di Tabloid Jubileum)

Kita tahu, agama secara inheren sarat dengan nilai nilai luhur keselamatan manusia. Agama menempatkan dirinya sebagai pewarta kabar gembira keselamatan. Dalam konteks Indonesia, ketidaksejahteraan masyarakat yang berarti kemiskinan ekonomi, pengangguran, masalah pendidikan dan kesehatan, yang menimpa, merupakan tantangan yang harus diatasi dengan keberpihakan semua pihak.

Banyak saudara kita hidup dalam kemiskinan, belum tercukupi hak hak dasarnya. Mereka ingin membebaskan diri dengan kekuatan sendiri, tetapi tidak berdaya. Menghadapi situasi seperti ini, agama agama diharapkan terpanggil dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi mereka lahir, tumbuh dan berkembang di masyarakat. Bersama umat beragama lain, Gereja sebagai komunitas beriman dipanggil hadir melakukan aktualisasi diri melalui aneka kegiatan sosial dimayarakat. Karena lembaga keagamaan memiliki peranstrategis untuk perpartisipasi dalam mewujudkan kesejahteraan umum.

Agama yang hanya puas pada ritual, berhenti pada formalisme agama yang mandul dari praktek sosial, tidak akan mampu mengatasi masalah kemanusiaan ini. Gereja sebagai lembaga agama senantiasa ditagih untuk melakukan revitalisasi doktrin dengan bahasa kemanusiaan yang lebih relevan sekaligus menjadi motivator dalam mewujudkan kesejahteraan umum. Gereja ditantang menyelesaikan aneka urusan yang lebih nyata.

Pada saat bersamaan semua agama harus bersatu, bekerja sama memerangi kemiskinan dari pada memperbesar perbedaan ritual dan memicu konflik sosial. Bahkan sudah waktunya Gereja bergandengan tangan bersama semua agama di Indonesia meredifinisikan diri sebagai kekuatan perubahan bagi umatnya dengan mengobarkan etos kerja keras, hemat, gotong royong, peduli, bela rasa, rela berkorban, sebagai panggilan Tuhan untuk dalam menghadirkan keselamatan secara nyata

Dst.

” Iman yang matang dalam diri menuntut pertumbuhan dan keberanian melakukan dialog, saling menghargai antar sesama”, Yohanes


Responses

  1. Saya setuju sekali…. mengurus perbedaan tidak pernah akan ada ujung dan penyelesaiannya… dan mestinya agama yang ‘benar’ adalah agama yang mengajarkan cinta sesama dan lingkungan tanpa melihat warna kulit, ras, negara/ lokasi dan agama; yang tidak mengadili sesamanya dengan kata ‘kafir’; yang mengajarkan toleransi kepada sesamanya; yang bersikap adil kepada setiap makhluk terlebih kepada sesamanya; serta yang menganggap semua orang adalah sesamanya. Jangan menjadikan agama sebagai ‘partai’ yang harus dibangun intensif secara internal dan memusuhi agama lain sebagai ‘partai tandingannya’. Saya yakin seyakin yakinnya, apapun agama yang ada di dunia ini satu tujuannya yaitu Allah yang Esa… dan Allah yang ini mencintai semua manusia tanpa batas…. jadi kalau memang kita benar-benar beragama, apapun agamanya maka kita harus mencintai sesama kita tanpa batas pula….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: