Posted by: yohanestantama | March 10, 2010

Ekaristi dalam Gereja Katolik

Suatu saat saya mendapat pertanyaan (lebih tepat pernyataan) dari Saudara Kristen lain, bahwa Misa di tempat kita kaku dan terlalu diatur sehingga gerakan Roh Kudus tidak terlihat. Saya sangat sedih mendengar hal itu, tidak bisa disalahkan karena mungkin kita orang Katolik sendiri tidak mengerti banyak dan tidak jarang kita merasakan seperti itu dan mengantuk saat Misa.

Ekaristi adalah puncak dari perayaan iman kita sebagai umat Katolik, kita merayakan misa yang mulanya adalah tradisi yang dilakukan para murid / Rasul Kristus sendiri. Dan para murid itu seperti kita melakukannya setiap Minggu. Ekaristi adalah bagian dari kita merayakan karya keselamatan yang dibuat Tuhan sendiri dalam PaskahNya yang baru dimana dia menyatukan semua sarana dan korban dalam perjanjian lama menjadi satu dalam diriNya sendiri. Jadi kenapa kita harus merasa minder untuk merayakan Ekaristi? Kita tidak perlu menyalahkan Imam yang mungkin kotbahnya kurang mengena kepada kita (tapi mengkin mengena buat orang lain?), tetapi fokus kita adalah pada saat ekaristi kita mau bersama sama seluruh umat Katolik didunia menyambut Kristus dan merayakan Paskahnya sebagai teladan yang Dia sendiri minta untuk dilanjutkan.

I Korintus
11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!

Mengenai homili sendiri kita tidak bisa membandingkannya dengan saudara kita yang lain karena seorang Romo dalam membawakan homili mempunyai aturan aturan sendiri yang sdh ditetapkan gereja kita, kita yang harus menghargai karena apapun juga Romo sdh berusaha memberikan yang terbaik buat kita, dan tugas Romo dalam Ekaristi lebih besar dan Agung dari sekedar sebuah homili saja.

Mengenai tata cara sendiri dan pengucapannya yang memang tidak boleh diubah sebenarnya kalau kita mengenal lebih jauh kita akan menyadari bahwa Ekaristi itu begitu Indah. Setiap kata dan urutan yang dibuat dengan susah payah oleh Bapa Gereja kita itu mempunyai makna yang begitu mendalam, dan semuanya sangat alkitabiah, Salah satu contoh adalah seruan tobat kita :

“Anak Domba Allah kasihanilah kami”, itu diambil dari seruan Bartimeus kepada Yesus.

Kata kata yang indah dalam Alkitab ini mengapa harus kita ganti kalau hanya dengan alasan agar tidak kaku?

Memang saya bukan seorang Romo atau teolog yang akan bisa menjelaskan detail ini semua, kalau kita mau belajar ada banyak referensi dan tulisan yang sangat bagus yang mengulasnya salah satunya Romo kami yang menjelaskan dalam websitenya http://www.indocell.net/yesaya atau buku lain salah satunya Rome Sweet Home. Saya hanya mencoba sharing karena saya melihat bahwa Ekaristi kita begitu indah (tanpa mengurangi hormat saya kepada saudara Kristen yang lain), apalagi kita sebagai umat Katolik bisa menerima Tubuh dan Darah Kristus setiap minggu (bahkan setiap hari) dalam hidup kita. Apalagi yang lebih berharga dari pada itu?

Yohanes

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: