Posted by: yohanes tantama | July 6, 2011

Mencicipi Keindahan Hati Kudus Yesus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENCICIPI  KEINDAHAN  HATI  KUDUS  YESUS

 

Kasih Tuhan yang terbuka bagi siapapun yang datang memberi kelegaan dan kedamaian hati itu ditangkap oleh Pater Jules Chevalier, pendiri Misionaris Hati Kudus Yesus. Pada waktu itu, di Prancis terjadi indifferentism (acuh tak acuh)  serta apatisme. Ini adalah penyakit zaman yang bisa menggerogoti umat manusia. Orang menjadi kehilangan harapan dan  ada rasa tidak percaya lagi kepada orang lain serta rasa cinta dan perhatian mulai pudar.  Menghadapi situasi yang begitu berat pada zamannya, pastor muda itu berusaha menemukan obat yang mujarab yang bisa menyembuhkan. Obat itu tidak lain dan tidak bukan adalah kasih Tuhan itu sendiri, yang nyata dalam Hati Kudus Yesus yang senantiasa terbuka terhadap manusia yang membutuhkan kelegaan.

Permenungan tentang  Hati Yesus yang tertikam dengan tombak dan lukanya yang memancarkan air dan darah menjadikan kita semakin sadar betapa besar cinta Tuhan kepada semua orang. Bahkan bila kita sering menyeleweng dan lari dari padanya, Dia tetap mencintai kita. Tuhan tetap dengan hati terbuka menantikan kita kembali. Dalam hati-Nya, kita temukan kesegaran, kehidupan dan kedamaian, terlebih bila kita sedang mengalami pergolakan  hidup yang berat.

Melalui penghayatan tentang cinta Hati Yesus itu, kita dimampukan untuk mencintai sesama seperti yang diajarkan Tuhan kepada kita.  Tetapi untuk bersikap seperti yang diajarkan oleh Yesus, sering mengalami kendala. Egosentrisme lebih kuat sehingga ada ketidakharmonisan di kedalaman diri. Di sinilah muncul penyakit zaman. Dalam kehidupan harian sering kita alami bagaimana penyakit zaman itu menggeroti umat manusia.

Kasih yang Memudar

Penyakit zaman ini dapat digambarkan dalam kisah sebagai berikut. Dikisahkan ada seorang suami yang memiliki keinginan luhur untuk memiliki rumah sendiri. Maka, diputuskannya untuk membeli rumah dengan cara mencicil selama lima belas  tahun. Jadi, setiap hari, yang menjadi fokus utama dari sang suami itu ialah bagaimana mendapatkan uang untuk menyetor setiap bulannya. Pada waktu itu, ibunya mempunyai keinginan untuk ziarah ke Poh Sarang – Kediri, tetapi anaknya berkata, “Sabar ya bu, saat ini belum bisa karena cicilan rumah lebih penting. Nanti kalau lunas, ibu akan saya hantar keliling dunia.” Tetapi sangat disayangkan  karena sang ibu meninggal dan tidak pernah menikmati peziarahannya.

Giliran sang istri untuk meminta suaminya supaya ada waktu untuk sejenak bersantai dengan keluarga makan di luar. Tetapi sang suami berkata, “Ma, marilah kita berhemat dulu. Kita kencangkan ikat pinggang kita demi lunasnya pembayaran rumah impian kita. Sang anak pun dalam tingkah lakunya merindukan seorang ayah yang ramah dan penuh perhatian, tetapi memang benar bahwa  sang ayah sibuk mencari uang.

Lima belas tahun telah berlalu dan sertifikat rumah sudah di tangan serta rumah sudah menjadi miliknya. Namun  sang suami kini telah menjadi orang yang paling kesepian di dunia. Ibunya yang ia cintai telah meninggal dunia dan istrinya menjadi orang yang murung-murung karena kurang mendapatkan perhatian dan cinta dari suaminya.

Begitulah kira-kira “penyakit zaman” saat ini. Kita berkelimpahan harta dan informasi datang tiada henti-hentinya serta kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia begitu beragam, tetapi  hati hampa dan hidup tidak bermakna. Apa yang kita alami ialah merasa tidak pernah puas dengan apa yang telah disediakan oleh dunia. Ini seperti orang yang minum air laut. Semakin meminum air itu, maka makin hauslah orang tersebut.   Obat dari kehampaan hidup dan  merasa tidak berharga serta merasa terasing dengan diri sendiri ada dalam bathin itu sendiri.

Tawaran-Tawaran Yang Menjauhkan Diri dari Hati Kudus

Tanpa kita sadari, kemajuan tehnologi begitu menguasai dunia. Terkadang, kemajuan tehnologi malahan menjerumuskan kehidupan manusia kepada lembah dosa. Hubungan yang harmonis dalam keluarga bisa runyam dan keakraban mulai luntur. Hidup relasi dalam rumah tangga menjadi hampa, sehingga muncul kejenuhan serta kesepian di tengah-tengah hingar-bingarnya keramaian kota. Sebagai contoh, pernah suatu kali saya makan bersama dengan sebuah  keluarga di salah satu restoran. Setelah pesan makanan, tidak lama kemudian, satu per satu orang-orang mengeluarkan Hand Phone dan mulailah “berkomunikasi” dengan orang di luar restoran. Suasana kekeluargaan yang seharusnya diisi dengan sharing, diganti dengan menyentuh tuts-tuts dan melihat monitor mini Hand Phone.  Di sana tidak ada komunikasi.

Pengorbanan yang seharusnya tercipta dalam keluarga menjadi mahal harganya. Suasana akrab, gembira, saling mendengarkan dalam perjamuan keluarga itu mencerminkan bahwa di sanalah ada pengorbanan dan saling mendahulukan satu dengan yang lainnya tidak  terjadi. Peristiwa yang penuh makna tersebut menjadi kering karena kurangnya komunikasi di antara mereka.

Praktek Memandang Hati Kudus sebagai Prioritas

Dalam hidup ini, kita setiap saat diperhadapkan dengan pelbagai pilihan. Pilihan-pilihan tersebut kadang terasa berat sehingga membuat hidup tak tertahankan. Bahkan kalau diperhadapkan kepada pilihan-pilihan, selalu ada saja “alasan” untuk  menghindar dari “kewajiban” tersebut. Hati Kudus Yesus akan semakin terluka, jika  kita menjatuhkan pilihan yang menguntungkan diri sendiri dan merugikan sesama.

Ada seorang pastor mempunyai pengalaman menarik berkenaan dengan penghayatan Hati Kudus. Sebagai pastor, ia sudah mengucapkan kaul ketaatan kepada atasannya. Maka, ketika harus pindah tugas, dirinya harus mengemban tugas yang baru, meskipun belum tahu apa yang akan terjadi di tempat tugas yang baru tersebut. Ketika hendak memulai tugas ada beberapa peristiwa  yang perlu direnungkan.

Bahasa Inggris untuk Hati adalah core. Maka Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus, diterjemahkan dari bahasa Latin, “Missionaris Sacratissimum Cor Iesu. Pastor itu dalam merenungkan yang dialami membandingkan dengan dua istilah Inggris, peripheral dan core. Kalau kita mengambil satu buah kelapa, dan kita  mulai kupas,  mula-mula di bagian paling luar kulit yang kuat dan tipis. Lapisan kulit yang kedua disebut serabut, dan lapisan kulit yang berikut adalah tempurung. Semua kulit itu sampai dengan tempurung disebut dalam bahasa Inggris, peripheral. Sedang dagingnya disebut “core”. Kata core itu berasal dari kata Latin, Cor yang berarti hati.  Dalam penugasan yang baru, pastor itu berusaha menemukan “core”. Pertama ia harus mengupas peripheral. Peripheral yang pertama ialah, lebih enak berkarya di paroki kota  daripada bekerja di paroki pedalaman. Kupasan peripheral yang kedua  adalah sulitnya mempelajari bahasa baru di paroki pedalaman. Kupasan yang terakhir adalah akan merasa kesepian berada di pastoral, lalu mulai berkunjung ke rumah tertentu di mana ada gadis yang menarik. Peripheral  ini yang berat dan tidak sanggup mengupas sendiri. Maka ia menulis surat kepada Pimpinan Tarekat secara terus-terang, sehingga memudahkan pengolahan batinnya. Setelah dengan penuh perjuangan, dibantu oleh banyak pihak, ditemukanlah core (Materi Retret bagi para MSC di Merauke tahun 2009 oleh P. J. Mengko MSC)

Keputusan itu menjadi murni setelah diperhadapkan dengan pelbagai kesulitan dan tantangan. Kesadaran penerimaan akan tugas dan tanggung jawab yang dikontemplasikan kepada Hati Kudus Yesus yang tertusuk dengan tombak membuat diri kita menjadi berani menderita seperti  Kristus. Seperti yang ditulis oleh Yohanes, “Tetapi seorang prajurit menusuk lambung Yesus dengan tombak dan keluarlah darah dan air” (Yoh. 19:31-37).  Dengan demikian, tugas pekerjaan yang dilakukan pastor tersebut tidak datang dari kekuatannya sendiri, melainkan kepasrahan total kepada Hati Kudus Yesus.

Kualitas-Kualitas Pelayanan yang Diresapi  Semangat  Hati Kudus Yesus

Menghayati Hati Kudus yang tertikam dan terluka di kayu salib akan berpengaruh bagi pelayanan. Pengorbanan menjadi dasar bagi sebuah pelayanan. Seluruh kehidupan Yesus adalah suatu pengorbanan yang total demi keselamatan umat manusia. Pelayanan menjadi berkualitas karena adanya  kesadaran bahwa segala yang dikerjakan itu sebagai penghayatan akan Hati Kudus yang rela mengorbankan diri.

Tugas pelayanan  seorang pastor dalam hidupnya berpaut  pada ketaatan, kemurnian dan kemiskinan mengacu kepada semangat Hati Kudus Yesus. Betapa pun berat tugas pelayanan di daerah pedalaman yang serba minim, akan dirasa sebagai pengalaman yang indah karena bisa seperasaan dan seperasaan dengan Hati Kudus sendiri.

“Selamat Merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus”

Kantor “Percikan Hati” 1 Juli 2011

Skolastikat MSC
Jln. Raya Manado – Tomohon  KM. 9
Pineleng – MANADO
Sulawesi Utara  95361
Markus Marlon msc


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: