Posted by: yohanes tantama | February 18, 2015

Pertemuan V APP 2015 – Keluarga mewujudkan iman dengan sukacita

KELUARGA MEWUJUDKAN IMAN DENGAN SUKA CITA

Roma 12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Fil 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah

Lukas : 1:46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.

Apabila kita memperhatikan pada 2 ayat dan 1 perikop diatas maka kita akan menemukan persamaan yaitu : Maria dan Paulus mendorong dan mengajak kita semua untuk mengambil sikap bersukacita dalam segala kondisi (yang dimulai dari mereka sebagai contoh sikap) dan dimulai dari dalam diri. Mengapa saya katakan dalam segala hal, karena kondisi Paulus dan Maria pada saat itu sama sama menghadapi tantangan yang tidak kecil. Maria dengan segala kegundahan dan keterbatasannya sebagai manusia dan kemudian hamil karena Roh Kudus untuk menjadi jalan bagi keselamatan yang akan datang melalui Yesus, sedangkan Paulus juga tidakmenghadapi tantangan yang lebih kecil, yaitu dia harus menghadapi kejaran dan ancaman penganiayaan disamping itu masih harus memberi semangat kepada seluruh pengikutnya dan mencegah mereka bertengkar sendiri maupun menjauh dari imannya. Ternyata segala tantangan dari luar itu tidak menggoyahkan mereka untuk selalu bersuka cita dan memuji Tuhan. Bagaimana itu bisa terjadi? Saya ambil contoh Paulus karena disamping tantangan tersebut kita tahu bahwa dulunya dia sangat membenci pengikut pengikut Yesus. Yang pertama, karena dia mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus. Yang kedua dia taat menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan yang ketiga dia menjawab panggilan Tuhan dan tugas perutusannya.

Kita sebagai umat Katolik pada kondisi saat itu juga menghadapi berbagai tantangan dalam hidup (termasuk dalam kehidupan berkeluarga), kemajuan teknologi yang membuat semua anggota keluarga menjadi terasing dan kurang komunikasi. Ditambah kesibukan karena tuntutan pekerjaan dan gaya hidup yang semakin membuat manusia tenggelam pada usaha memperkaya diri. Sehingga kepedulian akan anggota keluarga menjadi berkurang, apalagi terhadap orang lain disekitarnya. Tugas tugas sebagai orang Katolik dijalankan dengan memenuhi kewajiban yang miinimal saja, misalnya hanya ke gereja hari minggu. Dan mungkin masih banyak tantangan yang lainnya.

Untuk mengatasi itu semua tidak ada cara lain yaitu memulai dari diri kita sendiri untuk menumbuhkan sukacita itu. Kita mau belajar dari Pulus dan bunda Maria, kita mulai belajar bertemu secara pribadi dengan Tuhan melalui doa doa kita, kita berusaha semaksimal mungkin menjalankan tugas tugas kita sebagai orang Katolik dengan taat , kita jawab ya untuk tugas perutusan kita. Dengan begitu saya yakin kita akan bisa mengatasi segala tantangan ini. Kita mulai tugas perutusan kita melalui keluarga kita, kita berusaha kembali membangun komunikasi yang hangat dan penuh sukacita. Kita buat keluarga sebagai sarana untuk membangun iman buat seluruh anggota keluarga yang ada. Dimulai dari orang tua itu sendiri yang akan semakin bertumbuh dalam iman, dan akhirnya bisa menjadi contoh yang baik buat pembelajaran iman anak anak mereka. Kalau itu semua bisa kita lakukan, maka sukacita yang dulunya dari dalam akan memancar keluar. Semua anggota keluarga akan merasakan kerinduan untuk selalu bertemu dan saling belajar. Orang lain juga akan melihat bahwa keluarga kita adalah keluarga yang penuh sukacita, dan pewartaan itu akan terjadi bukan hanya melalui kata kata tetapi terutama mereka bisa melihat penyertaan Tuhan dalam keluarga kita yang penuh sukacita tersebut.

Draft pembekalan app 2015 pertemuan ke 5.

Yohanes Tantama


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: