Posted by: yohanes tantama | February 27, 2016

Belajar membaca dan memaknai Kitab Suci dari Scott Hahn

Belajar dari Scott Hahn (penulis Rome Sweet Home) bagaimana membaca dan memaknai kitab suci (diambil dr bacaan harian 28 Pebruari)

Keluaran 3 : 1-8 , 13-15. Mazmur 103 : 1-11. Korintus 10:1-12 Lukas 13: 1-9

Mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham (lihat Keluaran 02:24), Allah turun untuk menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan Mesir. Setia bahwa perjanjian yang sama (lihat Lukas 1: 54-55, 72-73), Dia mengutus Yesus untuk menebus semua kehidupan dari kehancuran, seperti yang mazmur katakan kepada kita hari ini (Mazmur 103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia)

Dalam suratnya hari ini Paulus berkata bahwa peristiwa penyelamatan Allah dalam Keluaran tersebut dituliskan kembali didalam Gereja, Yang dimaksud adalah simbol simbol yang di jalankan didalam gereja yaitu Pembaptisan kita sendiri dengan air, pembebasan kita dari dosa, makanan dan minuman rohani yang kita terima.

Peristiwa pembebasan bangsa Israel ini diberikan sebagai sebuah peringatan bahwa dengan menjadi “anak Abraham” , tidak ada jaminan bahwa kita akan mencapai tanah terjanji dari keselamatan kita

Setiap saat, Yesus memperingatkan kita dalam Injil hari ini, bahwa kita bisa binasa ( bukan sebagai hukuman Allah karena kita adalah “orang-orang berdosa besar” -) tetapi karena, seperti orang Israel di padang gurun, kita sendirilah yang tersandung ke dalam keinginan jahat, menggerutu, serta melupakan segala kebaikan-Nya.

Yesus memanggil kita hari ini untuk “bertobat” – bukan hanya satu kali saja merubah hati kita, tapi terus menerus, setiap hari kita harus merubah kehidupan kita. Kita dipanggil untuk setiap hari menjalani hidup kita dengan memuji Allah sesuai Mazmur hari ini – berkat nama-Nya yang kudus, Bersyukur atas kebaikan dan rahmatNya.
Pohon ara dalam perumpamaan-Nya dalam perjanjian lama adalah simbol untuk bangsa Israel yang cukup familiar (lihat Yeremia 8: 3; 24: 1-10). Seperti pohon ara diberikan satu musim yang terakhir untuk menghasilkan buah sebelum ditebang, demikian juga Yesus memberi Israel satu kesempatan terakhir untuk menghasilkan buah yang baik sebagai bukti pertobatan (lihat Lukas 3: 8).

Masa Pra Paskah, bagi kita adalah seperti pohon ara yang diberikan kesempatan atau penanguhan hukuman , suatu masa dimana kita membiarkan Kristus sebagai “tukang kebun” untuk mengolah hati kita. Membuang penghalang bagi kehidupan Ilahi dalam diri kita dan menguatkan kita agar bisa menghasilkan buah yang akan bertahan dalam kehidupan kekal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: