Posted by: yohanes tantama | February 24, 2009

Padua Sragen

Salam kenal Bp. Yohanes, kami adalah komunitas peziarah dgn berkendara motor. kami berasal dari kota kecil Sragen. web ini sangat membantu kami. Silahkan kunjungi web kami : www.paduabikers.blogdetik.com, saran dan kritikan akan sangat kami harapkan. Nuwun. Berkah Dalem.

Tiburtius

Posted by: yohanes tantama | February 24, 2009

Paroki Baturaja

Saya kelahiran Baturaja dan memang benar bahwa di Baturaja ada tempat ziarah Gua Maris di Tegal Arum dan ini masuk dalam paroki santo Petrus Dan Paulus , kini sudah hadir websitenya di http://www.parokibaturaja.com , disana juga bisa download program pendataan umat secara gratisss untuk semua paroki yang membutuhkan.

Dedi Trianto

Posted by: yohanes tantama | February 16, 2009

Peta Pertapaan Karmel Tumpang – Ngadireso

Untuk rekan rekan yang mencari peta untuk menuju Pertapaan Karmel Tumpang – Ngadireso (Malang) :

peta-tumpang

Posted by: yohanes tantama | February 13, 2009

Kisah 3 Batang Pohon

Yohanes 1:38 Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?

Tuhan menanyakan kepada kita, apa alasan kita menjadi Kristen dan jangan kita menyerah pada harapan dan cita cita yang telah kita buat itu (selama sesuai dengan kehendak Tuhan). Dari cerita dibawah ini kita akan banyak belajar:

Suatu kali peristiwa ada tiga pohon diatas sebuah bukit dalam sebuah hutan. Mereka sedang

ber bincang- bincang tentang harapan- harapan dan mimpi-mimpi mereka .

Pohon yang pertama berkata, “Suatu hari nant i aku berharap bisa menjadi sebuah kotak tempat

penyimpanan harta. Aku bisa diisikan emas, perak dan batu-batu per mata berharga. Aku bisa

dihiasi dengan ukiran-ukiran yang rumit dan setiap orang akan melihat kecantikanku.”

Kemudian pohon yang kedua berkata, “Suatu hari na nt i aku akan menjadi kapal yang besar. Aku

akan membawa para raja dan ratu mengar ungi laut an sampai ke ujung-ujung bumi. Setiap orang

akan merasa aman dalamku karena kekuatan dari tubuhku.”

Akhirnya pohon yang ketiga berkata, “Aku ingin menjadi pohon yang tertinggi dan terkuat di

hutan in i. Orang akan memandangku dar i at as puncak bukit dan dapat melihat carang-carang-ku.

Kalau orang berpikir tentang surga dan Allah betapa dekatnya jangkauanku ke sana. Aku akan

menjadi pohon yang terbesar di sepa njang waktu dan orang akan meng ingatku senantiasa.”

Read More…

Posted by: yohanes tantama | February 13, 2009

St. Paulus Miki dan Para Martir Nagasaki

Nagasaki, Jepang
5 Februari 1597

Mari kita berkenalan dengan tokoh-tokoh utama dalam drama penyaliban ini.
Tokoh yang menjatuhkan hukuman mati kepada ke-26 martir tersebut ialah
Toyotomi
Hideyoshi, yang lebih dikenal dengan nama Taikosama, seorang penguasa Jepang
yang tinggal di Benteng Osaka. Pelaksana hukuman mati ialah Terazawa
Hazaburo,
saudara Gubernur Nagasaki. Sebagai tokoh utama adalah ke-26 martir yang
dijatuhi hukuman mati. Ikut serta mengiringi mereka ialah para misionaris
Yesuit
dari Nagasaki, para pelaut Spanyol, para pedagang dari Macao, para prajurit
serta para algojo.

Terazawa dan kerumunan orang banyak sudah menunggu ke-26 orang yang dijatuhi
hukuman mati tersebut di Bukit Nishizaka -sekarang lebih dikenal dengan
sebutan
Bukit Kudus atau Bukit Para Martir. Suatu tugas yang amat berat bagi
Terazawa. Seorang dari para tawanan, Paulus Miki, adalah sahabat karibnya;
ia sering
mendengarkan khotbahnya. Para tawanan itu tidak melakukan kejahatan apapun
dan Terazawa tahu itu. Oleh karenanya, Terazawa memperkenankan sedikit
kelonggaran,
misalnya mengijinkan dua orang imam Yesuit – Rm. Pasio dan Rm. Rodriguez –
untuk mendampingi para martir menjelang ajal mereka.

Jam setengah sebelas rombongan para martir tiba. Di barisan depan tampak
para pengawal membuka jalan melalui khalayak ramai yang telah menunggu.
Dibelakang
mereka, berjalan para martir. Mereka tampak amat letih. Tenaga mereka telah
terkuras habis oleh tiga puluh hari perjalanan yang meletihkan dari Urakami
ke Nagasaki 600 mil (±966 km). Tangan mereka terikat erat, kaki mereka, yang
bersusah-payah berjalan di atas timbunan salju, meninggalkan tetesan-tetesan
darah di sepanjang jalan. Daun telinga kiri mereka telah dipotong sebulan
yang lalu sebelum mereka meninggalkan Kyoto. Badan mereka memar dan penuh
luka
karena sepanjang perjalanan mereka disiksa dan dengan demikian dijadikan
contoh pelajaran bagi warga lainnya. Sungguh suatu Jalan Salib yang amat
berat
dan panjang.

Ketika rombongan martir tiba di atas bukit, 26 kayu salib sudah siap
tergeletak di tanah menanti mereka. Panjangnya rata-rata lebih dari dua
meter, dua
balok yang saling menyilang dengan sebuah pasak dimana para korban dapat
duduk mengangkang. (lihat Apakah Hukuman Mati di Hadapan Umum Dapat
Dibenarkan?)

Rm. Ganzalo, yang pertama tiba, langsung menghampiri salah satu salib
tersebut: “Inikah untukku?” tanyanya. Ia berlutut dan memeluk salibnya. Para
martir
yang lain ikut melakukan hal yang sama. Kemudian, satu per satu, para martir
diikatkan pada kayu salib. Tidak ada paku. Kaki dan tangan serta leher
mereka
dibelenggu pada tiang salib dengan gelang besi. Sebuah tali diikatkan
melingkar pada pinggang mereka agar mereka terikat erat pada salib. Bagi Rm
Petrus
Bautista, gelang besi tidak cukup kuat. “Paku saja, saudaraku,” pintanya
kepada seorang algojo sembari merentangkan tangannya.

Ternyata cukup sulit mengikatkan Paulus Miki pada kayu salib. Calon imam
Jepang itu terlalu pendek dan kakinya tidak mencapai gelang besi. Seorang
algojo
mengikatkan tubuh Paulus Miki pada salib dengan lilitan kain linen. Ketika
algojo menginjak-injak tubuhnya untuk mempererat lilitan kain, seorang
misionaris
tidak dapat menahan diri. “Biarkan ia melakukan tugasnya, Romo,” kata Paulus
Miki, “percayalah, tidak terlalu sakit.”

Ketika semua martir telah terikat pada kayu salib, keduapuluh enam salib
tersebut secara serempak diberdirikan dan dengan sebuah hentakan keras
salib-salib
tersebut ditancapkan ke tanah. Para martir merasakan sakit yang amat hebat
di sekujur tubuh mereka akibat hentakan tersebut. Kemudian para martir
bersatu
dalam suatu paduan suara puji-pujian dimana doa, harapan, iman dan
kemenangan yang telah menanti bercampur menjadi satu. Read More…

Posted by: yohanes tantama | February 12, 2009

Jadwal Retret Pertapaan Karmel – Tumpang, Malang

Jadwal Retret Pertapaan Karmel – Tumpang, Malang

Januari 2009

13-15 : Hari Doa Komunitas (tdk menerima tamu)

22-25 : Retret Penyembuhan Batin

Pebruari

12-15 : Retret Mengenal Kehendak Allah

26-1 maret : Retret Awal

Maret

12-15 : Retret Mengatasi Kelemahan

17-19 : Hari Doa Komunitas

26-29 : Retret Pohon Keluarga

April

9 – 12 : Paket Paskah

23-16 : Retret Tujuh Karunia Roh Kudus

Mei

1-3 : Retret Komunitas Tritunggal Maha Kudus

7-10 : Retret Awal

12-14 : Hari Doa Komunitas

29-31 : Retret Roh Kudus Sahabat Yang Paling Agung

31 : Pantekosta

Juni :

4-7 : Retret Penyembuhan Batin

15-21 : Camping Siswa Read More…

Posted by: yohanes tantama | February 11, 2009

OBAT PALING MURAH

TERTAWA
Sekali tertawa, pusing kepala hilang.
Dua kali tertawa, bencipun sirna.
Tiga kali tertawa, persoalan lari.
Empat kali tertawa, penyakit sembuh.
Lima kali tertawa, jadi awet muda.
Enam kali tertawa, hati penuh sukacita.
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” Filipi 4:4

SENYUM
Sekali senyum, curiga hilang.
Dua kali senyum, jadi sahabat.
Tiga kali senyum, hati penuh damai.
Empat kali senyum, beban jadi ringan.
Lima kali senyum, rezeki datang.
Enam kali senyum, keluarga rukun.
“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada
kesukaran” Amsal 21:23

HATI
Hati yang gembira, adalah obat yang manjur.
Hati yang keras, menemui jalan buntu.
Hati yang lembut, mendatangkan sahabat.
Hati yang loba, menciptakan perangkap.
Hati yang bersih, menjauhkan masalah.
Hati yang licik, mendatangkan musuh.
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah
terpancar kehidupan” Amsal 4:23 Read More…

Posted by: yohanes tantama | January 24, 2009

Bersyukurlah dalam segala hal

Fwd: SUATU SAAT DALAM TAXI

Selamat Membaca, Tuhan memberkati “Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah semuanya seperti kita melakukan untuk Tuhan”.

Hari-hari terakhir pekerjaan kantor sangat melelahkan. Tidak ada waktu untuk ‘memanjakan’ diri sendiri. Bahkan saat akan beristirahat pun, segala masalah dan tugas dalam pekerjaan selalu menghantui pikiran. Terus terang saya sudah malas dengan segala keinginan boss-ku. Nyaris setiap hari aku pulang larut malam. Pergi pagi pulang malam. Dari Senin sampai Sabtu. Dan segala pekerjaanku tidak pernah di hargai olehnya. Jadi aku pikir “masa bodoh dengan segala pekerjaan kantor. Aku sudah cape. Terserah deh, nanti jadinya apa. Gua kaga peduli”.

Jadi Sabtu kemarin aku habiskan waktu dengan tidur seharian. Membaca buku, menonton televisi, dengar kaset. Laptop yang tegeletak di atas meja tidak aku sentuh sedikit pun. “Masa bodoh” pikirku. Sendok suapan terakhir telah masuk ke dalam perut. Wah, kenyang juga. Kubenahi segala dokumen yang di butuhkan dan segera keluar kantor mencari taxi. Sudah 5 menit aku menunggu, akhirnya taxi yang kutunggu datang juga. “Daerah kota pak,” seruku pada supir taxi. “Kotanya di mana pak?”, dia menimpali. “Wah, namanya apa yah?” aku sendiri tidak begitu ingat. “Nanti saya tunjukkan jalannya kalau sudah sampai di sana ” “Baik Pak”. Suasana hening. Tidak beberapa lama pak supir berkata, “Tadi orang yang pakai taxi ini sebelum Bapak, naik dari Taman Anggrek”. Dekat amat pikirku. Kantorku ada di daerah Citraland. “Kok mau sih pak?” ucapku. “Wah tidak baik menolak rejeki. Kalau Tuhan sudah kasih berkat, masa kita tolak”, ujarnya dengan logat batak yang masih terasa. “Kalo supir lain sih pasti nolak. Kalau saya, ngak masalah, dekat atau jauh toh berkat dari Tuhan.” “Wah, berfilsafat dia.”, pikirku. “Tapi sebenarnya untung juga sih kalau nariknya deket. Tadi saja saya di kasih uang 10.000. padahal argonya ngak sampe 5 rebu. Saya senang juga. Tapi sebenernya saya ngak tega kalo mesti nolak. Dia kan pasti mau buru-buru. Bagaimana rasanya, sesudah duduk, eh malah saya tolak. Sakit hati kan “. “Iya juga yah”, pikirku. Suasana hening kembali. Kuperhatikan wajahnya dari kaca mobil. Keliahatannya ceria, tidak seperti sopir-sopir taxi yang lain. Yang rata-rata wajahnya cemberut. “Bapak sudah lama jadi sopir taxi”, tanyaku memecah keheningan. “Baru empat tahun Pak.” “Sebelumnya kerja di mana?” “Dulu saya kerja di perhotelan.” “Kerja di bagian apa Pak?” “Manager operasional” Hah? Tidak salah dengar ? Manager ? Read More…

Posted by: yohanes tantama | January 11, 2009

Kisah Persahabatan Yang Menyingkirkan segala Perbedaan

Oleh: Esther Ueberall

DESEMBER 1902
Hari ini hari Jumat, hari pertama kami membuka usaha kami.

Dengan berseri-seri, saya (17 tahun, pengantin baru) berdiri di sebelah suami saya Solomon, di dalam toko kami yang bernama UEBERALL 3 – 9 – 19 Sen. Terletak di Brooklyn, Amerika Serikat, toko ini menjual barang-barang dengan harga pas, senilai 3, 9 atau 19 sen.

Tamu pertama kami melangkah masuk. Beliau seorang Pastor Katolik muda usia, dari sebuah Gereja (Katolik) kecil, namanya Pastor Caruana. Beliau berbelanja sedikit, dan mukanya gelap, semuram warna jubahnya. “Mengapa sedih Bapa?” suami saya bertanya – Pastor Katolik biasa disapa dengan sebutan Father/Bapa – Solomon tergolong orang yang sangat mudah “jatuh hati”.

Pastor tersebut berbicara pelan, seolah menerawang menjawab, “Gereja kami harus ditutup….” “Mengapa?” bagi suami saya, agama adalah penyembahan dari menit ke menit. Kami menjalankan semua ritual agama kami, Keluarga Ueberall, sebagaimana sebagian besar orang-orang Yahudi, beragama Yahudi.

Mereka menyembah Allah Yehovah yaitu Allah Abraham, Ishak & Yakub, dan mematuhi hukum Taurat Musa. Mereka bukan beragama Kristen Katolik. Bukan demi ritus itu semata mata, namun kepatuhan kami kepada Allah.

Pastor tersebut menjelaskan bahwa Beliau membutuhkan $500, untuk Senin mendatang. Jemaatnya miskin, dan tidak mungkin memenuhi tuntutan $500 itu. Gereja pusatnya tidak dapat membantu, dan rasanya tidak ada jalan keluar. Read More…

Posted by: yohanes tantama | January 8, 2009

The Beauty of love

Ditengah arus mode banyaknya perceraian yang beritanya membombardir kita lewat Televisi maupun Koran, ada baiknya kita melihat pasangan ini,

1_26732

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers