Posted by: yohanes tantama | April 10, 2009

Seminar pertumbuhan Roh

akan diadakan seminar pertumbuhan Roh di bulan April ini di Surabaya!!!!

Posted by: yohanes tantama | April 10, 2009

Jalan Salib

VIA DOLOROSA

Via Dolorosa adalah jalan yang ditempuh Yesus ketika Ia pergi ke kayu salib. Ungkapan “Via Dolorosa” adalah bahasa latin yang berarti “Way of Grief” atau “Way of Suffering”, yaitu Jalan Penderitaan. Hal ini hanya menunjukkan bahwa sebagai orang-orang yang percaya kita harus menderita bersama Kristus menanggung kayu salib seperti yang Tuhan katakan dalam kitab Matius 10:38-39 demikian:

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya [hidupnya], ia akan kehilangan nyawanya [hidupnya], dan barangsiapa kehilangan nyawanya [hidupnya] karena Aku, ia akan memperolehnya.”

Dan ayat-ayat sebelumnya ayat 34-37 menjelaskan demikian:

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”

Sama seperti yang terjadi pada masa Yesus dan masa-masa sebelumnya musuh utama dari Injil akan datang dari gereja itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa musuh utama dari orang-orang percaya yang setia kepada Tuhan bukanlah orang-orang dunia ini, tetapi musuh utama mereka adalah gereja-gereja yang tersesat yang mengikuti injil-injil palsu dan berusaha keras untuk membungkam (membunuh) kebenaran Firman Tuhan.

Dalam kitab Matius 23:34 Yesus berkata demikian:

“Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota”

Dan kitab 1 Yohanes 2:18-20 menasihatkan demikian:

“Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita. Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.”

Bahkan kitab Yohanes 16:2 menyatakan berfirman:

“Kamu akan dikucilkan [diusir], bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh [membungkam] kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.”

Ini adalah masa siksaan rohani yang sangat dahsyat. Tetapi ingatlah apa yang terjadi di akhir zaman adalah sama seperti yang terjadi pada zaman nabi-nabi dahulu, tetapi dalam segala kemungkinannya yang terjadi pada mereka jauh lebih parah dan menyusahkan daripada yang dapat terjadi pada zaman modern sekarang ini.

Dan keadaannya selalu sama, ketika kebenaran yang sejati muncul pihak yang paling menentang justru adalah pemimpin-pemimpin rohani yang sedang berkuasa. Di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama seperti Yesaya, Yeremia, Yoel, Amos, Nahum, Hosea, Micah, Habakuk, Zakaria, dll. banyak membicarakan tentang kejatuhan dari organisasi gereja-gereja ini. Saya sarankan untuk membaca kitab-kitab tersebut karena itu adalah “surat kabar” untuk hari kita sekarang ini.

Alkitab menggunakan nama-nama seperti Edom, Esau, Seir, Bozra, Tirus, Sidon, Babel, Yerusalem (external), Mesir, Sodom, Amon, Moab, dll. untuk menunjuk kepada organisasi gereja-gereja Perjanjian Baru yang tersesat di akhir zaman tepat menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali.

Dalam kitab Yohanes 16:33 Tuhan Yesus berpesan demikian:

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

“That which hath been is now; and that which is to be hath already been; and God requireth that which is past.” (Ecclesiastes 3:15)

May the grace of the Lord Jesus Christ be with your spirit.

Facebook :

http://www.facebook.com/p.php?i=1516908383&k=4ZCY34Q6UYVM5FBDRC2YSP&r

Posted by: yohanes tantama | April 10, 2009

“PASKAH TRIDUUM ADALAH ‘PUNCAK TUMPUAN’ LITURGI TAHUN INI”

PAUS BENEDICT XVI : “PASKAH TRIDUUM ADALAH ‘PUNCAK TUMPUAN’ LITURGI TAHUN INI”.

KOTA VATICAN, 08 April 2009 PB XVI merefleksikan Paskah Triduum/tigahari-suci\ kepada khalayak umum hari ini adalah sebagai “Puncak Tumpuan” yang berkenaan dengan seluruh peribadatan tahun ini. Minggu Suci kata PAUS, “Kami menawarkan suatu KESEMPATAN yang dahsyat untuk ikut membenamkan diri ditengah-tengah ‘ACARA PENEBUSAN’ untuk mengenang kembali “MISTERI PASKAH” , MISTERI IMAN YANG PALING AKBAR ! Sungguh AJAIB, pada saat yang sama dan LUAR BIASA, kenyataan ini merupakan suatu MISTERI, dimana kita nyaris tidak pernah memikirkannya.

MESKIPUN Yesus memiliki HAK PREROGATIF ILAHI YANG EKSLUSIF /LAIN DARI YANG LAIN\, BELIAU tidak ingin menggunakan KEILAHIAN-Nya sebagai TUHAN YANG BERMARTABAT DAN BERKUASA sebagai instrument atau tanda kemenangan bagi manusia, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Read More…

Posted by: yohanes tantama | March 26, 2009

Kisah Pohon Apel

Si Pohon Apel Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali.. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua… Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Salam Regard, Linda

Trims untuk eveline yang mengirimkan email ini

Posted by: yohanes tantama | March 21, 2009

Kuncinya adalah Kasih Sayang

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke  rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 > orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita  itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku >tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang  baik-baik yang sedang lapar.. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk >mengganjal perut”.  Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah  suamimu sudah pulang?” Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”.  “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan  menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. > > Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia > berkata pada istrinya,  “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka > semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”. Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”  ,kata pria itu hampir bersamaan.  “Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.  Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria  berjanggut > disebelahnya,  “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang.  Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk kerumahmu.”

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.  Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.” Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya,”sayangku, kenapa kita tak mengundang si  Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.”  Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun  ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.  “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si  Kasih-sayang yang masuk ke dalam? > > Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan  Kasih-sayang. ”  Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka.  “Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam  kita.”

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? > > Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam  ini.” Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut  serta.  Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si > Kekayaan dan si Kesuksesan. “Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?” Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau > Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang  lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang  si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami  akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka  kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan  hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang  lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat  kami menjalani hidup ini.”

Posted by: yohanes tantama | March 9, 2009

Bersama Yesus

untitled1

Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah.
Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar t emp at, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah.
Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya.
Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu tak berlangsung lama.

Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan.
Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan.
Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya!
Terkadang rasanya seperti sesuatu yang ‘gila’, tetapi Ia berkata, “Ayo, kayuh terus pedalnya!”

Kadang Aku takut, khawatir dan bertanya, “Aku mau dibawa ke mana?”
Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya.
Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan.
Dan ketika aku berkata, “AKU TAKUT !” Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan …
orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan … perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian, Yesus berkata, “Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya;
Jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita.”
Maka, aku pun melakukannya.
Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka.
Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin m emp ercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya.
Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda.
Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk m emp ercepat melewati t emp at-t emp at yang menakutkan.
Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh … menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan,
Yesus akan tersenyum dan berkata …
“Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.”


sumber : Thoughts for the day, 19 Feb 2003 by Chuck Ebbs


Posted by: yohanes tantama | March 9, 2009

Belajar Berkata Cukup dan Bersyukur

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup. Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”.

Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup? Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia. Belajarlah untuk berkata “Cukup”

Sesungguhnya tubuh kita adalah hal yang berharga Tak peduli apapun warnanya, apapun ukurannya, apapun bentuknya… Syukurilah itu kawan…

Karena di luar sana masih banyak yang mengharapkan mendapat fisik yang lengkap… Kau lah ciptaan Tuhan yang terbaik…

Kau yang tampan Kau yang cantik Syukurilah itu..walaupun itu hanya sementara… Kawan dengarlah… jutaan orang di luar sana .. Berharap bisa melihat… Berharap bisa mendengar… dan berharap bisa berbicara… . Seperti kita…. Kau tak pernah mengerti.. Dan tak kan pernah mengerti…

Sadarlah kawan… Bahwa sesungguhnya kau tidak kekurangan.. ..

Posted by: yohanes tantama | March 9, 2009

Komunitas Dialogis Umat Beriman Demi Kesejahteraan Umum

Tema diatas adalah tema APP 2009 di Keuskupan Surabaya. Berikut cuplikan pengantar dari Rm. A. Luluk Widyawan (di Tabloid Jubileum)

Kita tahu, agama secara inheren sarat dengan nilai nilai luhur keselamatan manusia. Agama menempatkan dirinya sebagai pewarta kabar gembira keselamatan. Dalam konteks Indonesia, ketidaksejahteraan masyarakat yang berarti kemiskinan ekonomi, pengangguran, masalah pendidikan dan kesehatan, yang menimpa, merupakan tantangan yang harus diatasi dengan keberpihakan semua pihak.

Banyak saudara kita hidup dalam kemiskinan, belum tercukupi hak hak dasarnya. Mereka ingin membebaskan diri dengan kekuatan sendiri, tetapi tidak berdaya. Menghadapi situasi seperti ini, agama agama diharapkan terpanggil dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi mereka lahir, tumbuh dan berkembang di masyarakat. Bersama umat beragama lain, Gereja sebagai komunitas beriman dipanggil hadir melakukan aktualisasi diri melalui aneka kegiatan sosial dimayarakat. Karena lembaga keagamaan memiliki peranstrategis untuk perpartisipasi dalam mewujudkan kesejahteraan umum.

Agama yang hanya puas pada ritual, berhenti pada formalisme agama yang mandul dari praktek sosial, tidak akan mampu mengatasi masalah kemanusiaan ini. Gereja sebagai lembaga agama senantiasa ditagih untuk melakukan revitalisasi doktrin dengan bahasa kemanusiaan yang lebih relevan sekaligus menjadi motivator dalam mewujudkan kesejahteraan umum. Gereja ditantang menyelesaikan aneka urusan yang lebih nyata.

Pada saat bersamaan semua agama harus bersatu, bekerja sama memerangi kemiskinan dari pada memperbesar perbedaan ritual dan memicu konflik sosial. Bahkan sudah waktunya Gereja bergandengan tangan bersama semua agama di Indonesia meredifinisikan diri sebagai kekuatan perubahan bagi umatnya dengan mengobarkan etos kerja keras, hemat, gotong royong, peduli, bela rasa, rela berkorban, sebagai panggilan Tuhan untuk dalam menghadirkan keselamatan secara nyata

Dst.

” Iman yang matang dalam diri menuntut pertumbuhan dan keberanian melakukan dialog, saling menghargai antar sesama”, Yohanes

Posted by: yohanes tantama | February 24, 2009

Padua Sragen

Salam kenal Bp. Yohanes, kami adalah komunitas peziarah dgn berkendara motor. kami berasal dari kota kecil Sragen. web ini sangat membantu kami. Silahkan kunjungi web kami : www.paduabikers.blogdetik.com, saran dan kritikan akan sangat kami harapkan. Nuwun. Berkah Dalem.

Tiburtius

Posted by: yohanes tantama | February 24, 2009

Paroki Baturaja

Saya kelahiran Baturaja dan memang benar bahwa di Baturaja ada tempat ziarah Gua Maris di Tegal Arum dan ini masuk dalam paroki santo Petrus Dan Paulus , kini sudah hadir websitenya di http://www.parokibaturaja.com , disana juga bisa download program pendataan umat secara gratisss untuk semua paroki yang membutuhkan.

Dedi Trianto

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers