Posted by: yohanes tantama | March 9, 2009

Belajar Berkata Cukup dan Bersyukur

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup. Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”.

Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup? Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia. Belajarlah untuk berkata “Cukup”

Sesungguhnya tubuh kita adalah hal yang berharga Tak peduli apapun warnanya, apapun ukurannya, apapun bentuknya… Syukurilah itu kawan…

Karena di luar sana masih banyak yang mengharapkan mendapat fisik yang lengkap… Kau lah ciptaan Tuhan yang terbaik…

Kau yang tampan Kau yang cantik Syukurilah itu..walaupun itu hanya sementara… Kawan dengarlah… jutaan orang di luar sana .. Berharap bisa melihat… Berharap bisa mendengar… dan berharap bisa berbicara… . Seperti kita…. Kau tak pernah mengerti.. Dan tak kan pernah mengerti…

Sadarlah kawan… Bahwa sesungguhnya kau tidak kekurangan.. ..

Posted by: yohanes tantama | March 9, 2009

Komunitas Dialogis Umat Beriman Demi Kesejahteraan Umum

Tema diatas adalah tema APP 2009 di Keuskupan Surabaya. Berikut cuplikan pengantar dari Rm. A. Luluk Widyawan (di Tabloid Jubileum)

Kita tahu, agama secara inheren sarat dengan nilai nilai luhur keselamatan manusia. Agama menempatkan dirinya sebagai pewarta kabar gembira keselamatan. Dalam konteks Indonesia, ketidaksejahteraan masyarakat yang berarti kemiskinan ekonomi, pengangguran, masalah pendidikan dan kesehatan, yang menimpa, merupakan tantangan yang harus diatasi dengan keberpihakan semua pihak.

Banyak saudara kita hidup dalam kemiskinan, belum tercukupi hak hak dasarnya. Mereka ingin membebaskan diri dengan kekuatan sendiri, tetapi tidak berdaya. Menghadapi situasi seperti ini, agama agama diharapkan terpanggil dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi mereka lahir, tumbuh dan berkembang di masyarakat. Bersama umat beragama lain, Gereja sebagai komunitas beriman dipanggil hadir melakukan aktualisasi diri melalui aneka kegiatan sosial dimayarakat. Karena lembaga keagamaan memiliki peranstrategis untuk perpartisipasi dalam mewujudkan kesejahteraan umum.

Agama yang hanya puas pada ritual, berhenti pada formalisme agama yang mandul dari praktek sosial, tidak akan mampu mengatasi masalah kemanusiaan ini. Gereja sebagai lembaga agama senantiasa ditagih untuk melakukan revitalisasi doktrin dengan bahasa kemanusiaan yang lebih relevan sekaligus menjadi motivator dalam mewujudkan kesejahteraan umum. Gereja ditantang menyelesaikan aneka urusan yang lebih nyata.

Pada saat bersamaan semua agama harus bersatu, bekerja sama memerangi kemiskinan dari pada memperbesar perbedaan ritual dan memicu konflik sosial. Bahkan sudah waktunya Gereja bergandengan tangan bersama semua agama di Indonesia meredifinisikan diri sebagai kekuatan perubahan bagi umatnya dengan mengobarkan etos kerja keras, hemat, gotong royong, peduli, bela rasa, rela berkorban, sebagai panggilan Tuhan untuk dalam menghadirkan keselamatan secara nyata

Dst.

” Iman yang matang dalam diri menuntut pertumbuhan dan keberanian melakukan dialog, saling menghargai antar sesama”, Yohanes

Posted by: yohanes tantama | February 24, 2009

Padua Sragen

Salam kenal Bp. Yohanes, kami adalah komunitas peziarah dgn berkendara motor. kami berasal dari kota kecil Sragen. web ini sangat membantu kami. Silahkan kunjungi web kami : www.paduabikers.blogdetik.com, saran dan kritikan akan sangat kami harapkan. Nuwun. Berkah Dalem.

Tiburtius

Posted by: yohanes tantama | February 24, 2009

Paroki Baturaja

Saya kelahiran Baturaja dan memang benar bahwa di Baturaja ada tempat ziarah Gua Maris di Tegal Arum dan ini masuk dalam paroki santo Petrus Dan Paulus , kini sudah hadir websitenya di http://www.parokibaturaja.com , disana juga bisa download program pendataan umat secara gratisss untuk semua paroki yang membutuhkan.

Dedi Trianto

Posted by: yohanes tantama | February 16, 2009

Peta Pertapaan Karmel Tumpang – Ngadireso

Untuk rekan rekan yang mencari peta untuk menuju Pertapaan Karmel Tumpang – Ngadireso (Malang) :

peta-tumpang

Posted by: yohanes tantama | February 13, 2009

Kisah 3 Batang Pohon

Yohanes 1:38 Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?

Tuhan menanyakan kepada kita, apa alasan kita menjadi Kristen dan jangan kita menyerah pada harapan dan cita cita yang telah kita buat itu (selama sesuai dengan kehendak Tuhan). Dari cerita dibawah ini kita akan banyak belajar:

Suatu kali peristiwa ada tiga pohon diatas sebuah bukit dalam sebuah hutan. Mereka sedang

ber bincang- bincang tentang harapan- harapan dan mimpi-mimpi mereka .

Pohon yang pertama berkata, “Suatu hari nant i aku berharap bisa menjadi sebuah kotak tempat

penyimpanan harta. Aku bisa diisikan emas, perak dan batu-batu per mata berharga. Aku bisa

dihiasi dengan ukiran-ukiran yang rumit dan setiap orang akan melihat kecantikanku.”

Kemudian pohon yang kedua berkata, “Suatu hari na nt i aku akan menjadi kapal yang besar. Aku

akan membawa para raja dan ratu mengar ungi laut an sampai ke ujung-ujung bumi. Setiap orang

akan merasa aman dalamku karena kekuatan dari tubuhku.”

Akhirnya pohon yang ketiga berkata, “Aku ingin menjadi pohon yang tertinggi dan terkuat di

hutan in i. Orang akan memandangku dar i at as puncak bukit dan dapat melihat carang-carang-ku.

Kalau orang berpikir tentang surga dan Allah betapa dekatnya jangkauanku ke sana. Aku akan

menjadi pohon yang terbesar di sepa njang waktu dan orang akan meng ingatku senantiasa.”

Read More…

Posted by: yohanes tantama | February 13, 2009

St. Paulus Miki dan Para Martir Nagasaki

Nagasaki, Jepang
5 Februari 1597

Mari kita berkenalan dengan tokoh-tokoh utama dalam drama penyaliban ini.
Tokoh yang menjatuhkan hukuman mati kepada ke-26 martir tersebut ialah
Toyotomi
Hideyoshi, yang lebih dikenal dengan nama Taikosama, seorang penguasa Jepang
yang tinggal di Benteng Osaka. Pelaksana hukuman mati ialah Terazawa
Hazaburo,
saudara Gubernur Nagasaki. Sebagai tokoh utama adalah ke-26 martir yang
dijatuhi hukuman mati. Ikut serta mengiringi mereka ialah para misionaris
Yesuit
dari Nagasaki, para pelaut Spanyol, para pedagang dari Macao, para prajurit
serta para algojo.

Terazawa dan kerumunan orang banyak sudah menunggu ke-26 orang yang dijatuhi
hukuman mati tersebut di Bukit Nishizaka -sekarang lebih dikenal dengan
sebutan
Bukit Kudus atau Bukit Para Martir. Suatu tugas yang amat berat bagi
Terazawa. Seorang dari para tawanan, Paulus Miki, adalah sahabat karibnya;
ia sering
mendengarkan khotbahnya. Para tawanan itu tidak melakukan kejahatan apapun
dan Terazawa tahu itu. Oleh karenanya, Terazawa memperkenankan sedikit
kelonggaran,
misalnya mengijinkan dua orang imam Yesuit – Rm. Pasio dan Rm. Rodriguez –
untuk mendampingi para martir menjelang ajal mereka.

Jam setengah sebelas rombongan para martir tiba. Di barisan depan tampak
para pengawal membuka jalan melalui khalayak ramai yang telah menunggu.
Dibelakang
mereka, berjalan para martir. Mereka tampak amat letih. Tenaga mereka telah
terkuras habis oleh tiga puluh hari perjalanan yang meletihkan dari Urakami
ke Nagasaki 600 mil (±966 km). Tangan mereka terikat erat, kaki mereka, yang
bersusah-payah berjalan di atas timbunan salju, meninggalkan tetesan-tetesan
darah di sepanjang jalan. Daun telinga kiri mereka telah dipotong sebulan
yang lalu sebelum mereka meninggalkan Kyoto. Badan mereka memar dan penuh
luka
karena sepanjang perjalanan mereka disiksa dan dengan demikian dijadikan
contoh pelajaran bagi warga lainnya. Sungguh suatu Jalan Salib yang amat
berat
dan panjang.

Ketika rombongan martir tiba di atas bukit, 26 kayu salib sudah siap
tergeletak di tanah menanti mereka. Panjangnya rata-rata lebih dari dua
meter, dua
balok yang saling menyilang dengan sebuah pasak dimana para korban dapat
duduk mengangkang. (lihat Apakah Hukuman Mati di Hadapan Umum Dapat
Dibenarkan?)

Rm. Ganzalo, yang pertama tiba, langsung menghampiri salah satu salib
tersebut: “Inikah untukku?” tanyanya. Ia berlutut dan memeluk salibnya. Para
martir
yang lain ikut melakukan hal yang sama. Kemudian, satu per satu, para martir
diikatkan pada kayu salib. Tidak ada paku. Kaki dan tangan serta leher
mereka
dibelenggu pada tiang salib dengan gelang besi. Sebuah tali diikatkan
melingkar pada pinggang mereka agar mereka terikat erat pada salib. Bagi Rm
Petrus
Bautista, gelang besi tidak cukup kuat. “Paku saja, saudaraku,” pintanya
kepada seorang algojo sembari merentangkan tangannya.

Ternyata cukup sulit mengikatkan Paulus Miki pada kayu salib. Calon imam
Jepang itu terlalu pendek dan kakinya tidak mencapai gelang besi. Seorang
algojo
mengikatkan tubuh Paulus Miki pada salib dengan lilitan kain linen. Ketika
algojo menginjak-injak tubuhnya untuk mempererat lilitan kain, seorang
misionaris
tidak dapat menahan diri. “Biarkan ia melakukan tugasnya, Romo,” kata Paulus
Miki, “percayalah, tidak terlalu sakit.”

Ketika semua martir telah terikat pada kayu salib, keduapuluh enam salib
tersebut secara serempak diberdirikan dan dengan sebuah hentakan keras
salib-salib
tersebut ditancapkan ke tanah. Para martir merasakan sakit yang amat hebat
di sekujur tubuh mereka akibat hentakan tersebut. Kemudian para martir
bersatu
dalam suatu paduan suara puji-pujian dimana doa, harapan, iman dan
kemenangan yang telah menanti bercampur menjadi satu. Read More…

Posted by: yohanes tantama | February 12, 2009

Jadwal Retret Pertapaan Karmel – Tumpang, Malang

Jadwal Retret Pertapaan Karmel – Tumpang, Malang

Januari 2009

13-15 : Hari Doa Komunitas (tdk menerima tamu)

22-25 : Retret Penyembuhan Batin

Pebruari

12-15 : Retret Mengenal Kehendak Allah

26-1 maret : Retret Awal

Maret

12-15 : Retret Mengatasi Kelemahan

17-19 : Hari Doa Komunitas

26-29 : Retret Pohon Keluarga

April

9 – 12 : Paket Paskah

23-16 : Retret Tujuh Karunia Roh Kudus

Mei

1-3 : Retret Komunitas Tritunggal Maha Kudus

7-10 : Retret Awal

12-14 : Hari Doa Komunitas

29-31 : Retret Roh Kudus Sahabat Yang Paling Agung

31 : Pantekosta

Juni :

4-7 : Retret Penyembuhan Batin

15-21 : Camping Siswa Read More…

Posted by: yohanes tantama | February 11, 2009

OBAT PALING MURAH

TERTAWA
Sekali tertawa, pusing kepala hilang.
Dua kali tertawa, bencipun sirna.
Tiga kali tertawa, persoalan lari.
Empat kali tertawa, penyakit sembuh.
Lima kali tertawa, jadi awet muda.
Enam kali tertawa, hati penuh sukacita.
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” Filipi 4:4

SENYUM
Sekali senyum, curiga hilang.
Dua kali senyum, jadi sahabat.
Tiga kali senyum, hati penuh damai.
Empat kali senyum, beban jadi ringan.
Lima kali senyum, rezeki datang.
Enam kali senyum, keluarga rukun.
“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada
kesukaran” Amsal 21:23

HATI
Hati yang gembira, adalah obat yang manjur.
Hati yang keras, menemui jalan buntu.
Hati yang lembut, mendatangkan sahabat.
Hati yang loba, menciptakan perangkap.
Hati yang bersih, menjauhkan masalah.
Hati yang licik, mendatangkan musuh.
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah
terpancar kehidupan” Amsal 4:23 Read More…

Posted by: yohanes tantama | January 24, 2009

Bersyukurlah dalam segala hal

Fwd: SUATU SAAT DALAM TAXI

Selamat Membaca, Tuhan memberkati “Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah semuanya seperti kita melakukan untuk Tuhan”.

Hari-hari terakhir pekerjaan kantor sangat melelahkan. Tidak ada waktu untuk ‘memanjakan’ diri sendiri. Bahkan saat akan beristirahat pun, segala masalah dan tugas dalam pekerjaan selalu menghantui pikiran. Terus terang saya sudah malas dengan segala keinginan boss-ku. Nyaris setiap hari aku pulang larut malam. Pergi pagi pulang malam. Dari Senin sampai Sabtu. Dan segala pekerjaanku tidak pernah di hargai olehnya. Jadi aku pikir “masa bodoh dengan segala pekerjaan kantor. Aku sudah cape. Terserah deh, nanti jadinya apa. Gua kaga peduli”.

Jadi Sabtu kemarin aku habiskan waktu dengan tidur seharian. Membaca buku, menonton televisi, dengar kaset. Laptop yang tegeletak di atas meja tidak aku sentuh sedikit pun. “Masa bodoh” pikirku. Sendok suapan terakhir telah masuk ke dalam perut. Wah, kenyang juga. Kubenahi segala dokumen yang di butuhkan dan segera keluar kantor mencari taxi. Sudah 5 menit aku menunggu, akhirnya taxi yang kutunggu datang juga. “Daerah kota pak,” seruku pada supir taxi. “Kotanya di mana pak?”, dia menimpali. “Wah, namanya apa yah?” aku sendiri tidak begitu ingat. “Nanti saya tunjukkan jalannya kalau sudah sampai di sana ” “Baik Pak”. Suasana hening. Tidak beberapa lama pak supir berkata, “Tadi orang yang pakai taxi ini sebelum Bapak, naik dari Taman Anggrek”. Dekat amat pikirku. Kantorku ada di daerah Citraland. “Kok mau sih pak?” ucapku. “Wah tidak baik menolak rejeki. Kalau Tuhan sudah kasih berkat, masa kita tolak”, ujarnya dengan logat batak yang masih terasa. “Kalo supir lain sih pasti nolak. Kalau saya, ngak masalah, dekat atau jauh toh berkat dari Tuhan.” “Wah, berfilsafat dia.”, pikirku. “Tapi sebenarnya untung juga sih kalau nariknya deket. Tadi saja saya di kasih uang 10.000. padahal argonya ngak sampe 5 rebu. Saya senang juga. Tapi sebenernya saya ngak tega kalo mesti nolak. Dia kan pasti mau buru-buru. Bagaimana rasanya, sesudah duduk, eh malah saya tolak. Sakit hati kan “. “Iya juga yah”, pikirku. Suasana hening kembali. Kuperhatikan wajahnya dari kaca mobil. Keliahatannya ceria, tidak seperti sopir-sopir taxi yang lain. Yang rata-rata wajahnya cemberut. “Bapak sudah lama jadi sopir taxi”, tanyaku memecah keheningan. “Baru empat tahun Pak.” “Sebelumnya kerja di mana?” “Dulu saya kerja di perhotelan.” “Kerja di bagian apa Pak?” “Manager operasional” Hah? Tidak salah dengar ? Manager ? Read More…

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers